Senin, Februari 2, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Peramal Era Revolusi Digital

SuaraPemerintah.ID– Dulu para Raja begitu percaya dengan peramal, bahkan saking percayanya dengan Peramal, dan demi mempertahankan kekuasaanya Firaun sampai tega memerintahkan para tentaranya untuk membunuh setiap anak laki-laki Bani Israil.

Agama-agama langit melarang kita untuk mempercayai peramal, bahkan bisa dikategorikan syirik (Menyekutukan Tuhan), dosa yang tak terampuni dengan ganjaran Neraka, karena jikapun benar ramalan para peramal, itu dianggap sebagai kebetulan belaka, lalu bagaimana dengan peramal-peramal digital abad 21, apakah mereka dianggap sebagai para penista-penista agama, dan kita yang percaya dianggap para pendosa.

- Advertisement -

Jika percaya dengan Peramal dianggap dosa, tidak bisa dibayangkan begitu banyak pendosa di Jakarta dan sekitarnya, setiap pagi ribuan orang menggantungkan perjalanannya kepada Madam Waze dan Om Google, ketika Madam waze bilang kepada orang-orang Bekasi untuk hindari jalan tol, dan ambil jalan alternatif Kalimalang atau BKT untuk menuju Jakarta, maka ramai-ramai orang akan memilih jalan tersebut, seakan-akan kita mahluk dungu yang kehilangan hak otonomnya untuk memilih jalan, tapi itu fakta.

Mungkin begitu juga dengan orang-orang di Bogor dan Tangerang yang setiap pagi menghamba dirikan dan mohon petunjuk/Hidayah menempuh Shiratal Mustaqim kepada madam Waze dan om Google, maka tidak heran kalau kita dengan ikhlas memberikan zakat pulsa setiap bulan agar bisa mendapatkan rahmatnya.

- Advertisement -

Jaman dahulu, Ketika memberikan nasihat kepada para raja, konon para peramal mendapatkan gosip-gosip langit dari para Jin, Setan dan kana waihwatuha, maka peramal sekarang menggunakan Algoritma paling canggih dan meramu semua ramalan dari kebiasaan-kebiasaan kita setiap hari.

Satu aplikasi peramal kematian bernama Deadline, konon bisa memprediksi kapan kematian kita dengan mempelajari kebiasaan kita setiap hari, dari makanan yang paling sering kita makan, apakah kita perokok atau tidak, seberapa seringnya kita berolahraga dan menerapkan pola hidup sehat, dan kebiasaan lainya, mungkin kita denial atau tidak setuju dengan hasil ramalan nya, tapi bagaimana jika intropeksi ternyata data-data yang disampaikan tentang kebiasaan-kebiasaan hidup kita itu benar, maka seketika kita menjadi Manusia yang dipreteli hak-hak memilihnya.

Secara tidak disadari manusia telah membuat berhala-berhala baru, tidak seperti latta, uzza dan mannat yang hanya bisa duduk diam dan tidak manis, tapi berhala-berhala baru ini bisa berpikir lebih cepat dari para penciptanya, jika dulu kita mendengar bahwa Jodoh di tangan Tuhan, dan kita bebas memilih, maka dikemudian hari mungkin tidak lagi.

Seorang gadis belia beranjak dewasa sedang bingung memilih jodohnya, apakah Joko atau Prastowo, lalu dia meminta bantuan aplikasi jodoh untuk menilai mana yang paling pantas untuk dijadikan pasangan hidupnya, dengan big data yang dimiliki, maka tidak sulit buat aplikasi jodoh untuk memberikan advise buat si Gadis Belia tersebut, dan aplikasi tersebut menyarankan Joko sebagai pasangan paling tepat dengan informasi kualifikasinya.

Kebiasaan hidup sehat Joko bisa dilihat dari Google health, perangainya bisa ditrace dari account facebook dan instagramnya (apakah dia sering mengumpat atau tidak, sering menghujat atau tidak), komitmen menabung, investasi dan sudah berapa banyak asetnya bisa ditrace di bank, dan lembaga keuangan lainya, informasi kesehatannya bisa dilihat di bank data rumah sakit, etos kerjanya bisa ditrace di tempat dia bekerja, komitmen tepat waktu ke tempat kerja bisa ditrace di Madam Waze dan Om Google, dan seberapa romantisnya Joko bisa ditrace dari seberapa sering dia membuat puisi di account blognya.

Mungkin si Gadis belia itu tidak setuju dengan rekomendasi aplikasi jodoh tersebut, karena dia mendambakan Prastowo yang keren, tampan, perlente dan nampak bijaksana, tidak seperti Joko yang sederhana dan tampak cupu, tapi data dan fakta tidak bisa dibantah, dan Joko lah pasangan paling recomended, yang bisa membahagiakan, dan diprediksi menghasilkan generasi-generasi yang normal secara attitude dan orientasi seksual.

Jika dulu sering kita mendengar bahwa “Jodoh di tangan Tuhan” maka 5 tahun kedepan, kita akan lebih sering mendengar “Jodoh ditangan Aplikasi”.

Saran saya buat para Jomblowan dan Jomblowati, cepat-cepatlah menentukan pilihan, sebelum kemerdekaan memilih anda dirampas oleh Aplikasi.

(Bang Zack)

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru