SuaraPemerintah.ID –Â Kaya akan tanaman bambu ditambah kreativitas seni budaya yang dimiliki masyarakat di tatar Sunda tak heran bila dari daerah ini bermula jenis alat musik angklung yang kini menjadi warisan budaya dunia.
Tak ada catatan pasti, sejak kapan tepatnya angklung muncul sebagai alat musik tradisional. Ahli sejarah memperkirakan angklung sudah ada pada awal masuknya Islam di Nusantara. Dalam masyarakat Sunda, alat musik angklung acapkali digunakan sebagai pengiring acara kebudayaan yang dilaksanakan di tatar pasundan.
Berikut fakta-fakta seputar angklung yang berhasil dihimpun SuaraPemerintah.ID.
Sesuai Cara Memainkan dan Bunyinya
Nama angklung berasal dari Basa Sunda, angkleung yang berarti gerakan tangan yang menggoyangkan alat musik ini dan menghasilkan bunyi seperti klung-klung-klung.
Bentuk Angklung Sangat Unik
Siapapun tak akan menyangkal bila disebutkan angklung merupakan alat musik yang memiliki bentuk sangat unik dengan bunyi yang menggabungkan (akor) dua hinggga tiga nada sekaligus dalam sekali goyangan.
Bisa Dimainkan Banyak Orang
Selain bisa dimainkan secara solo, angklung termasuk alat musik yang bisa dimainkan oleh sebanyak-banyaknya orang, karena karakteristiknya yang hanya memiliki satu nada (not) untuk satu angklung.
Alat Musik Ritual
Selain dikenal sebagai alat musik untuk sarana pemujaan kepada Dewi Sri (Nyai Sri Pohaci), dewi kesuburan dan pertanian pada abad ke-12, bunyi yang keluar dari angklung konon mampu memacu semangat perang bagi sebagian besar masyarakat Sunda.
Ditakuti Penjajah
Pada masa penjajahan Portugis hingga Belanda, para penjajah melarang masyarakat Sunda memainkan angklng karena menjadi komando semangat kepada rakyat untuk berperang melawan penjajah.
Simbol Mata Uang
Coba lihat uang koin pecahan Rp1.000,-. Alat musik ini menjadi simbol untuk meningkatkan kecintaan akan budaya tradisional khas Indonesia.
Berasal dari Jawa Timur
Sumber tertua dari Kitab Nagarakartagama menyebutkan angklung berasal dari Jawa Timur dan dipergunakan dalam upacara penyambutan kedatangan Raja Hayam Wuruk saat mengadakan peninjauan keluling Jawa Timur.
Tidak Bisa Sembarang Bambu
Untuk membuat angklung dibutuhkan bambu khusus, yakni bambu hitam atau awi wulung (Gigantochloa atter), bambu tali (Gigantochloa apus) dan bambu tutul (Banbusa vulgaris). Ketiga jenis bambu tersebut menghasilkan bunyi yang nyaring, kuat dan awet serta tidak mudah berjamur.
Waktu Khusus Memanen Bambu
Diperlukan waktu-waktu tertentu untuk mengambil bambu dari pohonnya untuk dijadikan angklung, yakni di waktu pagi hari sekitar pukul 09.00 dan di waktu sore sekitar pukul 12.00 – 16.00, karena pada waktu-waktu tersebut kadar air pada bambu berada di level terendah.
Masuk Kurikulum di Beberapa Negara
Sejak beberapa tahun terakhir, angklung sudah masuk ke kurikul pendidikan di Amerika Serikat dan di Inggris, karena angklung sudah dinobatkan oleh UNESCO sebagai The Representative List of the Intangible Culturage Heritage of Humanity pada 2011 lalu.
Hari Angklung Sedunia
Sejak telah diakuinya angklung ke dalam warisan alat musik orisinal dari Indonesia dan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO. Badan dunia di bidang ilmu pendidikan dan kebudayaan ini menetapkan setiap 16 November sebagai Hari Angklung Sedunia (World Angklung Day).
Nah, deretan fakta unik di atas tentunya akan membuat Anda bangga terhadap budaya tradisional Indonesia. Lantas, jangan mengaku cinta Indonesia bila belum pernah mencoba memainkan angklung.


.webp)














