Anggota Komisi VI DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) X Gresik–Lamongan, Ahmad Labib, memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) menjelang Hari Raya tetap aman. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying di tengah meningkatnya kekhawatiran akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Labib, situasi geopolitik global memang memicu kekhawatiran terkait pasokan energi. Namun hingga saat ini, ketersediaan BBM di dalam negeri masih dalam kondisi stabil sehingga masyarakat tidak perlu melakukan pembelian secara berlebihan.
“Untuk sampai Hari Raya dipastikan pasokan kita masih aman. Jadi masyarakat tidak perlu panik atau melakukan panic buying,” tuturnya, Senin (9/3/2026).
Terkait isu kenaikan harga BBM yang sempat beredar di masyarakat, Labib menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pembahasan mengenai penyesuaian harga BBM oleh pemerintah bersama DPR RI.
Ia menjelaskan bahwa meskipun harga minyak dunia mengalami fluktuasi, belum ada rencana dalam waktu dekat untuk melakukan evaluasi harga BBM, khususnya untuk jenis BBM non-subsidi.
“Kalau harga internasional memang ada koreksi, tapi sejauh ini saya belum mendengar ada rencana evaluasi harga BBM dalam waktu dekat, terutama yang non-subsidi,” katanya mengakhiri.
Meski demikian, Labib tetap meminta pemerintah untuk bersiap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk dampak dari situasi geopolitik global yang dapat memengaruhi jalur distribusi energi.
“Secara spesifik saya belum mendapatkan laporan kelangkaan BBM di Lamongan. Namun kita tetap perlu waspada karena sekitar 19 persen impor minyak kita melewati Selat Hormuz,” terangnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah disebut tengah melakukan berbagai upaya strategis, termasuk komunikasi dan negosiasi dengan pemerintah Iran agar kapal-kapal pengangkut minyak Indonesia yang melintasi Selat Hormuz dapat beroperasi tanpa hambatan.
Selain itu, pemerintah juga mulai melakukan diversifikasi sumber impor BBM agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Salah satu alternatif yang tengah dijajaki adalah impor dari negara lain, termasuk Amerika Serikat.
“Pemerintah juga sedang menjajaki sumber impor dari negara lain di luar Timur Tengah. Salah satu alternatifnya dari Amerika Serikat. Ini bagian dari upaya agar kita tidak terlalu bergantung pada satu sumber saja,” pungkasnya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)












