Babukung, Festival Budaya dari Lamandau

Babukung, Festival Budaya dari Lamandau, untuk Indonesia.

Oleh David Kusuma

Topeng -topeng itu datang tidak tahu darimana.

Mereka datang dengan berbagai rupa,

Menari dan menghibur, keluarga yang berduka.

Agar sedih mereka tidak begitu terasa

Puisi diatas merupakan sedikit gambaran tentang Babukung. Artikel ini mencoba membahas sedikit tentang Dayak Tomun dan Babukung yang berhasil Penulis kumpulkan dari berbagai sumber.

  • Babukung dan Dayak Tomun

Indonesia negara dengan ragam budaya. Begitu banyak kekhasan dan eksotisme yang membuat Indonesia negara kita tercinta ini, menjadi favorit wisatawan lokal dan mancanegara. Potensi alam yang berlimpah tersebut kemudian disempurnakan dengan kekayaan budaya dan adat istiadat lokal. Menariknya, sektor budaya inilah yang diklaim sebagai salah satu daya tarik di mata wisatawan mancanegara. Salah satunya adalah Festival Babukung, festival tahunan yang digelar di Nanga Bulik, ibu kota Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah.

Mungkin ada teman -teman yang belum pernah mendengar tentang babukung, atau mungkin ada yang sudah pernah. Babukung merupakan ritual yang hanya dapat dihadirkan ketika ada orang yang meninggal dunia. Setelah melalui berbagai pemikiran,saat ini babukung dijadikan sebagai event budaya resmi dan di ambil sisi seni dan budayanya oleh Pemerintah Kabupaten Lamandau. Pemerintah Kabupaten Lamandau mendapatkan  izin dari warga masyarakat agar babukung bisa dilakukan sebagai pertunjukan seni. Sejak saat itu babukung menjadi seni adat budaya yang memajukan dan memperkenalkan babukung ke Indonesia dan dunia.Tradisi Babukung ternyata bukan hanya dilakukan di Lamandau, namun juga beberapa daerah di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Seperti  Katingan, Seruyan, Kotawaringin Timur, Gunung Mas, dan beberapa daerah di Kalimantan Barat seperti di Ketapang.

Berdasarkan sejarahnya, Dayak tomun berasal dari kerajaan pertama yang bernama kerajaan sarang paruya. Yang berawal di kinipan di sungai Batang Kawa. Memiliki seorang Raja yang bernama Santomang dan Permaisuri yang bernama Laminding. Sekitar 500 tahun lalu, saudagar dari Sumatera Barat singgah di perairan bagian selatan Kalimantan Tengah. Tujuan awal berdagang itu bergeser hingga kemudian menikahi gadis Dayak. Keturunan mereka pun dikenal kemudian sebagai Dayak Tomun, atau dikenal sebagai keturunan tiga kerajaan besar. Saudagar itu bukan sembarang orang atau sekadar pedagang. Ia adalah keturunan Raja Pagaruyung yang bergelar patih, namanya Malikur Besar Gelar Patih Sebatang Balai Seruang. Ia berlayar ke Kalimantan karena mendengar tentang kejayaan dan kekayaan alam dari negeri Sarang Paruya. Tujuannya ingin berdagang, dibawanya kekayaan rempah khas Sumatera untuk ditukar. Namun, sesampai di Kalimantan, ia malah terpikat dengan pesona alam Kalimantan. Sarang Paruya adalah kerajaan yang masyarakatnya merupakan campuran Dayak dan Melayu. Letaknya di barat Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Lamandau, yang berbatasan langsung dengan Nanga Tayap, Kalimantan Barat. Sang patih pun menetap dan enggan pulang. Ia berjalan-jalan menyusuri sungai dan riam yang indah, seperti Riam Laminding, yang sampai saat ini masih menggunakan nama yang sama dan terletak di Kecamatan Batang Kawa, Lamandau. Di tempat ini, ia menjadi teman Raja Sarang Paruya yang bernama Santomang.dan sang Ratu yang bernama Laminding. Tak hanya berteman, Santomang menikahkan Patih Sebatang dengan dayang kerajaan bernama Dayang Ilung. Kecantikannya tak terlupakan Patih Sebatang hingga menjadi alasan ia tak mengikuti kapalnya kembali ke Pagaruyung. Mereka menikah dan memiliki keturunan.Patih Sebatang diberikan tempat tinggal dan menetap di sebuah wilayah yang ia beri nama Kudangan. Kudangan memiliki arti tempat yang digemari binatang untuk mandi atau sekadar membersihkan bulu badannya. Hingga kini nama Kudangan masih digunakan sebagai nama ibu kota Kecamatan Delang di Lamandau. Ada tiga kerajaan besar yang bertemu di Lamandau, yakni Kerajaan Pagaruyung yang berasal dari Minang, Kerajaan Sarang Paruya yang merupakan orang Dayak dan Melayu, juga Kerajaan Kutaringin yang kemudian disebut sebagai Kerajaan Kotawaringin. Kini wilayah Kerajaan Kotawaringin berada di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Seruyan, Sukamara, dan Kabupaten Lamandau.

  • Perlengkapan Babukung.

Babukung ini menggunakan Luha yang berarti topeng dalam Bahasa Dayak Tomun Lamandau Kalimantan Tengah. Dahulu tidak banyak yang mengetahui tentang adanya Babukung, karena ritual ini hanya diyakini oleh masyarakat yang menganut Agama Kaharingan. Luha dalam ritual Babukung memiliki berbagai macam warna, serta corak motif yang beragam, karya tari ini menggunakan dua jenis Luha yaitu Luha Naga dan Luha Macan. Berdasarkan arti dan simbolnya, Luha Naga termasuk Luha yang dituakan di dalam ritual adat Babukung dan dianggap sebagai Luha paling Sega (cantik), sedangkan Luha Macan adalah hewan yang mempunyai kekuatan paling tinggi dan gagah perkasa diantara hewan lainnya. Kemudian babukung memiliki kelengkapan seperti pahangang, kemudian rapus/pakaian, lalu salekap dan yang terakhir Luha.

  • Luha /topeng

Setiap motif luha punya cerita dan makna  filosofis tersendiri . contohnya bukung burung mengambil ide dari burung tingang yang banyak terdapat di pedalaman hutan Kalimantan.(1) Jenis jenis bukung kabupaten lamandau antara lain, Bukung bayant yang menurut kepercayaan adalah Pemimpin baliga bukung yang hadir pada pagi hari saat kematian. Kemudian ada bukung Sri bumunt yang merupakan pendamping bayant yang hadir pada siang hari saat kematian.Kemudian ada lagi bukung kampadi yang bertugas sebagai pemeriah. Para bukung bukung ini hadir tiap hari selama upacara kematian. Kemudian ada lagi bukung bruang dan bukung hantu sama seperti bukung kampadi, bukung bajang, bukung barunk, dan bukung babi manungk. luha merupakan topeng gambaran para makhluk yang dipercayai adat dayak kaharingan adalah salah satu kerabat dari yang meninggal para bukung bersuka ria akan kematian bukung memberi bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan/berduka asalkan kehadiran mereka disambut dengan suka cita.

Kayu yang dipakai untuk luha biasanya adalah Pulai.Pulai  adalah nama pohon dengan nama botani Alstonia scholaris. pohon ini dari jenis tanaman keras yang hidup di pulau Jawa dan Sumatra. Dikenal juga dengan nama lokal pule, kayu gabus, lame, lamo dan jelutung. kualitas kayunya tidak terlalu keras dan kurang disukai untuk bahan bangunan karena kayunya mudah melengkung jika lembap, tetapi banyak digunakan untuk membuat perkakas rumah tangga dari kayu dan ukiran serta patung. Pohon ini banyak digunakan untuk penghijauan karena daunnya hijau mengkilat, rimbun dan melebar ke samping sehingga memberikan kesejukan. Kulitnya digunakan untuk bahan baku obat. berkhasiat untuk mengobati penyakit radang tenggorokan dan lain-lain.

  • Sejarah asal Mula Babukung.

Mengenai sejarah babukung ada beberapa versi, salah satu versi Menurut Beroku, tokoh adat, pengrajin luha bukung dan juga warga desa Riam Tinggi, sejarah babukung berasal dari kisah pasangan suami dan istri yang hidup di pedukuhan atau hutan, kemudian tidak berapa lama sang istri sakit keras, saat itu semua masih tradisional dan belum ada pengobatan medis yang mumpuni, hingga pada akhirnya sang istri meninggal dunia. Sang suami sangat  mencintai istrinya dan tidak bisa menerima kematian istrinya. Sang suami tidak mau istrinya dikuburkan. Sedangkan seluruh keluarga menyarankan sang suami untuk segera menguburkan istrinya. Mertua dan orang tua sang suami yang melihat betapa sedih dan nestapa anak menantunya akhirnya memutuskan untuk melunakkan hati sang menantu. Sang mertua yang banyak akal berunding dengan besannya dan mengusulkan suatu ide. “nak supaya kamu menerima dan mengihklaskan kepergian istrimu, bagaimana kalau kita membuat bukung atau luha. Lalu kita menari  dan menyanyi”.Kata orang tua dan mertua sang suami. Sang suami awalnya bingung, istrinya meninggal namun mertuanya malah menyarankan untuk menyanyi dan menari. Walaupun keberatan akhirnya sang suami menaati nasihat mertuanya. Setelah bukung atau luha tadi dibuat,dengan berbagai macam motif dan jenis, kemudian sang suami disuruh memakai topeng tersebut dan menari. Sambil di iringi alat musik tradisional, suara gong dan gamelan yang bertalu-talu sang suami menari dan menari. Semua keluarga juga ikut menari dan menyemangati. Sang suami yang merasa sedih dan bebannya terangkat, akhirnya merelakan sang istri untuk dikuburkan. Begitulah kira-kira salah satu versi sejarah asal mula babukung. Kemudian Menurut Tomas Ragum, Warga Desa Riam Tinggi, dan Kades Riam Tinggi Endang dalam interviewnya dengan Sea News Today dalam acara The HERITAGE, Sejarah awal babukung berasal dari cerita yang turun temurun. Ada seorang pasangan yang baru menikah. Setelah menikah , ketika sang istri hamil 7 bulan, tiba tiba sang istri meninggal dunia. Sang suami yang sangat sedih atas kematian istrinya tidak mau melepaskan istirnya untuk dikuburkan, sang suami menangis dan terus menerus berduka. Melihat kesedihan anggota keluarga mereka. salah seorang kerabat, tiba tiba mendengar sebuah bisikan. Bisikan itu berkata, kalau ingin sang suami melepaskan istrinya untuk dimakamkan,  maka harus ada orang yang memakai topeng. Agar kesedihannya mereda dan sang suami rela melepas keeprgian istrinya. Salah seorang kerabat yang mendapat bisikan tersebut, kemudian, tanpa diketahui oleh keluarga lain memakai topeng yang dia buat sendiri, memakai pakaian yang tidak biasanya dia pakai, dan mulai menari di hadapan suami yang berduka. Semua orang tidak mengenal siapa orang yang menari ini. Sang penari tidak datang dengan tangan hampa melainkan membawa berbagai persembahan atau bantuan untuk keluarga yang ditinggalkan berupa sembako, lamang, babi,tuak, dan dimasukkan ke dalam sebuah tempat yang disebut balai oleh Dayak tomun. Melihat itu semua sang suami dan keluarga yang tadinya ditinggalkan tidak lagi larut dalam kesedihan dan sang suami bersedia melepaskan istrinya untuk dimakamkam. Itulah salah satu versi cerita asal mula babukung. Kemudian ada juga versi dimana yang meninggal tidak rela meninggalkan dunia, namun karena ada babukung,  yang meninggal mau untuk dimakamkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here