Perpustakaan dan Problemnya
Oleh David Perdana Kusuma

Interior of a cafe Frankfurt, Germany. Bookshelves

“Donde esta la bibiloteca?” yang berarti kemana eh kemana arah perpustakaan. Menjadi kalimat pembuka yang selalu dipakai kalau kita ingin membuka percakapan. Yah breaking the ice lah. Why we love going to the library?. Sebelumnya saya ingin bertanya, Apa sih perpustakaan? Kenapa kita perlu ke perpus? Kenapa cinta dengan perpustakaan dan buku harus digalakkan? Kenapa perpustakaan punya peranan penting dalam mencerdaskan suatu bangsa?.

Dalam arti tradisional, perpustakaan ataupun rumah buku, adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, serta dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku dengan biaya sendiri. Tetapi, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penyimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD.

Selain itu, perpustakaan juga menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet. Perpustakaan dapat juga diartikan sebagai kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia. Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apapun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut ataupun tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).

Dinas perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lamandau merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan bidang perpustakaan dan kearsipan, ini semakin kuat dalam rangka mendukung pencapaian visi, misi dan program Kepala Daerah Kabupaten Lamandau Tahun 2018-2023 yakni Visi : “Bergerak Cepat Membangun Kabupaten Lamandau Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Menuju Kabupaten Lamandau Juara (Jujur, Unggul, Adil, Religius, dan Aman”. Misi : Mewujudkan tata kelola Pemerintahan yang baik dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Meningkatkan Kualitas Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang Cerdas, Sehat dan Sejahtera.Memperkuat Kemandirian Ekonomi Berbasis Sektor Unggulan dan kelestarian Lingkungan Hidup.Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang Bermoral, Religius dan Aman berdasarkan Nilai-Nilai dan Kearifan Budaya Lokal.Meningkatkan pembangunan infrastruktur yang berkualitas untuk pemerataan pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Adapun peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah daerah kabupaten Lamandau antara lain Peraturan Bupati Lamandau Tentang Perpustakaan Desa di Kabupaten Lamandau No. 03 Tahun 2016, Peraturan Bupati Lamandau Tentang Jadwal Retensi Arsip Fasilitatif Fungsi Kepegawaian Aparatur Sipil Negara dan Pejabat Negara Pemerintah Daerah Kabupaten Lamandau No. 13 Tahun 2018, Peraturan Bupati Lamandau Tentang Jadwal Retensi Arsip Fasilitatif Fungsi Keuangan Aparatur Sipil Negara dan Pejabat Negara Pemerintah Daerah Kabupaten Lamandau No. 14 Tahun 2018.Peraturan Bupati Lamandau Tentang Pedoman Pengelolaan Kearsipan di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lamandau No. 80 Tahun 2020. Peraturan Bupati Lamandau Tentang Pedoman Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lamandau No. 47 Tahun 2020. Peraturan Bupati Lamandau Tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi Kearsipan Daerah dan Jaringan Informasi Kearsipan Daerah No. 77 Tahun 2020. Peraturan Bupati Lamandau Tentang Jadwal Retensi Arsip No. 40 Tahun 2021. Ini sebenarnya menunjukkan keseriusan pemerintah bahwa pemangku kepentingan perduli dengan permasalahan literasi di daerah.

Colorful bookshelves design for bookstore ereader library app symbol or home decoration poster print abstract vector illustration

Lalu sebenarnya seberapa penting perpustakaan bagi diri kita?. Saya dan teman-teman semuanya pasti suka membaca. Bukan cuma membaca, membeli, menyimpan buku, mencium aroma buku. Senang sekali rasanya ketika kita melihat tumpukan buku yang sudah dibaca, sedang dibaca, dan akan dibaca. Untuk menulis kita perlu banyak membaca. Menyenangkan rasanya melihat buku-buku yang tertumpuk dan berjejer rapi. Menenggelamkan diri dalam lautan buku. Perpustakaan menjadi salah satu tempat koleksi buku yang paling sering dikunjungi. Saya juga ingin rasanya punya perpustakaan sendiri. Namun belum kesampaian. Tapi sebenarnya yang paling penting bukan juga manifestasi perpusnya, namun kebutuhan untuk membaca, belajar tiap hari, dan kemudahan serta kenyamanan dalam mencari dan menemukan buku. Perpustakaan konvensional pun sekarang sudah mulai banyak berubah. Perpustakan Kabupaten Lamandau yang dikelola oleh DPAD. Suatu unit opd pemda yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang cukup berat kalau menurut saya. DPAD harus bisa menjawab tantangan disrupsi digital dan evolution 5.0 yang melaju pesat.

Banyak yang berpendapat bahwa perpus sudah tidak diperlukan lagi, karena era sekarang sudah digital. Namun bagi saya tidak akan ada yang bisa mengalahkan rasa ketika kita membaca buku hardcopy. The real book. Not the book yang digital yang sering kalian baca di gawai atau apa itu. kindle-kindle itu. Kalau kiamat digital terjadi, softcopynya dihapus atau terhapus gimana? kalau tidak ada internet gimana? kalau gawaimu mati gimana? perlu kan buku-buku yang bisa dipegang, dilihat, diraba dan diterawang?. Am I right, people? Yeah.SHAKIRA-SHAKIRA.!

Perpustakaan harus bisa menjawab tantangan dunia baru yang serba digital. Pandemic covid juga mempercepat semua hal to be digitalize. Konversi dan transformasi semua bidang. Termasuk dalam hal ini, perpustakaan. Layanan umum bagi penikmat perpustakaan yang serba digital.Saya merasa pemangku kepentingan dan masyarakat Indonesia sepertinya memandang sebelah mata akan keberadaan perpustakaan. yes aturan memang ada. Namun perkembangan zaman melaju lebih cepat dari aturan yang dibuat. Masyarakat, termasuk saya kadang merasa tidak ingin lagi keperpustakaan karena merasa semuanya ada dalam genggaman gawai. Well bukan itu saja, kalau di Indonesia entah kenapa perpustakaan selalu menjadi tempat dimana hantu bersemayam. Yes, you heard me. Banyak sekali bertebaran di dunia maya, cerita seram tentang perpustakaan.kok, bisa ya? Perpustakaan itu tempat mencari ilmu, bukan tempat ketemu setan. Banyak narasi atau kisah seram. Why? Ini juga salah satu bentuk paradigma yang mendarah daging kalau menurut saya, yang juga menjadi salah satu penyebab orang malas ke perpus. Kemudian permasalahan dana, Budget cuts dikenakan ke perpustakaan dengan alasan covid dan pandemic serta semua yang di digitalisasi dan di digitisasi, lebih murah, gampang dan mudah. Tapi yang dilupakan adalah keberadaan perpustakaan yang vital dan sumber daya manusia yang mumpuni serta koleksi yang real bukan cuma softcopy, masih benar-benar diperlukan.

Tidak ada salahnya memberikan dana yang cukup besar kepada perpustakaan bukan hanya untuk menambah koleksi namun juga pengembangan sumber daya manusia serta pembangunan sistem yang mendukung menuju dunia digital itu tadi. Kita dikenalkan dengan opac (online public access library) dan pocadi atau (pojok baca digital) dimana kita tidak harus ke perpus dan bisa membaca buku digital dari gawai masing –masing. Atau bila kita mencari buku yang tidak ada hardcopynya di perpus tersebut. “Berapa pun harga perpustakaan kita, harganya murah dibandingkan dengan bangsa yang bodoh.” – Walter Cronkite. itu kata salah satu tokoh ternama.

Tentunya ini merupakan inovasi yang dihadirkan oleh pemerhati perpus dan pemerintah tentunya. Namun yang menjadi pertanyaan,seberapa efektifkah langkah di atas agar perpustakan menjadi menarik minat literasi masyarakat?. Bukan cuma jumlah buku baik itu digital dan hardcopy. “Perpustakaan yang buruk membangun koleksi, perpustakaan yang baik membangun layanan, perpustakaan yang hebat membangun komunitas.” – R. David Lankes. Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau minat baca dan minat ke perpus bangsa Indonesia termasuk rendah. UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!. Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Kesenjangan informasi pada masyarakat adalah akibat rendahnya perhatian pemerintah dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan perpustakaan sebagai inti infrastruktur informasi. Ada dua permasalahan pokok kepustakawanan Indonesia. Pertama, kehadiran perpustakaan pada masyarakat belum dapat memberikan kontribusi langsung dalam memecahkan persoalan masyarakat dan bangsa. Kedua, perpustakaan ditengah masyarakat belum dapat dioptimalkan dan diberdayakan secara maksimal.

Perpustakaan harus dijadikan sebagai sentral informasi rakyat dengan berbagai aktivitas; 1) Perpustakaan sebagai pusat aktivitas intelektual dan kreatifitas, 2) Perpustakaan sebagai sarana pendidikan seumur hidup, 3) Perpustakaan sebagai pusat informasi, 4) Perpustakaan sebagai pusat ajang promosi, 5) Perpustakaan sebagai sarana rekreasi. Secara umum pertumbuhan perpustakaan pada tingkat strata dan komunitas masyarakat masih relatif rendah. Untuk menumbuhkembangkan perpustakaan di tanah air perlu dilakukan upaya gerakan nasional perpustakaan dengan konsep pola kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan pelaku bisnis.

Bagaimana agar perpustakaan bisa lebih diminati di Indonesia? jawabannya adalah bentuk, buat, ciptakan, berikan layanan sesuai kemauan pengguna dengan standar yang sudah diatur. Strategi untuk meningkatkan daya tarik masyarakat pada perpustakaan antara lain Pemasyarakatan Gerakan Peningkatan Minat Baca melalui sosialiasi,mengundang anak tk paud keperpustakaan, lomba bahasa dan sastra,talkshow dan promosi serta bimtek dan bedah buku.

Literasi sangat penting,perpustakaan lah solusinya. Kecintaan pada perpustakaan perlu dibina sejak dini. Perpustakaan adalah sumber informasi, sumber ilmu. Tempat bagi kita dan generasi mendatang menjawab berbagai tantangan zaman ke depannya. Perpustakaan bukan hanya menjadi tempat membaca, namun juga tempat wisata, kreatifitas, aktivitas sosial masyarakat, dan kalau memungkinkan rest area?. Ada mart, café, internet gratis, pusat literasi, dan lain sebagainya. Banyak banget pokoknya.

Kenapa saya suka ke perpus? Kenapa saya suka menulis dan menyumbangkan buku tulisan saya ke perpustakaan?. Pertama, saya bangga ketika saya bisa pamer di medsos bahwa saya dan teman –teman penulis lain sudah menyelesaikan suatu karya. Kedua, ini juga merupakan salah satu wujud aktualisasi dan perwujudan pengabdian sebagai abdi Negara. Hal ini juga menjadi cambuk bagi diri sendiri untuk terus menerus berkarya, menjadi contoh bagi future writer dan pejuang literasi berikutnya.

Asyik lo rasanya ketika melihat nama kita ditulis di keterangan yang ditempel di buku perpus yang dibaca oleh semua orang bahwa buku ini ditulis dan dihibahkan oleh ini atau itu misalnya. Bangga banget. Sampai sekarang saya masih sangat suka yang namanya ke perpus. Membaca merupakan god giving rights dan suatu bentuk kemajuan peradaban bangsa.ayo membaca, ayo ke perpustakaan. Salam literasi. Hidup penulis Indonesia.

Sumber
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan
2. https://www.bola.com/ragam/read/4666219/40-kata-kata-bijak-keren-tentang-perpustakaan-tempat-membaca-masa-depan
3. https://dpad.lamandaukab.go.id/
4. Perpustakaan Dalam Upaya Mengentaskan Kesenjangan Informasi Masyarakat
Majalah : Visi Pustaka, Edisi : Vol. 05 No. 2 – Desember 2003
5. https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media#:~:text=Fakta%20pertama%2C%20UNESCO%20menyebutkan%20Indonesia,1%20orang%20yang%20rajin%20membaca!
6. https://id.quora.com/Seberapa-pentingkah-memiliki-perpustakaan-pribadi-bagimu
7. https://www.kompasiana.com/guslitera/54ffa331a33311194d5109e1/menciptakan-rasa-cinta-pada-perpustaka

Tulisan sudah dibukukan dalam buku  berjudul “eksistensi perpustakaan di era 4.0.” Buku diterbitkan oleh Dandelion Publisher tahun 2023.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini