Tradisi menerbangkan balon udara yang telah lama melekat dalam perayaan masyarakat kini mengalami transformasi signifikan. Melalui Pekalongan Balloon Festival atau Festival Balon Tambat Pekalongan, tradisi tersebut tidak hanya tetap lestari, tetapi juga berkembang menjadi atraksi budaya yang aman dan ramah terhadap keselamatan penerbangan.
Pakar penerbangan sekaligus Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI), Alvin Lie, menilai kesadaran masyarakat Kota Pekalongan dalam menjaga keselamatan penerbangan terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari semakin berkurangnya praktik penerbangan balon liar dan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam festival balon yang lebih tertib dan terkontrol.
“Balon yang dilepas tanpa kendali sulit diprediksi arah dan ketinggiannya. Bahkan, laporan pilot menunjukkan balon bisa mencapai ketinggian ekstrem,” ujar Alvin Lie saat hadir di sela-sela kegiatan Festival Balon Tambat Pekalongan Tahun 2026, berlangsung di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan, Sabtu (28/3/2026).
Ia mengungkapkan, pada tahun ini balon liar dilaporkan mampu terbang hingga ketinggian 35.000 kaki. Angka tersebut memang sedikit lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 40.000 kaki, namun tetap berada pada jalur penerbangan pesawat komersial. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya karena dapat mengganggu navigasi dan keselamatan pesawat.
Menurutnya, balon liar yang terbang tanpa kendali berpotensi menimbulkan risiko serius jika bertabrakan dengan pesawat. Dampaknya tidak hanya merusak struktur pesawat, tetapi juga bisa menyebabkan hilangnya kendali yang berujung pada kecelakaan fatal.
“Kalau sampai mengenai bagian penting pesawat, risikonya sangat besar. Setiap penerbangan membawa nyawa manusia, sehingga potensi sekecil apa pun harus dihindari,” tegasnya.
Meski demikian, Alvin mengapresiasi perubahan positif yang terjadi dalam pelaksanaan Festival Balon Pekalongan. Ia menilai festival ini telah berhasil mengubah pola masyarakat dalam melestarikan tradisi, dari yang sebelumnya menerbangkan balon secara liar menjadi lebih aman melalui sistem balon yang ditambatkan atau diikat.
Ia menilai, perubahan tersebut menjadi langkah penting dalam menekan risiko terhadap keselamatan penerbangan. Selain itu, festival balon kini tidak lagi sekadar aktivitas menerbangkan balon, melainkan telah berkembang menjadi bagian dari seni dan atraksi budaya yang menarik.
“Melestarikan tradisi tidak harus dengan membahayakan,” ujarnya.
Kesadaran kolektif masyarakat inilah yang dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan keselamatan publik, baik bagi masyarakat di darat maupun pengguna transportasi udara.
“Lebih dari itu, Festival Balon Tambat Pekalongan juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Kehadiran ribuan pengunjung membuka peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk meningkatkan pendapatan. Berbagai produk kuliner, kerajinan, hingga souvenir khas daerah turut meramaikan gelaran tersebut,”ungkapnya.
Selain menjadi hiburan rakyat, festival ini juga memberikan nilai tambah yang tidak didapat dari praktik balon liar. Jika balon dilepas secara bebas, manfaatnya cenderung terbatas dan berisiko. Sebaliknya, festival mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, sekaligus budaya secara berkelanjutan.
“Kalau dilepas, selesai begitu saja. Tapi festival memberi manfaat lebih luas,” jelas Alvin.
Ke depan, Alvin berharap Festival Balon Pekalongan dapat terus berkembang dengan jumlah peserta yang semakin meningkat setiap tahunnya. Namun demikian, ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menekan praktik balon liar melalui edukasi dan pengawasan yang berkelanjutan.
“Dengan upaya tersebut, tradisi menerbangkan balon tetap dapat dilestarikan sebagai warisan budaya, tanpa mengesampingkan aspek keselamatan penerbangan yang menjadi prioritas utama,”tukasnya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)












