Suarapemerintah.id – Manusia adalah makhluk sosial. Manusia senantiasa berhubungan satu dengan yang lain. Dalam hidup keseharian tentu banyak tantangan yang dihadapi, baik berupa imbauan, nasihat, atau petunjuk. Kendati demikian, tidak mudah memberikan nasihat atau petunjuk kepada sesamanya, apalagi terhadap kenalan, sahabat sekalipun saudara, yang paling dekat.
Ada sebuah anekdot yang mungkin bisa menjadi inspirasi, berjudul “Seorang Pemburu Menangkap Seekor Burung”. Kata burung: “Tuan yang mulia, engkau telah makan banyak lembu dan domba; engkau telah memotong banyak unta, dan itu semua belum puas laparmu. Memakan saya pun tidak akan puaskan engkau. Biarkan saya pergi dan saya akan memberi tiga nasihat kepadamu. Semoga engkau mengerti entah aku ini bijaksana atau bodoh, saya akan memberi engkau satu dari nasihat-nasihat itu ketika saya masih berada dalam genggaman tanganmu, nasihat yang kedua dari atas atap rumahmu, dan nasihat yang ketiga akan saya sampaikan dari atas pohon. Biarkan saya pergi, karena engkau akan menjadi orang yang beruntung dari ketiga nasihat ini.”
Pemburu itu pun setuju. Lanjut burung: “Nasihat yang pertama, dari dalam genggaman tanganmu, adalah ini: Jangan percaya suatu kemustahilan ketika engkau mendengarnya dari siapapun”.
Setelah burung menyampaikan nasihatnya yang pertama, dari dalam genggaman tangan pemburu itu, ia terbang ke atas atap rumah. Katanya: Nasihat yang kedua adalah ini: “Jangan meratapi apa yang sudah berlalu dari padamu, jangan menyesalinya”.
Masih dari atas atap, burung meneruskan, “Di dalam tubuh saya tersembunyi sebutir permata yang besar dan mahal seberat 5 kg. Sebenarnya, perhiasan itu adalah rejekimu dan keberuntungan anak-anakmu. Engkau telah kehilangan, tidak tergantung padamu untuk mendapatkannya”.
Mendengar ini, pemburu itu mulai menangis dengan keras. Kata Burung: “Bukankah saya memperingatkan engkau, jangan ada kepedihan atas apa yang sudah berlalu. Sesuatu yang sudah berlalu dan hilang, mengapa engkau meratap? Apakah engkau tidak mengerti nasihat saya”.
Bagaimana dengan nasihat saya yang pertama kepadamu. “Jangan percaya pernyataan yang mustahil. Berat badan saya saja tidak mencapai 5 kg, bagaimana mungkin mutiara seberat 5 kg ada di dalam tubuh saya?”
Kata pemburu: “Tolong berikan saya nasihat ketiga”. “Tidak”, kata Burung, “melihat engkau tidak menggunakan nasihat pertama dan kedua, memberi engkau nasihat ketiga akan sia-sia!”
Memberi nasihat kepada orang bodoh yang malas sama dengan menabur benih di atas tanah yang tandus. Ya Penasihat Agung, jangan berikan benih kebijaksanaan kepada orang bodoh.
Santo Matius dalam Injilnya tentang menasihati sesama saudara, jika ia berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawahlah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Tidak mudah orang percaya tentang hal-hal yang telah diperbuat tanpa ada saksi mata. Agak sulit meyakini seseorang melakukan kebaikan tanpa ada bukti. Orang sering menasihati tetapi tidak mau mendengarkannya. Tetapi kita yakin semua butuh proses. Apa yang kita berikan entah itu menasihati, memberi petunjuk, pasti akan menyesal di kemudian hari.
Sebagaimana Injil Matius, cerita burung yang tertangkap ini, memberikan pelajaran berharga: jangan pernah menyesali apa yang sudah berlalu, pikirkan tentang sikap waspada untuk kebutuhan yang sekarang. Lebih lanjut, Santo Matius menegaskan sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.
Semoga dengan menerima nasihat dari sahabat, saudara, teman, sebagaimana burung menasihati pemburu, hati kita semakin bahagia karena kita bangga bisa merubah seseorang.


.webp)


















