spot_img

BERITA UNGGULAN

Kolaborasi PSEL Jawa Timur, Solusi Inovatif Atasi Sampah dan Perkuat Energi Berkelanjutan

Inisiatif Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang digagas oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menuai apresiasi luas. Program ini dinilai sebagai langkah strategis dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat ketahanan energi berkelanjutan di wilayah perkotaan.

Dukungan tersebut disampaikan oleh Anggota DPD RI, Lia Istifhama, yang menilai kolaborasi lintas daerah dalam proyek PSEL sebagai terobosan penting di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sampah.

- Advertisement -

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) proyek PSEL dilakukan di Gedung Negara Grahadi pada Sabtu (28/3), melibatkan tujuh kepala daerah dari kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya. Acara tersebut turut disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq.

Menurut Lia, pendekatan kolaboratif yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencerminkan kepemimpinan yang adaptif dan visioner. Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif.

- Advertisement -

“Ini bukan sekadar program lingkungan, tetapi sebuah lompatan besar menuju masa depan energi berkelanjutan. Ibu Khofifah berhasil mengubah cara pandang kita, bahwa sampah bukan lagi beban, melainkan potensi energi yang sangat bernilai,” ujar Lia.

Ia menambahkan, pendekatan kolaboratif antar daerah menjadi kunci keberhasilan implementasi PSEL, terlebih dengan adanya ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025 yang mensyaratkan minimal 1.000 ton sampah per hari sebagai bahan baku operasional.

“Sinergi Surabaya Raya dan Malang Raya ini sangat tepat. Dengan kekuatan bersama, keterbatasan masing-masing daerah justru bisa diubah menjadi keunggulan kolektif,” tegasnya.

Diketahui, kawasan Surabaya Raya memiliki total pasokan sampah sekitar 1.100 ton per hari, yang berasal dari Kota Surabaya (600 ton), Kabupaten Gresik (250 ton), Kabupaten Sidoarjo (150 ton), dan Kabupaten Lamongan (100 ton). Lokasi pembangunan PSEL direncanakan berada di Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Pakal, Kota Surabaya.

Sementara itu, kawasan Malang Raya mencatatkan total pasokan sekitar 1.138,9 ton per hari, terdiri dari Kabupaten Malang (600 ton), Kota Malang (500 ton), dan Kota Batu (38,09 ton). Proyek PSEL akan dibangun di Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Ning Lia menilai, keberhasilan Jawa Timur dalam pengelolaan sampah selama ini menjadi fondasi kuat bagi implementasi program tersebut. Ia merujuk pada capaian pengelolaan sampah Jawa Timur yang mencapai 52,7 persen—tertinggi secara nasional dan jauh melampaui rata-rata nasional sebesar 24,95 persen.

“Capaian ini menunjukkan bahwa Jawa Timur sudah berada di jalur yang tepat. PSEL akan semakin memperkuat posisi Jatim sebagai role model nasional dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Lia juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memastikan tata kelola program berjalan akuntabel, transparan, dan sesuai regulasi. Ia optimistis, dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, program ini akan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Yang dilakukan Ibu Khofifah ini bukan hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru