SuaraPemerintah.id – Direktur Jenderal Perubahan Iklim KLHK Laksmi Dhewanthi menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi kata kunci untuk menjawab tantangan di perubahan iklim dan mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca nasional sesuai komitmen NDC, sebesar 29 persen dengan sumber daya sendiri dan 41 persen dengan dukungan dari internasional pada 2030.
“Pencegahan perubahan iklim merupakan tanggung jawab kita semua dan kolaborasi adalah elemen penunjang untuk mencapai target bersama ini,” ujarnya.
Sebagaimana yang sudah disampaikan Presiden Jokowi, green economy menjadi salah satu yang didorong, bagaimana konteks pembangunan dengan mengutamakan prinsip lingkungan ini bisa terselenggara di Indonesia
Peran besar swasta dalam pencegahan perubahan iklim dan mendorong pembangunan ekonomi hijau diyakini menjadi salah satu kunci tercapainya target penurunan nol emisi karbon pada 2050.
Hal tersebut dibahas dalam webinar bertajuk Collaborative Contribution for Climate and Green Economy yang diinisiasi Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Kamis (3/6/2021).
Bagi KLHK, sektor swasta dinilai berperan penting dalam menggerakan konsep sustainability atau ekonomi hijau untuk mendukung tercapainya target ini. Salah satu contoh nyata dukungan sektor bisnis terhadap keberlanjutan dilakukan oleh Grup APRIL.
Produsen pulp dan kertas yang berlokasi di Pangkalan Kerinci, Riau ini memiliki acuan Sustainability Forest Management Policy 2.0, yang menjadikan proses operasional dan produksi perusahaan mendukung aspek berkelanjutan.
Tak hanya itu, Grup APRIL juga memiliki komitmen untuk mendukung tercapainya SDGs dan mendukung program prioritas pemerintah lewat komitmen APRIL2030, yang diluncurkan November lalu.
Salah satu target utamanya adalah mencapai net zero emission dari pemanfaatan lahan untuk tercapainya komitmen Climate Positive atau Iklim Positif pada 2030 di area operasional perusahaan.
“Ini salah satu bentuk kontribusi kami dalam pemenuhan target net zero emission, mendukung tercapainya iklim positif dengan beberapa aksi,” jelas Deputy Director Sustainability and Stakeholder Engagement Grup APRIL Dian Novarina.
“Beberapa hal yang akan kami kejar hingga 2030 misalnya memenuhi 90 persen kebutuhan energi untuk pabrik bersumber dari energi terbarukan hingga menargetkan kadar emisi dari produk yang dihasilkan turun 25 persen,” tambahnya. Dian juga menjelaskan APRIL selalu mengedepankan pendekatan proteksi-produksi dalam operasinya.
Salah satu perwujudannya adalah dengan menginisiasi Restorasi Ekosistem Riau (RER) sejak 2013, yang berfungsi melindungi, memulihkan dan melestarikan hutan lahan gambut yang memiliki nilai penting dari segi ekologi di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.
Total kawasan restorasi ini mencapai 150.000 ha atau setara dengan dua kali wilayah Singapura. Serupa dengan APRIL Group, PT Vale Indonesia juga memiliki komitmen keberlanjutan, baik terkait emisi, maupun energi terbarukan. PT Vale Indonesia memiliki komitmen keberlanjutan yang ambisius untuk dicapai pada tahun 2030.
Di bidang lingkungan, komitmen itu terdiri dari penurunan emisi rumah kaca hingga 33 persen dan menjadi carbon neutral pada tahun 2050, melakukan restorasi dan perlindungan terhadap 500.000 lahan perhutanan, 100 persen menggunakan energi bersih, serta mengurangi penggunaan air hingga 10 persen.


.webp)











