Suarapemerintah.ID – Sektor pertanian dan peternakan kerap dipandang kuno dan tradisional sehingga generasi muda seakan alergi untuk berkecimpung di dalamnya. Padahal, sektor ini sangat menjanjikan, bahkan menjadi penyelamat perekonomian Indonesia selama pandemi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian tetap tumbuh sebesar 2,59% secara year on year (yoy) pada kuartal IV-2020, dengan pendukung utamanya subsektor tanaman pangan sebesar 10,47%.
Dengan anjloknya sektor teknis lainya maka otomatis sektor pertanian menjadi penyelamat dalam resesi ekonomi kuartal III.
Lebih dari itu, kinerja ekspor pertanian tahun 2020 juga mengalami kenaikan 15,78% dari tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2019-2021 ekspor pertanian tumbuh 14,3% dengan sub sektor tanaman pangan sebagai penyumbang tertinggi.
Pangan memang masuk kebutuhan primer yang tak bisa dipandang sebelah mata. Setiap orang butuh makan, apalagi tren kuliner pun semakin meningkat dengan penjualan daring. Permintaan akan bahan-bahan pangan pun semakin tinggi.
 Generasi muda bertani & beternak
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof Yuny Erwanto mengatakan, usaha di bidang pangan pertanian dan peternakan peluangnya tetap selalu terbuka karena kebutuhan akan pangan selalu meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk.
Hal sama diungkapkan oleh Wahyu Harjanti, Dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Dia berharap, generasi muda tidak takut untuk bermimpi menjadi peternak karena sektor ini menjanjikan serta menguntungkan.
Peternakan, lanjut dia, adalah salah satu tonggak yang menopang bangsa. Menurutnya, sudah banyak contoh generasi milenial yang menjelma menjadi peternak dan pengusaha muda yang sukses.
Orang yang fokus di bidang peternakan bisa menghasilkan penghasilan yang juga sama baiknya dengan profesi lainnya, bahkan ada penghasilan harian, bulanan dan tahunan.
Wahyu mencontohkan mengenai kebutuhan susu. Produksi susu lokal saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar dalam negeri. Pada tahun 2020, kebutuhan susu nasional adalah sebesar 4.386 ribu ton, sedangkan produksi susu segar dalam negeri sebesar 998 ribu ton.
Artinya, hanya 22,8 % kebutuhan susu nasional yang bisa dipenuhi dari produksi susu lokal dan sisanya dipenuhi melalui impor dari luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah bekerja sama dengan para ahli kini sedang berupaya meningkatkan produksi demi mengurangi jumlah impor.
Sektor yang menguntungkan
Kini mulai ada generasi muda yang melirik sektor pertanian dan peternakan.
Bahkan, mereka termasuk sukses dan mampu meraup keuntungan yang besar selama pandemi. Namun, tak ada jalan pintas menuju kesuksesan.
Main Farmer dari Sayuran Pagi, Safari, mengatakan bahwa untuk memulai bisnis pertanian, generasi muda sebaiknya fokus memupuk mental untuk bisa bersaing dan berkembang.
Dia mengatakan, ketidaktahuan soal pertanian bukan menjadi penghalang. Dia pun mengakui bahwa awalnya tak mempunyai pengetahuan dasar tentang pertanian dan hanya belajar secara otodidak.
Namun berkat kemauan dan mental yang tinggi, kini Safari berhasil meningkatkan omzet hingga 50%. Saat ini ia sudah memiliki 150 konsumen tetap yang tersebar di seluruh Jabodetabek. Dia bahkan menargetkan akan melebarkan usahanya ke semua daerah di Indonesia, termasuk ekspor.
Sementara itu, pengusaha muda yang membidangi peternakan, Ardiansyah turut mendorong anak muda untuk memberanikan diri bersaing dengan situasi dan pasar bisnis yang makin berkembang.
Dia sendiri pun awalnya ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjalankan bisnis peternakan, bahkan membuka lapangan kerja yang cukup luas. Yang pasti, menurutnya, anak muda harus semangat dan pantang menyerah karena setiap kerja keras selalu diikuti dengan hasil yang pantas.
Melihat potensi sektor peternakan, CEO Ternaknesia Dalu Nuzlul Kirom mengajak generasi muda untuk terjun ke dunia ini. Apalagi menurutnya, usia para peternak semakin tua, rata-rata usianya 40 tahun.
Semakin lama, produktivitas para peternak itu akan makin turun. Akibatnya, pemerintah seringkali memilih jalan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Dalu mengatakan bahwa sekarang merupakan saat yang tepat bagi anak muda untuk menekuni bisnis ternak. Setiap Hari Idul Adha, permintaan daging kurban pasti meningkat. Sampai usai Idul Adha pun, menurut dia, bisnis ternak masih prospektif.
Owner MT Farm Budi Susilo Setiawan menambahkan, permintaan daging domba, kambing, dan sapi masih tumbuh. Domba misalnya. Saat ini populasinya 28 juta ekor.
Jika 10% masyarakat Indonesia berkurban, ketersediaan domba akan habis hanya dalam satu kali perayaan Idul Adha. Itu belum termasuk permintaan untuk kurban yang dilakukan korporasi, partai politik, dan instansi pendidikan.
Apalagi, kebutuhan daging kambing, domba, dan sapi tidak hanya untuk Idul Adha. Permintaan itu ada untuk kebutuhan sehari-hari, seperti untuk akikah, hajatan, dan lain-lain. (Anita Harink – Anggota Perempuan Indonesia Satu)
Kredit visual: freepik.com


.webp)

















