SuaraPemerintah.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengidentifikasi adanya 320 hektare lahan tidur yang tersebar di wilayah mereka. Kendala utama yang menyebabkan lahan ini tidak produktif adalah keterbatasan sumber air, yang diperparah oleh perbaikan Selokan Mataram beberapa waktu lalu.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Suparmono, menyatakan bahwa mayoritas lahan tidur ini berada di Sleman Barat, khususnya di wilayah Kapanewon Minggir dan Moyudan. Keadaan ini tentunya berdampak pada ketersediaan pangan baik dalam jangka pendek maupun panjang.
“Kita berencana untuk mengoptimalkan 320 hektare lahan di seluruh Sleman. Di Moyudan ada 24 hektare, dan sudah dikerjakan 9,1 hektare. Sisanya akan dilanjutkan oleh Pak Lurah dan para petani dengan bantuan benih dari kami,” ujarnya saat ditemui di Padukuhan Gamplong IV, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Selasa (11/6/2024).
Suparmono mengakui bahwa menghidupkan kembali lahan tidur tidaklah mudah karena lahan tersebut telah lama tidak tergarap, bahkan bertahun-tahun. Penyebab utama adalah minimnya aliran air atau aliran air yang terlalu kecil.
Sebagai solusi, Pemkab akan menyediakan pompa air dan membangun bendungan di aliran irigasi untuk menyalurkan air ke lahan-lahan pertanian di Minggir dan Moyudan.
“Kami akan membantu dengan menyediakan air menggunakan pompa dan bendungan. Di Minggir, misalnya, kami akan membangun bendungan di selokan kecil dan menambahkan pompa untuk meningkatkan aliran air,” jelasnya.
Berdasarkan penelusuran timnya, kawasan Moyudan dan Minggir sebenarnya tidak kekurangan air. Namun, aliran air yang masuk ke lahan-lahan tersebut tergolong kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan pertanian.
Selain menyediakan air, Pemkab juga akan membantu dengan penyediaan bibit padi. Targetnya adalah meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari satu kali tanam untuk satu kali panen (IP 100) menjadi satu kali tanam untuk dua kali panen (IP 200).
“Selain memperluas lahan, pemerintah juga mendorong peningkatan indeks pertanaman. Di Sleman, mencetak sawah baru sudah sulit, jadi kita fokus mengidentifikasi lahan yang bisa ditingkatkan indeks pertanamannya,” tambahnya.
Pemkab juga berkolaborasi dengan TNI dan Polri dalam upaya ini. TNI melalui Kementerian Pertahanan akan menyediakan pompa air, sementara Polri akan membantu optimalisasi gorong-gorong atau saluran irigasi.
“Lahan yang sebelumnya tidak produktif kini bisa digarap kembali berkat bantuan dari Polresta Sleman yang membongkar gorong-gorong kecil dan menggantinya dengan yang lebih besar, sehingga aliran air menjadi lebih lancar,” katanya.
Lurah Sumberrahayu, Sigit Tri Susanto, menyatakan bahwa 18 hektare lahan di wilayahnya tidak produktif sejak Januari 2023, bahkan ada yang sudah tidak tergarap sejak 2022. Kendala utamanya adalah minimnya pasokan air.
Sigit menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 juga berdampak pada aktivitas petani yang berkurang, ditambah dengan kemarau panjang dan perbaikan saluran air termasuk Selokan Mataram.
“Awalnya lahan produktif bisa menghasilkan 5 hingga 6 ton per hektare, namun berhenti berproduksi sejak Januari 2023. Dengan bantuan dari Polresta Sleman untuk memperbaiki gorong-gorong, lahan bisa digarap kembali,” jelasnya.
Produktivitas lahan akan dipulihkan secara bertahap, dimulai dengan membajak lahan dan pemberian nutrisi sebelum penanaman benih.
“Prosesnya bertahap, ada yang sudah mulai ditanami, ada yang masih dibajak dan irigasi awal. Debit air sudah normal meskipun belum maksimal. Dari total 18 hektare masih ada satu titik yang kekurangan,” tutupnya.
Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News


.webp)















