SuaraPemerintah.id –Â Sesuai arahan Menteri Sosial RI Tri Rismaharini, Balai Besar Kartini Temanggung kini telah mengembangkan pilot project snaemacam alat bantu tongkat penuntun adaptif. Keunggulan tongkat ini adalah dilengkapi dengan bermacam fitur guna mempermudah kegiatan sehari-hari para penyandang disabilitas sensorik netra.
Untuk itu, Mensos Risma menekankan, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya para penyandang disabilitas, Kementerian Sosial berkomitmen untuk tahap awal, tongkat penuntun adaptif telah disiapkan bagi 200 penyandang disabilitas sensorik netra sehingga mereka dapat beraktifitas sendiri.
Para karyawan di Balai Tan Miyat Bekasi, Tri Putri Kurnianingsih menyambut baik adanya tongkat penuntun adaptif yang sangat berguna bagi para penyandang sensorik netra di seluruh Indonesia.
“Tongkat yang dipakai oleh para penyandang sensorik netra masih banyak kekurangannya, seperti ketika ada genangan air, terkadang harus terbentur tembok ataupun terjatuh dan lain sebagainya,” tuturnya di Balai Tan Miyat Bekasi, Rabu (14/7/21).
Dengan hadirnya tongkat penuntun adaptif ini, sangat memudahkan bagi para penyandang sensorik netra untuk melakukan kegiatan sehari-hari sehingga mereka merasa sangat senang.
“Alhamdulillah ini sebuah inovasi yang sangat baik dan harus segera disosialisasikan ke semua penyandang sensorik netra agar diberikan tutorial cara penggunaannya sehingga bisa merasakan manfaatnya,” kata Putri.
Kepala Pilot project tongkat penuntun adaptif, Juena Sitepu yang mendampingi tim Balai Besar Kartini Temanggung, menyatakan adanya tongkat ini sangat sekali bermanfaat di kehidupan sehari-hari para penyandang disabilitas netra.
“Selain tongkat penuntun adaptif, ada juga ada rompi delangkapi sensor yang tengah dikembangkan yang menjadi satu kesatuan paket alat bantu bagi penyandang disabilitas sensorik netra yang memiliki banyak manfaat,” tutur Juena.
Salah satu tim Balai Besar Kartini Temanggung, Windu Darojat menyampaikan detail desain dan fitur tongkat yang dapat berfungsi sebagai identitas penyandang disabilitas sensorik netra untuk mengurangi resiko kecelakaan serta sangat membantu dikondisi bencana, karena alat ini sudah dilengkapi teknologi yang canggih.
“Untuk perakitan alat ini sendiri dikerjakan oleh para penyandang disabilitas fisik, disabilitas sensorik rungu wicara, mahasiswa serta tim ahli elektronik,” papar Windu.
Secara keseluruhan tongkat ini terdiri dari dua fitur, yaitu fitur elektronik dan tongkat. Dalam fitur elektronik terdapat banyak sensor yang bisa mendeteksi asap dan gas berbahaya, genangan air, kobaran api, serta dilengkapi Global Positioning System (GPS) secara otomatis bakal terkoneksi dengan telepon pintar.
“Untuk tongkatnya sendiri adalah tongkat biasa yang dipakai oleh disabilitas sensorik netra, namun ditambah lubang-lubang di bagian permukaannya lalu ditanamkan alat sensor guna mendeteksi jarak dan kondisi di sekitar dan akan merespon cepat berupa suara maupun getaran yang bisa dirasakan dan didengar oleh si pemegang tongkat,” terangnya.
Pada fitur elektronik terdapat 5 mode, berupa getaran, suara, getaran dan lampu menyala, suara dan lampu, serta panic button. Untuk daya modul elektronik menggunakan baterai yang bisa diisi ulang menggunakan tenaga surya atau solar cell kurang lebih setengah hari, diisi dengan cara di charge seperti handphone selama 2-3 jam. Atau dengan cara lain juga bisa diisi daya dari cahaya lampu LED, namun sangat memakan waktu.
“Ke depan, tongkat penuntun adapatif sebagai inovasi sangat membantu para penyandang sonsorik netra akan terus dievaluasi dan dikembangkan sehingga lebih bermanfaat dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” tutup Windu.
(drs)


.webp)


















