Rabu, Maret 25, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

BRIN Ajak Pemkot Yogyakarta Kelola Sampah dengan Teknologi Fast Pyrolisis untuk Wujudkan Ekonomi Sirkular

Dalam upaya memperkuat gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah melalui teknologi Fast Pyrolisis. Teknologi ini diyakini mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif sekaligus mengurangi volume sampah secara signifikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Dewan Pengarah BRIN, Tri Mumpuni Wiyatno, dalam kegiatan Diseminasi Hasil Riset 2025 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

- Advertisement -

Tri Mumpuni menjelaskan, teknologi Fast Pyrolisis memungkinkan limbah plastik seperti bungkus mie instan dan sabun cuci untuk diolah menjadi bahan bakar cair yang dapat digunakan kembali, misalnya sebagai bahan bakar kapal nelayan. “Mungkin Bapak Ibu tidak percaya, tapi saya sudah menyaksikan sendiri. Di Semarang, melalui kolaborasi riset pusat dan daerah, dengan menggunakan teknologi yang namanya Pyrolisis, sampah residu yang ada di Semarang dapat diolah menjadi bahan bakar cair yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar kapal nelayan,” terangnya.

Selain manfaat lingkungan, teknologi ini juga memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat mengubah limbah menjadi sumber energi yang bernilai jual.

- Advertisement -

Lebih lanjut, Mumpuni mencontohkan penerapan ekonomi sirkular di Kabupaten Ciamis, di mana pengelolaan bank sampah dipadukan dengan budidaya maggot untuk pakan ternak. Sistem ini tidak hanya menekan jumlah sampah, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Pendapatan dari kegiatan ini bisa mencapai Rp 24 juta per siklus produksi. Jadi, pengelolaan sampah dapat menggerakkan ekonomi warga dari level rumah tangga. Sehingga pengelolaan sampah bisa menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat akar rumput. Dengan sirkular ekonomi dari bawah, ekonomi akan berputar yang dimulai dari rumah tangga dan komunitas,” jelasnya.

BRIN juga berkomitmen untuk mendampingi pemerintah daerah dalam pelatihan operator dan implementasi teknologi. “BRIN siap mendampingi, termasuk pelatihan operator. Dengan kerja sama yang baik, pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya.

Mumpuni menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal budaya dan pola pikir masyarakat. Ia menekankan pentingnya pendidikan lingkungan sejak usia dini agar kebiasaan menjaga kebersihan menjadi karakter bangsa.

“Kurikulum pengelolaan sampah harus mulai diperkenalkan sejak dini. Kalau sejak kecil sudah terbiasa menempatkan sampah pada tempatnya, maka itu akan menjadi perilaku yang melekat. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan dapat mulai diperkenalkan melalui pembelajaran di tingkat PAUD dan TK,” ungkapnya.

Menanggapi inisiatif BRIN, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyambut baik kolaborasi ini. Ia mengungkapkan bahwa Kota Yogyakarta menghasilkan sekitar 300 ton sampah per hari, sementara lahan pengolahan semakin terbatas. “Kita sudah tidak lagi bisa mengandalkan TPA Piyungan. Artinya, kita butuh jurus baru,” ujarnya.

Sebagai solusi, Pemkot Yogyakarta meluncurkan Gerakan MasJos (Masyarakat Jogja Olah Sampah) dengan slogan “Jogja Olah Sampah itu Jos!” untuk membangun budaya bersih dan mandiri. Melalui gerakan ini, masyarakat didorong untuk memilah sampah dari rumah, mengelola bank sampah, serta memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk atau pakan ternak.

Selain itu, Pemkot juga memperkenalkan Program Jurus Ember dan Tim Reaksi Cepat MasJos (TRC MasJos) untuk menangani sampah rumah tangga dan barang besar secara cepat dan efisien.

Sekretaris Bappeda Kota Yogyakarta, Tri Retnani, menjelaskan bahwa kegiatan diseminasi hasil riset ini merupakan bagian dari penelitian tematik 2025 yang berfokus pada pemanfaatan hasil riset sebagai dasar penyusunan kebijakan publik berbasis bukti (evidence-based policy).

“Isu pengelolaan sampah menjadi fokus utama karena masih menjadi tantangan besar di Kota Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, kami berharap kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat dapat melahirkan kebijakan yang inovatif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan sinergi BRIN, Pemkot Yogyakarta, dan masyarakat, diharapkan terwujud sistem pengelolaan sampah yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan demi mewujudkan Kota Yogyakarta yang bersih, tangguh, dan berdaya saing.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru