Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, menegaskan pentingnya pendekatan ekosistem dalam pengembangan anak usia dini sebagai fondasi strategis pembangunan Indonesia di masa depan.
Hal tersebut disampaikan dalam forum Executive Roundtable: Catalyzing an ECED Collaborative for Indonesia yang diselenggarakan oleh Tanoto Foundation pada Selasa (31/3/2026).
“Upaya peningkatan kualitas anak tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi lintas sektor, mulai dari pengasuhan, kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan. Jika kita serius membangun masa depan Indonesia, maka kita harus serius berinvestasi pada fase awal kehidupan anak,” ujar Wamen PPPA.
Ia menjelaskan bahwa masa awal kehidupan anak merupakan periode krusial, di mana hingga 90 persen perkembangan otak terjadi sebelum usia lima tahun. Oleh karena itu, investasi pada anak usia dini tidak hanya menjadi agenda sosial, tetapi juga strategi penting dalam pembangunan ekonomi jangka panjang.
“Namun demikian, masih banyak tantangan yang dihadapi Indonesia seperti stunting, keterbatasan akses layanan pendidikan, serta lemahnya lingkungan pengasuhan. Selain itu, sistem yang masih terfragmentasi masih menjadi hambatan dalam menghadirkan layanan yang optimal bagi anak,” kata Wamen PPPA.
Untuk itu, ia menekankan bahwa pendekatan sektoral yang berjalan selama ini sudah tidak lagi relevan. Anak, menurutnya, tumbuh dalam sebuah ekosistem yang saling terhubung, sehingga dibutuhkan integrasi kebijakan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.
“Anak tumbuh dalam ekosistem yang mencakup keluarga, komunitas, dan kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka. Dalam ekosistem ini, terdapat lima pilar utama dalam tumbuh kembang anak, yakni hak sipil, pengasuhan, kesehatan dan gizi, pendidikan, serta perlindungan. Kelima pilar tersebut harus diperkuat secara bersamaan agar perkembangan anak dapat optimal. Ketika satu pilar lemah, maka seluruh perkembangan anak ikut terdampak,” kata Wamen PPPA.
Lebih lanjut, Veronica juga menyoroti pentingnya peran care economy atau ekonomi pengasuhan dalam mendukung tumbuh kembang anak. Ia menilai beban pengasuhan yang selama ini banyak ditanggung perempuan kerap tidak terlihat dan kurang mendapat dukungan, padahal kondisi ekonomi dan keamanan perempuan sangat memengaruhi kualitas anak.
Sebagai contoh implementasi pendekatan ekosistem, Veronica mengangkat inisiatif kebun komunitas yang tidak hanya berfungsi sebagai program pertanian, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta menciptakan ruang aman di lingkungan masyarakat.
Program tersebut dinilai mampu memberikan dampak langsung terhadap perbaikan gizi anak sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Saya mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga filantropi, untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pengembangan anak. Masa depan anak Indonesia hanya dapat diwujudkan melalui aksi bersama yang terintegrasi, dengan fokus pada penguatan pengasuhan, gizi, ketahanan keluarga, dan lingkungan yang aman,” pungkas Wamen PPPA.
Sementara itu, CEO Tanoto Foundation, Benny Lee, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 31 juta anak usia dini yang menjadi penentu masa depan bangsa.
Namun, ia mengingatkan masih adanya tantangan besar, seperti tingginya angka malnutrisi—di mana hampir satu dari lima anak mengalami stunting—serta rendahnya akses terhadap layanan dasar seperti imunisasi dan pendidikan anak usia dini.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak anak memasuki jenjang pendidikan tanpa kesiapan kognitif dan sosial yang memadai.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan penguatan pendekatan ekosistem, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas anak usia dini sebagai investasi utama menuju Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing global.
Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News


.webp)












