MENULIS DAN BERTUMBUH

OLEH DAVID PERDANA KUSUMA

Menulis merupakan hal yang baru kami tekuni akhir-akhir ini. Rasanya kalau melabeli diri sendiri sebagai penulis takutnya dibilang “sombong people”.pandemi covid yang membuat kami tergerak untuk menekuni menjadi penulis. Rasa-rasanya baru tiga tahun tapi kami( maksudnya saya dan istri) sudah mampu menelurkan beberapa buku. Kemarin kami menghitung kembali ada berapa judul buku yang berhasil kami buat . Lumayan banyak ternyata, istri sudah menulis hampir 55 buku, saya sekitar 160 an buku. Kalau buku solo, baru tiga. Kalau istri baru satu buku solo jenisnya buku untuk anak dengan tema bermain. Awalnya istri yang mengajak saya menulis, saya tidak tahu apa-apa. Jangankan menulis, membaca pun dulu agak jarang. Padahal di hobby saya dulu ketika di tanya oleh guru atau waktu interview kerja, di kolom hobby, saya isi “membaca”. Cukup standar.
Soal tumbuh yang menjadi tema kali ini, rasanya sudah sering kami tuliskan beberapa unforgettable moment yang kami tuang ke dalam puisi, cerpen, ataupun memoir. Kami tidak pernah menyangka bahwa menulis membawa kami ke suatu dunia yang tidak pernah kami sangka bisa terlibat di dalamnya. Tumbuh yang kami rasakan selama ini membuat kami menjadi lebih siap dan berpikir positif. Dengan menulis, kami bisa membuat sebuah dunia hanya dengan modal menghayal saja. Dengan menulis kami bisa mendapat beberapa penghargaan kecil-kecilan dan branding yang memberikan kepuasan baik dalam pekerjaan dan rumah tangga. Dengan menulis kami bisa memperkenalkan kabupaten tempat kami bekerja kepada dunia.

Rasanya banyak perubahan yang terjadi selama ini. yang menunjukkan pertumbuhan kami sebagai manusia. Manusia itu harus bermanfaat. Apa yang kita tinggal di dunia harus abadi dan nyata. Selain itu apa yang kita tinggalkan harus memotivasi dan membawa perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat dan tentunya dunia. Kalau mengingat masa-masa sebelum kami menulis, kami bisa menceritakan bahwa masa itu merupakan masa yang biasa –biasa saja. Makan, pulang, tidur, kerja, ngurus anak. Terus menerus seperti itu. kalau dibilang menulis membuat perubahan yang sangat siginifikan dalam waktu singkat sih, tidak juga. Tapi dengan menulis kami merasa banyak perubahan yang terjadi baik dalam diri kami sendiri dan lingkungan sekitar kami.

Karya pertama kami merupakan antologi. Jumlah buku di atas tidak semuanya buku standalone kebanyakan memang antologi. Sekitar dua tahun setelah terus-menerus menulis buku antologi, kami memberanikan diri menulis buku solo. Saya dan istri juga seorang ASN di kabupaten kami. Jadi sesekali kami juga menulis di media sosial dan artikel di beberapa platform media. Keluarga mendukung apa yang kami lakukan, karena selain berdampak positif, kamu juga mampu melakukan berbagai inovasi yang berdampak, yang kami harap memajukan dunia literasi di tempat kami. Jujur, kami orang yang tidak terlalu memikirkan bagaimana ke depannya. Pokoknya hidup itu ya hidup, lempeng-lempeng aja. Yang penting dapat duit, jadi ASN udah gitu aja. Sampai pensiun nanti ya seperti itu. Awalnya memang begitu. Tetapi karena menulis, yang sebenarnya juga terpicu oleh pandemic kemarin sangat membuka wawasan dan paradigma baru tentang bagaimana kami melihat kehidupan.

Kami merasa hidup di dunia ini rasanya tidak cukup kalau cuma hidup saja. Banyak pelajaram yang kami petik selama pandemic sampai saat ini. kehidupan, kematian, percintaan, kesehatan, keluarga. Ternyata banyak hal penting yang selama ini kami abaikan dan tidak kami syukuri. Kami bersyukur kepada Tuhan, sampai sekarang kami masih sehat, masih bisa bekerja, masih bisa berkumpul bersama keluarga, bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Kami bersyukur kami masih diberikan kesempatan untuk bercerita dan menulis tentang apa saja.
Kalau dibilang menulis itu gampang, ya tidak juga. Menurut kami banyak tantangan menjadi seorang penulis. Faktor internal dan eksternal. Berdasarkan pengalaman kami, seorang penulis baru bisa dibilang penulis, kalau dia sudah di validasi dan di afirmasi oleh pihak lain. Kita bisa saja memproklamirkan diri sebagai penulis. Tapi kalau tidak ada afirmasi dan validasi tadi, semuanya ternyata percuma saja. Dunia ini memang seperti itu. kejam dan keji, tapi banyak keindahan yang diberikan, tergantung perspektif dan sikap kita dalam menghadapinya. Kami merasa kami banyak sekali kekurangan, sampai sekarang kami masih belajar dan belajar. Banyak hal-hal baru yang selalu kami temukan setiap kami mulai menulis. Hal-hal baru yang mengajarkan kami untuk tetap, dan terus –menerus berkarya , bukan hanya untuk kepuasan diri, tapi juga keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pertumbuhan kami membuahkan beberapa hal yang sangat berarti bagi kami. Saya ingat suatu kutipan yang dulu pernah saya baca dan sampai sekarang begitu membekas dalam benak saya dan istri. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Wow. Benar sekali. Kami ingin karya kami abadi. Kami ingin nama kami terpampang dan terpatri di setiap benak insan yang membaca karya kami. Ada satu lagi kutipan yang membuat kami tetap semangat untuk tumbuh dan berkembang. “Jangan menyerah, kalau menyerah sekarang, kau akan menyerah untuk selamanya”. Istri saya yang merupakan guru bahasa prancis memiliki tantangan yang cukup siginifikan dalam episode pertumbuhan di kehidupannya. Istri sangat mencintai bahasa prancis. Bisa dibilang dia adalah seorang Francophile, orang yang mencintai segala sesuatu tentang Prancis. Mengajar bahasa Prancis di Negara yang tidak berbahasa Prancis memiliki tantangan tersendiri. Tidak ada mata pelajaran, bahkan terancam dihapus dari kurikulum merupakan hal yang sama sekali tidak diinginkan oleh seorang guru. Istri bahkan ingin menyerah saja. berkali-kali dia bilanbg begitu ke saya. Tapi kalau kita menyerah sekarang, kita pasti menyerah untuk selamanya. Untung saja kami berdua sama-sama punya support system yaitu anak-anak kami dan tentunya rasa cinta kami. Kalau tidak buku-buku yang kami tulis tidak akan pernah lahir. Dulu kami sempat susah punya anak, sekarang anak kami sudah dua. Ingat teman-teman dua anak cukup. Dua istri? Aduh jangan. Haha.
Sikap pantang menyerah itu ternyata membuahkan pertumbuhan yang sangat berharga. Istri saya berhasil menjadi guru bahasa Prancis di sekolah yang baru, menjadi LO atau liason officer untuk event dunia yang diadakan di provinsi. Kami juga berhasil mengenal beberapa orang dari kedutaan besar prancis dan kementerian pendidikan yang membantu kami. Istri berhasil membuat beberapa inovasi yang memajukan sekolah tempat dia bekerja. NPP, akreditasi perpustakaan. Istri juga berhasil mengajak para guru dan ASN lain untuk ikut menulis dan menghidupkan dunia literasi di lingkungan kami. Istri juga menjadi PJ dalam sebuah penerbitan.

Pertumbuhan kami sejak mulai menulis, sangat berharga. kami menyumbangkan buku-buku kami ke perpustakaan. Kemudian berhasil juga melakukan inovasi yang melibatkan beberapa dinas dan OPD di tempat kami bekerja. Tentunya yang ada hubungannya dengan literasi. Saya bekerja di sebuah instansi yang sangat dekat dengan pimpinan. Dengan mengikuti kegiatan pimpinan saya bisa menghasilkan beberapa buku tentang pekerjaan saya. Saya juga berhasil mengajak para ASN dari angkatan saya untuk ikut menulis dan berkarya.

Rasanya seperti mimpi saja. dulu kami merasa hidup ini biasa-biasa saja. sekarang rasanya begitu berarti. Semua karena menulis. Anak-anak yang sehat. Pekerjaan yang layak. Karya tulis yang akan selalu dikenang dan tercatat . merupakan kebanggaan hasil dari menulis, hasil dari suatu pertumbuhan, hasil dari sikap pantang menyerah yang diabadikan dalam slogan provinsi kami, dan diwariskan oleh nenek moyang kepada kami dan anak cucu kami.

Kalau tidak berubah, tidak akan bertumbuh. Kalau tidak bertumbuh kita akan mati. Ada sebuah kutipan lagi yang menurut kami cukup penting dalam pertumbuhan kehidupan kami. “Jangan khawatir kalau kita berjalan pelan, khawatir lah kalau tidak berjalan sama sekali”. Kalau dulu kami menyerah dan tidak mau bertumbuh, tidak tahu akan jadi apa hidup ini. Menyerah saja, cari jalan yang gampang, tidak mau jalan yang susah dan berkelok, maunya yang enak saja. Kalau dulu tidak bertumbuh dan hanya ingin menyerah saja, rasanya sia-sia. Kalau melihat perkembangan tumbuh kami, dari dulu sampai sekarang ini, perbedaannya cukup jauh. Kami bisa kenal dengan banyak orang yang memang terbaik di bidangnya. Kami banyak belajar hal-hal yang tidak pernah kami kira bisa kami lakukan sebelumnya. Kami bisa melihat anak-anak kami tumbuh besar. Kami bisa melihat karya kami di baca di perpustakaan. Kami bisa menciptakan hal-hal positif dari menulis dan berliterasi.

Rasanya bangga sekali ketika kami disebut sebagai penulis. Pernah ketika ada nikahan kolega dan teman kerja kami, MC yang merupakan sesama penulis juga, tiba-tiba saja bilang, “selamat datang pak ini dan bu ini, bapak ibu semua, kami perkenalkan bapak dan ibu ini adalah penulis dan pegiat literasi dari kabupaten ini”. aduh jadi malu dan bangga deh. Kami merasa masih banyak hal yang belum bisa kami wujudkan. Pertumbuhan kami masih belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan. Kami masih belum puas. Kami tahu pekerjaan seperti ini bahkan sampai habis nafas kehidupan, masih perlu banyak pembenahan. Kami harus terus belajar dan belajar. Kami sering minder ketika melihat para penulis lain yang bisa sukses menjadi penulis. Kami sampai sekarang masih self published. Tapi kalau tidak berbenah dari sekarang, rasanya kita akan jalan di tempat saja. Senang sekali bisa menulis tema ini dan ikut di dalamnya. Berbagi cerita dan pengalaman merupakan hal yang sangat berharga bagi kami.

Bertumbuh, berkembang, berkelanjutan, bersinergi merupakan upaya yang tidak henti-hetninya kita lakukan dalam kehidupan ini. “Seseorang bisa bergerak mundur dan nyaman, atau maju terus dan bertumbuh”. Kita harus selalu bertumbuh dan berkembang. Manusia yang menikmati proses akan mencapai tujuan dan keberhasilan yang dia cari, daripada manusia yang hanya fokus pada hasil. Kuncinya lebih kepada bertumbuh dalam diri sendiri. Pendapat dan persepsi orang lain terhadap diri kita, itu bukan urusan kita sama sekali. Apa yang kita lihat di cermin, diri kita yang kita lihat setiap hari, harus kita cintai. Kalau terus sama saja dan tidak bertumbuh kembang, rasanya sia-sia hidup ini. Dengan bertumbuh kita akan keluar dari zona nyaman dan menjadi lebih baik. Semoga tulisan ini membuat kita menjadi manusia yang bertumbuh, membuat hidup lebih termotivasi, bermakna dan insipratif. Kutipan terakhir yang tidak kalah penting “ketika bertemu sesuatu yang baru atau orang baru, kosongkan gelasmu”.
Sekian dan terima kasih, Tuhan memberkati kita sekalian, dari sekarang sampai selama-lamanya.
Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini