SuaraPemerintah.id – Ratusan anak-anak dan remaja dari seluruh Indonesia bergabung dengan para pemimpin, jurnalis, dan aktivis dalam Konferensi Kebaikan Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta UNICEF secara virtual pada 26-28 Juni 2021. Konferensi ini akan mempertemukan 360 peserta muda untuk menjadi ‘pemimpin kebaikan’ yang menyuarakan kebaikan atau empati dan menyerukan pencegahan dan diakhirinya perundungan (bullying) di sekolah dan komunitas mereka.
“Kunci dari seorang pemimpin adalah empati, ia harus mau mendengar saran dan masukan dari teman-temannya. Saya berpesan kepada para peserta sebagai calon pemimpin di masa depan, teruslah menumbuhkan rasa empati dan tenggang rasa dalam menerapkan pembangunan di setiap sektor. Dengan prinsip tidak ada satu orang pun yang ditinggalkan atau no one left behind. Dengan demikian, tidak ada lagi posisi yang dianggap lemah bagi para kelompok rentan, terutama perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok marginal lainnya. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan dan akses yang sama,” ujar Deputi Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Nahar.
Nahar menambahkan, dalam melakukan upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, Kemen PPPA secara rutin mengadakan dialog, diskusi, dan saling bertukar pikiran dengan berbagai pihak. Mulai dari organisasi-organisasi anak-anak seperti forum anak, organisasi kemahasiswaan, forum CEO, hingga berbagai organisasi dari dalam maupun luar negeri.
Senada dengan Nahar, Pendiri Narasi dan Pegiat Literasi, Najwa Shihab mengatakan pemimpin adalah seseorang yang bisa memberi inspirasi, menyatukan semangat untuk mewujudkan tujuan yang sama, dan mendorong kelompoknya untuk berani bersuara. Oleh karenanya, kualitas paling penting dari seorang pemimpin adalah empati.
“Hal yang membuat seorang pempimpin berhasil adalah ia mampu mencari kesamaan tujuan dengan orang lain, dibanding perbedaan. Ia memahami bahwa masyarakat memiliki latar belakang yang beragam. Oleh karenanya, menjadi penting bagi para calon pemimpin untuk mengasah rasa empati dan tenggang rasa,” ungkap Najwa Shihab.
Dalam konferensi yang diselenggarakan selama 3 (tiga) hari, selain mengajak peserta menjadi ‘pemimpin kebaikan’ untuk menyebarkan kebaikan dan empati, mereka akan belajar bagaimana mengidentifikasi dan melaporkan kasus-kasus perundungan untuk mencegah kekerasan antar teman dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sesi ini akan dipimpin oleh 35 fasilitator muda, termasuk perwakilan dari Mitra Muda, Forum Anak, dan Kemen PPPA.
Di Indonesia, perundungan adalah salah satu isu utama yang berdampak negatif pada kesejahteraan anak-anak. Menurut data terbaru:
- 2 dari 3 anak perempuan dan laki-laki berusia 13-17 tahun pernah mengalami setidaknya satu jenis kekerasan dalam hidup mereka.
- 41 persen siswa berusia 15 tahun pernah mengalami perundungan lebih dari beberapa kali dalam sebulan.
- 45 persen dari 2.777 anak muda berusia 14-24 yang disurvei melalui platform keterlibatan anak muda UNICEF U-Report mengatakan bahwa mereka pernah mengalami perundungan siber.
“Setiap hari, terlalu banyak anak muda yang dipaksa menghadapi perundungan, yang tidak hanya mempengaruhi pembelajaran mereka tetapi juga dapat berdampak signifikan pada kesehatan dan kesejahteraan mereka,” kata Deputy Representative UNICEF, Robert Gass.
Namun demikian, Robert Gass menambahkan dengan tindakan kebaikan sederhana dapat mengubahnya dengan membuat orang merasa dihargai dan diperhatikan. Dengan bekerja sama dengan kaum muda sebagai mitra dalam menyebarkan kebaikan dan empati, kita dapat mempromosikan diakhirinya perundungan dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya terhadap anak.
Duta Regional UNICEF untuk Asia Timur dan Pasifik, Choi Siwon juga menghadiri sesi tanya jawab (Q&A) dengan kaum muda tentang kebaikan dan masalah anti-intimidasi.
“Perundungan dapat memengaruhi kepercayaan diri, pendidikan, dan kesehatan mental anak, dan itu berlangsung seumur hidup. Selama lebih dari 4 (empat) tahun, saya telah bermitra dengan UNICEF di kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk meningkatkan kesadaran akan intimidasi dan bekerja dengan kaum muda untuk mengakhiri masalah ini. Pada Konferensi Kebaikan tahun ini, saya bersemangat untuk melanjutkan kampanye ini dan melibatkan pemuda Indonesia dalam dialog yang bermakna tentang bagaimana mengakhiri intimidasi melalui menyebarkan kebaikan dan empati,” kata Choi Siwon.
Sesi Q&A diadakan secara virtual melalui Zoom Meeting, dengan beberapa sesi, termasuk diskusi panel pada hari pertama dan Q&A dengan Choi Siwon yang disiarkan melalui saluran media sosial UNICEF. Tonton acaranya secara langsung pada Saluran YouTube UNICEF Indonesia: https://www.youtube.com/user/unicefindonesia


.webp)
















