Kamis, Maret 26, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Kemensetneg Tekankan Makna Puasa sebagai Jalan Menuju Kesalehan Sosial

Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) melalui Biro Sumber Daya Manusia menyelenggarakan Ceramah Keagamaan Ramadan pada Senin (23/02/2026) secara hybrid dari Mushola Al Ikhlas. Kegiatan ini menghadirkan Ngatawi Al Zastrouw dengan tema “Puasa dari Kesalehan Individual Menjadi Kesalehan Sosial”.

Kepala Biro SDM Kemensetneg, Muharromi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ceramah keagamaan ini akan digelar sebanyak tiga kali selama bulan suci Ramadan. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan siraman rohani serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan para pegawai di lingkungan Kemensetneg.

- Advertisement -

Mengawali tausiyahnya, Ngatawi Al Zastrouw menjelaskan bahwa pemaknaan kesalehan yang berkembang dari individual menuju sosial bukanlah perubahan yang bersifat transformatif, melainkan akumulatif. Ia menilai masyarakat kerap memahami kesalehan sebatas tanggung jawab pribadi, padahal kesalehan sosial tidak dapat dipisahkan dari kesalehan individual.

“Keduanya saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh,” jelasnya.

- Advertisement -

Ia mengutip salah satu ayat Al-Qur’an tentang kewajiban puasa:

“Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kalian semua menjadi orang yang bertakwa.”

Menurutnya, takwa berarti ketaatan kepada Allah SWT yang lahir dari kesadaran dan keikhlasan dalam menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya.

Ngatawi juga memaparkan tiga indikator orang yang bertakwa. Pertama, beriman kepada yang gaib. Kedua, menjalankan perintah Allah SWT seperti salat, puasa, dan zakat. Ketiga, mau berbagi atas rezeki yang telah diperoleh.

Ia menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan yang bersifat kumulatif, mencakup Aspek batiniah (iman dan kesadaran spiritual), Aspek af’aliyah (perilaku dan tindakan nyata), Aspek sosial (kepedulian dan berbagi kepada sesama).

Di akhir ceramahnya, Ngatawi kembali menegaskan bahwa kesalehan individual dan sosial bukan untuk dipisahkan, melainkan dikolaborasikan secara kolektif.

“Kesalehan individual tanpa kesalehan sosial juga bukan menjadi kesalehan yang kafah (menyeluruh),” tutupnya.

Kegiatan ceramah diawali dengan salat Dzuhur berjamaah dan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, baik bagi peserta yang hadir langsung maupun yang mengikuti secara daring.

Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru