Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan pentingnya pendekatan baru berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pengembangan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) guna memperkuat kemandirian teknologi nasional.
Hal tersebut disampaikan Arif saat melakukan kunjungan kerja ke BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Rabu (24/12/2025).
“Saya butuh pendekatan baru berbasis pada AI, berbasis pada teknologi yang semakin canggih sehingga kemandirian kita dalam remote sensing harus semakin kuat,” tegas Arif.
Arif mendorong percepatan pemanfaatan AI dalam pengolahan data citra satelit. Ia menilai teknologi ini memungkinkan analisis yang lebih cepat, presisi, dan komprehensif. Salah satunya melalui pemodelan 3D berbasis AI yang dikembangkan oleh United Nations Development Programme (UNDP), yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan overlay data kondisi sebelum dan sesudah bencana secara lebih efektif.
“Ini harus kita percepat. Citra satelit tidak hanya memotret berupa gambar, tetapi bisa langsung menafsirkan citra analisis,” paparnya.
Lebih lanjut, Arif menegaskan bahwa riset AI merupakan isu lintas disiplin yang mencakup penginderaan jauh, komputasi, elektro, telekomunikasi, mekatronika cerdas, hingga sains data dan informasi. Oleh karena itu, riset di Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) BRIN perlu dikerjakan secara kolaboratif dengan organisasi riset lain untuk mengarusutamakan AI sebagai agenda strategis nasional.
Ia berharap, sinergi lintas organisasi riset tersebut dapat mempercepat agenda riset OREI-BRIN pada tahun 2026.
Dalam dialog dan temu sivitas di KST Samaun Samadikun, Arif juga mengajak seluruh periset BRIN untuk terus mengembangkan riset yang lebih mendalam, tajam, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia mendorong periset agar aktif memberikan masukan dalam pengembangan riset dan inovasi teknologi penginderaan jauh.
Menurut Arif, penguasaan teknologi mutakhir harus diimbangi dengan infrastruktur riset yang memadai. Ia menegaskan bahwa fasilitas dan tema riset menjadi indikator penting kemajuan suatu bangsa.
“Kemajuan bangsa diukur dengan kemajuan teknologi, kemajuan teknologi diukur dari kemajuan riset, kemajuan riset diukur dari salah satunya fasilitas riset dan tema-tema riset,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa riset strategis BRIN harus berorientasi pada kebutuhan pengguna. Interaksi yang intensif antara periset dan pengguna, seperti petani maupun industri, menjadi faktor penting agar hasil riset mampu mendorong kemajuan industri dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Agenda-agenda riset harus sesuai dengan kebutuhan, oleh karena itu perlu berinteraksi dengan user,” tuturnya.
Selain menyoroti fokus riset nasional pada bidang energi, air, kesehatan, pertanian, dan kebencanaan, Arif menyampaikan bahwa pemerintah juga mulai menegaskan peran BRIN dalam penguatan industri elektronik. Ia mengingatkan para periset elektro untuk tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami kerangka makro daya saing industri.
“Konstelasi daya saing industri elektronika kita seperti apa, pasarnya seperti apa, dan informasi mana saja yang bisa menjadi inovasi nasional,” ungkapnya.
Arif mengajak para periset BRIN untuk tetap fokus dan memperkuat bidang keahlian masing-masing, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas disiplin. Ia optimistis, dengan fasilitas dan kompetensi periset yang dimiliki, BRIN mampu menjadi kekuatan utama riset nasional.
“Saya yakin setelah melihat fasilitas BRIN dan keahlian para periset, BRIN bisa menjadi lembaga yang benar-benar menjadi kekuatan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Sebagai informasi, sebelum mengunjungi KST Samaun Samadikun, Kepala BRIN dan rombongan meninjau PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk melihat langsung pengembangan pesawat N219 dan berbagai desain lainnya. Arif mengaku optimistis terhadap produk-produk hasil kerja sama BRIN dan PT DI yang dinilainya membawa harapan baru bagi kebangkitan industri dirgantara nasional.
Sementara itu, Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut hasil kunjungan ke sejumlah lokasi sebelumnya, termasuk PT DI. Ia menyebutkan bahwa beberapa keputusan terkait rencana riset ke depan telah disiapkan, terutama untuk pengembangan pesawat terbang serta riset elektronika dan informatika di kawasan Bandung.
“Sebagaimana arahan Kepala BRIN, kita fokus ke depan untuk melakukan riset-riset yang memang dibutuhkan secara cepat dan hasilnya langsung dirasakan masyarakat,” jelas Amarulla.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)












