Rabu, Januari 28, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Janji Bung Hatta, Tidak Mau Menikah Sebelum Indonesia Merdeka

SuaraPemerintah.ID– Tepat hari ini 12 Agustus 1902, 119 tahun lalu di Bukittinggi lahir Mohammad Ahtar kelak bernama menjadi Hatta. Manusia ini bahkan di juluki “pendeta” oleh teman temannya di Belanda. Saat masih mahasiswa di Belanda Ia pernah di taruh satu kamar dengan perempuan bule. Tapi sampai pagi tidak disentuhnya. Esok harinya perempuan itu komplain.

“Teman mu itu seperti pendeta, Ia bahkan sama sekali tak menoleh pada ku,” kata wanita bule tersebut kepada kawan Hatta.

- Advertisement -

Buku adalah “istri” pertamanya Bung Hatta. Tapi beliau setia pada satu wanita. Walau ilmu agamanya tak pernah belajar di pesantren. Bahkan pak Idham Chalid pernah berujar bahwa Hatta itu bagai santri karena ilmu agamanya tinggi.

Tak pernah menghakimi orang lain karena orang itu kurang ilmu agama tapi Hatta tak pernah melakukan “Sunah” Nabi yang satu itu (poligami). Karena tahu manusia belum tentu bisa adil.

- Advertisement -

Sebagai manusia, Bung Hatta juga punya kelemahan, terlalu saklek alias kaku. Tapi itu lah manusia, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Saat Ahtar berpulang
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…

Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat

Yang tak lepas dari namamu…

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas, jiwa sederhanamu

Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

Jakarta mendung pagi itu, namun lautan manusia tak bisa di bendung!. Rakyat ingin mengantar manusia pilihan terbaik Indonesia yg berpulang hari itu!.

Ya, Bung Hatta meninggal tanggal 14 Maret 1980. Pada 3 Maret 1980, Bung Hatta masuk RS Cipto Mangunkusumo untuk menjalani serangkaian perawatan. Itulah untuk terakhir kalinya Bung Hatta pergi meninggalkan rumah.

Pada 13 Maret 1980, kondisi fisik suami Rahmi Rachim itu kian merosot sehingga harus menjalani tindakan medis di ruang ICU. Pada pukul 18.56 WIB, hari Jumat, 14 Maret 1980, Ia menghembuskan nafas terakhir. Bung Hatta wafat dengan tenang didampingi sejumlah anggota keluarga tercinta.

Berbondong rakyat Jakarta memenuhi jalan dari rumah duka ke arah pemakaman di tanah Kusir. Jakarta.
Hatta memang bukan Soekarno! Hatta itu biasa! Bahkan photo photo pemakaman beliau tak ada di sebaran internet! Tak ada kisah haru biru seperti drama dalam pemakaman seperti rekan seperjuangan sesama Proklamator!.

Tak ada kisah dramatis tentang wasiat di mana makam beliau, hanya pemakamam umum seperti rakyat biasa.

Tapi ribuan rakyat berjejal. Menunggu dengan sabar untuk memberi penghormatan terakhir pada orang sederhana bahkan dulu tak sanggup beli sepatu. Bahkan seorang Iwan Fals menulis lagu khusus tentang kepergian Proklamator ini.

Teguhnya pendirian putra Bukittinggi ini pada prinsip mungkin tak akan bisa ditiru manusia lain.
Menikah hanya saat Indonesia sudah Merdeka, tepat waktu dan buku milik beliau yang tak boleh di lipat apapun alasannya adalah beberapa contoh betapa keras prinsip beliau.

Saat mendengar prajurit KKO Usman dan Harun tetap akan di eksekusi mati, Bung Hatta mendengar itu lalu berujar pada istri beliau Ibu Rahmi bahwa tidak akan pernah lagi menginjak kakinya di tanah Singapura.

Dan memang Bung Hatta sampai akhir hayatnya tetap tidak mau ke Singapura. Baginya Singapura adalah tanah “Haram”, sekalipun itu buat berobat saat beliau sakit.

Dan berkali kali undangan ceramah dari berbagai kalangan di Singapura, baik Universitas dan Badan badan tertentu di tolak Bung Hatta. Konon Kedutaan Besar Singapura di Jakarta tidak akan berani masuk ke halaman rumah Bung ini karena sudah pasti di “usir” walau secara halus..

 

(Beny Rusmawan)

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru