Rabu, Februari 4, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Kabar Baik Dari Presiden Jokowi & Sri Mulyani Soal Covid 19 & Ekonomi

SuaraPemerintah.ID – Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar baik dalam hal penanganan Covid-19 di Indonesia, setelah badai varian delta sejak Juni 2021 lalu.

“Alhamdulillah, kasus Covid-19 terus menunjukkan tren penurunan,” tutur Jokowi beberapa waktu lalu.

- Advertisement -

Saat ini Indonesia sudah tidak masuk dalam 10 negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia. Meski penduduk Indonesia menjadi yang terbesar keempat terbanyak di antara negara-negara di dunia.

Jokowi mengungkapkan pihaknya optimis dalam penanganan covid-19, namun demikian kewaspadaan harus tetap dijaga.

- Advertisement -

“Kita sangat optimistis, tetapi kita tetap harus selalu waspada. Sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia tidak masuk dalam 10 besar jumlah kasus tertinggi di dunia,” paparnya.

Mengenai keterisian rumah sakit atau BOR (Bed Occupancy Rate) rata-rata saat ini berada di angka 13,8 persen. Sementara wisma atlet yang di mana sempet mengalami kenaikan BOR pada 92 persen kini turun 7 persen per 12 September.

“Angka positivity rate kita di 2,64 persen lebih baik dari dunia pada 8,34 persen,” terangnya.

Selanjutnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut menyampaikan kabar baik dari perekonomian Indonesia. Meskipun belum lama ini Indonesia diterjang badai covid varian delta.

Kabar baik ini diawali dengan rendahnya kasus covid-19, baik di dalam wilayah Jawa-Bali maupun di luar. Sehingga mobilitas mulai ada peningkatan, seperti yang terlihat di wilayah perkantoran hingga ritel.

“Kalau semua daerah bisa turunkan covid dan stay low maka pemulihan ekonomi akan cepat,” ujarnya akhir pekan lalu.

Penjualan ritel di Agustus juga meningkat. Tercermin dari Mandiri Spending Index yang naik ke level 95,6. Indeks Keyakinan Konsumen diakui masih berada dalam level yang rendah, akan tetapi Sri Mulyani meyakini sudah ada pembalikan.

Dari sisi produksi, perkembangan positif ditunjukkan indeks PMI Manufaktur Indonesia yang berada naik ke level 43,7 walaupun masih berada di zona kontraksi.

Konsumsi semen dan volume impor besi dan baja tumbuh masing-masing 2,5 persen dan 33,1 persen. Konsumsi listrik bahkan tumbuh 14,4 persen seiring dengan peningkatan aktivitas industri. Ini turut mendorong adanya pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal.

Kabar sangat baik muncul dari neraca perdagangan. Lonjakan harga perdagangan mengantarkan peningkatan ekspor sebesar 64,1% dan surplus neraca perdagangan US$ 4,74 miliar yang tertinggi sepanjang masa.

“Ini gambarkan pemulihan ekonomi cukup solid dan kita harapkan bisa terus berjalan,” ujarnya.

Atas dasar itu, Sri Mulyani optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal III tumbuh 4-5 persen. Ditopang oleh ekspor dengan pertumbuhan 20-22 persen, konsumsi rumah tangga 2-2,4 persen dan investasi 4,9-5,4 persen.

“Efektivitas dari PPKM luar biasa menjaga dan kendalikan delta varian di seluruh Indonesia telah berikan dampak positif bagi kita semua. Kuartal III proyeksi meningkat 4-5 persen,” kata Sri Mulyani.

Pada kuartal IV diperkirakan ekonomi bisa meningkat lebih tinggi dan keseluruhan tahun bisa mencapai rentang 3,7-4,5 persen.

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru