Kamis, Maret 26, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Menjadi Lumbung Padi Nomor 2 Jawa Timur Pemkab Ngawi Jaga Kestabilan Harga Gabah Kering

SuaraPemerintah.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi juga berupaya menjaga kestabilan harga gabah kering supaya tidak anjlok saat panen raya. Upaya Pemkab Ngawi ini bertujuan agar petani tidak rugi.

Menurut Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, pada masa panen, harga gabah, baik gabah kering panen (GKP) maupun gabah kering giling (GKG) di tingkat petani selalu turun. Bahkan terkadang hingga di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan.

- Advertisement -

“Pekan depan Ngawi akan masuk panen raya, biasanya harga gabah turun karena pasokan melimpah, ditambah kondisi gabah buruk karena dampak curah hujan tinggi,” ujarnya seperti yang dikutip dari Antara, Sabtu (6/3/2021).

Berdasarkan laporan para petani, harga gabah kering panen saat ini mencapai Rp 3.400 per kilogram, turun dari sebelumnya yang mencapai Rp 4.100 per kilogram.
Harga tersebut juga lebih rendah dari HPP tahun 2020 di tingkat petani yang ditetapkan sebesar Rp4.200 per kilogram. Sedangkan harga gabah kering giling di tingkat penggilingan ditetapkan sebesar Rp5.205 per kilogram dan di gudang Bulog Rp5.300 per kilogram.

- Advertisement -

Pemkab Ngawi berencana membangun beberapa infrastruktur pertanian seperti gudang, bantuan mesin pengering hingga lantai penjemuran untuk membantu petani menaikkan dan menjaga kestabilan harga jual. Dalam skala besar, pemkab juga berencana untuk menggandeng investor dalam bidang industri pertanian untuk membeli sekaligus pengelola hasil padi setelah panen.

“Dengan mendatangkan investor di bidang industri pangan itu tentunya akan bermanfaat bagi Ngawi yang merupakan lumbung padi nasional nomor 6 dan nomor 2 se-Jatim,” ucapnya.

Tercatat pada tahun lalu, Kabupaten Ngawi mampu menghasilkan 777 ribu ton gabah kering siap giling. Hasil tersebut menjadikan Ngawi sebagai penghasil padi no 2 terbesar di Jawa Timur.

“Menduduki peringkat ke 6 tingkat nasional. Dengan hasil tersebut Kabupaten Ngawi dalam surplus produksi padi, dengan 9%-10% dikonsumsi warga Ngawi, dan lebihnya 90% untuk konsumsi warga luar Ngawi,” jelas Bupati

Bupati Ngawi, Budi Sulistyono menyebutkan dengan luas lahan sawah seluas 50.197 ha dan Indek Pertanaman (IP) 2.6, pada tahun 2019 posisi sampai dengan bulan November produksi gabah di Kabupaten Ngawi sebesar 778.986 ton. Hasil ini setara dengan 446.904 ton beras, sehingga terjadi surplus.

“Ngawi ini sudah surplus beras, bahkan kebutuhannya hanya sebagian kecil sebesar 20 persen dari produksinya,” kata Budi disela-sela acara panen dan tanam tersebut.
Menurut catatan, konsumsi beras penduduk Kabupaten Ngawi sebesar 92.600 ton per tahun atau 20%. Dengan demikian terjadi surplus beras sebesar 354.304 ton atau 80% persen.

“Yang menjadi concern pemerintah saat ini, bagaimana Ngawi mampu memenuhi produksi pangan untuk di wilayahnya dan wilayah luar,” beber Budi.

“Untuk menjamin bahkan meningkatkan produksi sehingga Kabupaten Ngawi tetap menjadi lumbung pangan, dibutuhkan manajemen atau tata kelola air,” sambungnya.(red/ami)

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru