Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

BRIN Jamin Lampu Glow Tidak Merusak Ekosistem Kebun Raya Bogor

SuaraPemerintah.ID-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan lima fungsi Kebun Raya Bogor yakni konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan jasa lingkungan, tetap berfungsi secara seimbang dan proporsional.

“Kelima fungsi itu dipastikan berjalan secara seimbang, proporsional, dan berjalan bersamaan. Jadi tidak benar fungsi wisata akan mengalahkan fungsi konservasi,” kata Pelaksana tugas Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN Hendrian di Kebun Raya Bogor dalam keterangan di Jakarta, Jumat (1/10).

- Advertisement -

Pernyataan itu sekaligus menjawab kekhawatiran publik kepada pihak pengelola Kebun Raya Bogor terkait pengembangan atau inovasi wisata malam GLOW dengan lampu sorot di kebun raya dapat mengganggu ekosistem, konservasi, dan kepentingan riset.

Hendrian menuturkan BRIN menjamin tidak ada satu fungsi kebun raya itu mengalahkan fungsi lainnya. BRIN juga terus melakukan optimalisasi infrastruktur yang ada di kebun raya agar kegiatan riset dan konservasi serta fungsi yang lain dapat berjalan lebih optimal.

- Advertisement -

Dia mengatakan pengelolaan kebun raya dilakukan oleh tiga pihak, yakni Pusat Riset Konservasi Tumbuhan Kebun Raya untuk mengelola riset dan periset, Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Laboratorium dan Kawasan Sains dan Teknologi untuk mengelola laboratorium riset, dan Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Koleksi dan untuk melakukan pemeliharaan koleksi.

Senada dengan Hendrian, Pelaksana tugas Deputi bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN Yan Rianto menuturkan hingga saat ini tidak ada bangunan tambahan di area GLOW.

Yan mengatakan inovasi GLOW yang ada di Kebun Raya Bogor itu bukan satu-satunya di dunia, melainkan banyak negara yang telah memiliki inovasi serupa, seperti di Desert Botanical Garden (Phoenix, Arizona), dan Singapore Botanic Gardens (Singapura).

Inovasi serupa juga sudah diimplementasikan di Fairchild Tropical Botanic Garden (Miami, Amerika Serikat), Atlanta Botanical Garden (Atlanta), dan Botanical Garden Berlin (Jerman).

“GLOW sebagai program eduwisata yang inovatif ini terinspirasi dari berbagai kebun raya di luar negeri yang telah membuka wisata malam lebih dulu. Beberapa negara sudah lebih dulu memiliki program wisata malam di kebun rayanya,” ujarnya.

Terkait dengan pengembangan inovasi yang diberi nama GLOW, Pelaksana tugas Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (PRKTKR) BRIN Sukma Surya Kusuma menuturkan pihaknya telah melakukan penelitian secara menyeluruh terkait konservasi tumbuhan, bukan hanya pada dampak dari pengembangan inovasi GLOW, tetapi juga terkait dampak penerangan jalan raya pada konservasi.

Selain itu, PRKTKR terus melakukan konservasi terhadap tumbuhan yang terancam punah. “Jadi bukan karena inovasi GLOW ini saja dilakukan riset, namun riset terhadap dampak akibat perubahan yang terjadi di kebun raya terus dilakukan,” ujar Sukma.

Direktur Sales PT Mitra Natura Raya (MNR) Michael Bayu A Sumarijanto mengatakan inovasi GLOW yang dikembangkan untuk edukasi dan wisata di kebun raya itu bertujuan untuk memberikan kesadaran konservasi pada generasi muda. Diharapkan, setelah mengikuti program tersebut, pengunjung akan mulai atau bertambah kecintaan dan kepedulian pada biodiversitas.

“GLOW menyuguhkan konten edukasi tentang biota yang ada di Kebun Raya Bogor dalam bentuk pencahayaan, animasi visual, audio, pengalaman langsung, dan lainnya,” tuturnya.

Kepada para pengunjung kebun raya yang menikmati suguhan GLOW, lanjut Michael, nantinya akan dilakukan survei secara berkala. Survei itu bertujuan untuk mengukur seberapa besar informasi atau pesan tersirat dari suguhan GLOW yang dapat ditangkap oleh pengunjung.

Dia menuturkan survei itu dipandang perlu untuk dilakukan karena dari survei yang selama ini dilakukan di empat kebun raya di indonesia yakni Bogor, Cibodas, Bedugul, dan Purwodadi, hasilnya 90 persen pengunjung menyatakan mereka menikmati kebun raya hanya sebagai tempat olahraga dan tempat foto-foto saja, padahal misi utama dari kebun raya adalah untuk mengedukasi.

Sebelumnya, Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Melani Abdulkadir Sunito mengatakan rencana pemasangan lampu sorot (glow) untuk atraksi wisata malam akan memberikan tambahan tekanan lingkungan bagi Kebun Raya Bogor.

“Aktivitas-aktivitas yang memberi tekanan dari dalam tidak cuma glow, jalan gico yang disemen dan sebagainya, tapi semua perubahan adalah tekanan yang kemudian dari luar dan kemudian ini ada lagi dari dalam,” kata Melani dalam Webinar Arsitektur Lanskap IPB: Apa Kata Mereka Tentang Kebun Raya di Jakarta, Rabu (29/9).

“Saya agak khawatir bahwa ekosistem ini akan runtuh seperti jerami diletakkan di keledai yang sangat keberatan dengan segala bebannya,” lanjut Melani.

Melani yang merupakan dosen dari Departemen Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB menuturkan seluruh pengembangan yang dilakukan untuk kebun raya semestinya memikirkan dampak terhadap kebun raya.

Ia mengatakan Kebun Raya Bogor merupakan ekosistem yang sudah terbentuk selama lebih dari 200 tahun, dan dalam proses itu telah mengelola diri dengan sangat luar biasa ketika menghadapi berbagai tekanan dari luar. Untuk itu, dia berharap semua pihak tidak menambah tekanan pada kebun raya itu.

Dia menuturkan otentisitas dari Kebun Raya Bogor juga harus dijaga. Kebun Raya Bogor hendaknya tidak dilihat sebagai taman rekreasi biasa semata, karena kebun raya tersebut memiliki nilai historis dan fungsi strategis yang penting bagi lingkungan dan manusia.

“Kebun raya yang berusia 200 tahun ini tidak bisa disamakan dengan berbagai kebun raya yang lain yang usianya jauh lebih muda,” urainya dilansir dari Antara.

Kebun raya mengusung lima tugas dan fungsi penting, yaitu konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan, wisata ilmiah dan jasa lingkungan. Ketiga fungsi pertama merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan menjadi acuan bersama seluruh kebun raya di dunia

Melani mengajak untuk membangun sebanyak-banyaknya kebun raya sehingga menjadi ruang hijau di mana bisa bernapas dengan baik dan bisa mendukung upaya untuk mengatasi krisis ekologi.

Melani menuturkan perlunya perubahan paradigma untuk menggeser cara berelasi dengan alam, yang dapat dimulai dengan kebun raya, sehingga memiliki cara pandang yang lebih holistik dan berimbang untuk peduli dan menjaga keberlanjutan kebun raya.

Dia tidak ingin ada paradigma yang semata-mata ingin menghasilkan pendapatan dari pengelolaan kebun raya.

“Kami bersama teman-teman yang bergabung di dalam komunitas peduli Kebun Raya Bogor itu menyusun petisi dengan sangat jelas kita mengatakan stop glow dan dukung pengusungan World Heritage untuk kebun raya,” pungkasnya.

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru