Selasa, April 16, 2024
spot_img
spot_img

BERITA UNGGULAN

Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pendidikan Sekaligus Wartawan

- Advertisement -

SuaraPemerintah.ID-Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara merupakan seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di zaman penjajahan Belanda.

Ki Hajar Dewantara juga merupakan tokoh nasional sampai saat ini masih dikenang dan terus dibahas dalam beberapa mata pelajaran di sekolah-sekolah.

- Advertisement -

Ia lahir di Pakualaman pada tanggal 2 Mei 1889, dan meninggal di Jogjakarta, 26 April 1959, di umur 69 tahun. Sekarang, tanggal kelahiran beliau diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

Jenjang pendidikannya ia tamatkan di pendidikan dasar di ELS (Europeesche Lagere School) atau sekolah dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), yaitu sekolah pendidikan dokter di Batavia pada zaman kolonial Hindia Belanda, tetapi sayangnya tidak sampai tamat lantaran pada saat itu Ki Hajar Dewantara sakit.

- Advertisement -

Untuk perjalanan karirnya, Ki Hadjar Dewantara pernah bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, tidak hanya itu, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik di Indonesia, yaitu Boedi Oetomo dan Insulinde.

Tulisannya yang paling terkenal saat itu adalah, “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga.” Namun, kolom Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal adalah “Als ik een Nederlander was” diterjemahkan menjadi, “Seandainya Aku Seorang Belanda.”

- Advertisement -

Dedikasinya dalam bidang pendidikan dibuktikan dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa, pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik, agar mereka mencintai bangsa dan tanah airnya, serta berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Ia pun mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, sebagai wadah bagi orang pribumi, agar bisa menempuh pendidikan.

Selama bergerak dalam dunia pendidikan, dirinya memiliki semboyan-semboyan sangat terkenal dan dipakai hingga kini. Semboyan Taman Siswa yaitu “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Artinya “Di depan memberi contoh, Di tengah memberi semangat, Di belakang memberi dorongan” masih dipakai di dunia pendidikan Indonesia hingga sekarang.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,660PelangganBerlangganan

TERPOPULER

Terpopuler PRAHUM

Spesial Interview