SuaraPemerintah.ID – Mengawali karirnya sebagai artis saat masih berumur 14 tahun dengan mengikuti ajang gadis sampul pada 1987 dan menjadi runner up. Setelah dikenal sebagai model, aktris film dan sinetron serta merambah ke dunia tarik suara dan pembawa acara, ia pun telah mendapatkan tempat tersendiri di hati para penggemarnya.
Dari dunia gemerlap ini ternyata membuka peluangnya untuk sampai ke dunia politik. Perempuan kelahiran Sukabumi, 12 Desember 1973 ini telah menjadi anggota DPR RI dua periode sejak 2014 dari Dapil Jabar VIII dan duduk di Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Nasional (PAN) selama dua periode yang membidangi agama, sosial dan kebudayaan.
Seperti apa kisah Hj. Desy Ratanasari, S.Psi., M.Si., M.Psi. sebagai wakil rakyat, simak kutipan wawancara di bawah seperti dilansir dari Youtube DPR RI berikut ini.
Apa yang membedakan menjadi seorang entertainer dengan seorang politikus sesuai dengan yang Anda rasakan?
Yang paling utama barangkali tujuannya. Kalau menjadi entertainer tentunya kita memberikan hiburan yang menyenangkan bagi semua orang. Manfaatnya bagi saya hanya satu, sisanya saya berusaha untuk mendapatkan sesuatu secara profesional kemudian untuk kesejahteraan saya dan keluarga. Tapi kalau menjadi seorang politikus, tujuannya adalah untuk memberikan kemanfaatan yang lebih luas, bagi seluruh rakyat Indonesia, melayani, berusaha untuk berbuat yang terbaik, membantu masyarakat, dan banyak tujuan lainnya. Kepuasannya tentu saja berbeda dengan kepuasan menjadi seorang entertainer. Yang terpenting, saya merasa ini adalah sebuah ibadah yang lebih luas dibandingkan kita menjadi seorang entertainer.
Apa perbedaan yang dirasakan dengan adanya perubahan dari seorang entertainer menjadi wakil rakyat?
Karena dulunya saya seorang entertainer, pasti ada perubahan dan adaptasi. Saya mentransformasi diri saya, di mana saya harus mampu mengubah pola pikir masyarakat, khususnya di Dapil saya, Sukabumi sehingga pertanyaan mereka terhadap saya, bisa engga sih Desy Ratnasari dari seorang entertainer menjadi wakil mereka di DPR RI? Alhamdulillah saya memperkenalkan diri saya sebagai seorang entertainer yang akan berubah menjadi seorang wakil rakyat. Bahasa kerennya mah, bagaimana kita bisa mengubah elektabilitas masyarakat sehingga mereka mau memilih saya.
Apa yang Anda lakukan untuk bertransformasi?
Kalau berbicara soal menjadi politikus sebetulnya karena saya dulunya jadi dari seorang entertainer kan pasti ada ada semacam perubahan ataupun adaptasi ataupun saya harus mentransformasi diri saya, di mana masyarakat khususnya di Sukabumi di Dapil saya Kabupaten/Kota Sukabumi Jabar 4. Mereka berpikir, bisa nggak sih dari seorang entertainer jadi seorang politikus atau jadi wakil rakyat? Itu kan pasti saya harus mengubah pola pikir ataupun pendapat ataupun penilaian masyarakat yang memilih. Saya itu kerja keras 6 bulan. Saya godar-gedor di Sukabumi memperkenalkan diri saya bahwa sebagai seorang entertainer yang akan berubah menjadi seorang wakil rakyat.
Lantas apa yang Anda lakukan untuk menarik masyarakat memilih Anda?
Yang jelas, saya melakukan komunikasi dan berdialog dengan konstituen sehingga mereka tahu hal apa saja sih yang ada di dalam otak saya, tidak menjual janji dan PHP. Saya tawarkan ini yang bisa saya perlihatkan kepada masyarakat supaya mereka percaya untuk memilih kita. Mungkin dari segi popularitas kita sudah punya tapi bagaimana kita bisa meningkatkan level elektabilitas masyarakat sehingga mereka mau memilih saya. Pada waktu itu saya cuma bilang, bahwa ibu bapak saya kalau terpilih insyaallah saya akan menjadi orang yang amanah untuk menjalankan tugas saya. Insyaallah saya juga bisa membantu masyarakat Sukabumi untuk bisa mengakses program-program pemerintah dan memberikan kemanfaatan yang lebih banyak lagi untuk warga Sukabumi. Â Konsen saya sebagai wakil rakyat yang terpilih di Kabupaten/Kota Sukabumi adalah saya ingin memajukan perempuan di Sukabumi, saya ingin memajukan anak-anak yang putus sekolah sehingga mereka bisa menjadi manusia-manusia yang cerdas memiliki kehidupan yang lebih baik lagi.
Dulu sebagai entertainer kita bicara tentang fans, sekarang sebagai wakil rakyat kita bicara tentang konstituten. Menurut Anda apa perbedaannya?
Menurut saya, seorang fans itu bisa menjadi konstituen yang fanatik atau loyal. Â seorang konstituen mungkin awalnya adalah fansnya seorang Desy Ratnasari. Saya maintain menjadi seorang konstituen, misalnya kita memberikan pengetahuan untuk membuat mereka menjadi pemilih yang cerdas, misalnya informasi-informasi tentang bagaimana sih menggunakan hak pilih mereka menggunakan hak suara mereka menjadi lebih bertanggung jawab lagi jadi konstituen plus fans.
Bagaimana dengan haters?
Kalau menurut saya, haters mah, sebuah hal yang alami akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Tidak ada seluruh manusia itu mencintai kita semua. Tentunya pasti ada yang tidak suka. Ya balance-lah ya. Gimana caranya tinggal kita meramu para haters ini dalam menyampaikan kritikan mereka, menyampaikan kebencian mereka untuk kita manfaatkan menjadi energi ataupun motivator untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dari awal ketika saya masuk dalam dunia entertainer, nenek saya selalu bilang jadikan orang yang membenci kamu ataupun kritikan-kritikan itu menjadi motivator dan energi kamu untuk memperbaiki diri. Jangan jawab kebencian dan kritikan dengan kebencian juga tapi dengan perilaku dan dengan kesempatan untuk memacu dan menambah ilmu, memperbaiki keterampilan kamu untuk menjadi manusia yang lebih baik, dan gunakan kesempatan itu untuk menunjukkan bahwa diri kamu mampu secara maksimal melakukan apapun yang ada di hadapan kamu. Wah nasihat dari nenek saya itu engga mudah. Apalagi setelah jadi wakil rakyat, mendapat dan memegang amanah dan tanggung jawab yang berat dunia akhirat. Oleh karena itu buat saya setiap hari adalah belajar. Setiap hari adalah tempat saya atau waktu saya untuk bisa memperbaiki diri saya, memperbaiki untuk diri sendiri, memperbaiki untuk menjadi wakil rakyat, memperbaiki apa sih ilmu yang harus saya tambah, misalnya dengan harus baca lebih banyak atau belajar lebih banyak dari orang-orang yang memang lebih pandai dari saya, lebih pintar pinter ilmunya dari saya sehingga saya bisa menghasilkan suatu pekerjaan yang maksimal dan memuaskan. Tentu tidak mungkin memuaskan secara sempurna tapi paling tidak mendekati kesempurnaan sebagai manusia.


.webp)
















