spot_img

BERITA UNGGULAN

Pempek Ceksiti, Jatuh Bangun Rintis Usaha Kuliner Mendulang Sukses

SuaraPemerintah.ID – Kerja keras tidak menghianati hasil, begitu sebuah pepatah yang sering kita dengar. Nah,dalam menjalankan bisnis atau usaha tentunya selain modal juga banyak rintangan dan tekad kuat untuk bisa berdiri dan bertahan sehingga mencapai kesuksesan.

Salah satunya, usaha pempek khas Palembang milik Siti Nur Alawiyah yang diberi nama pempek Ceksiti terbilang sukses dan masih tetap bertahan meski saat pandemi Covid-19. Pelanggannya mulai dari masyarakat biasa sampai para pengusaha, selebritis kondang tanah air sudah mencicipi pempek buatan Siti tersebut.

- Advertisement -

“Pertama Kali usaha pempek sebenernya turun-temurun dari keluarga. Dari uyut, kakek, papah, ke saya. Awalnya saya bikin usaha pempek ini berfikiran enggak mau usaha ini berhenti sampai disini,jadi memang dari dulu niatnya dagang, saat kuliah ngambil jurusan ilmu komunikasi sekalian dagang, mau punya usaha sendiri, mau ngembangin lagi lebih besar. Awalnya nama brandnya Fapiku,” kata Wanita kelahiran Palembang ini,saat diwawancarai redaksi suarapemerintah.id, Senin (20/09/21).

Siti mengungkapkan, usaha jualan Pempek asli Palembang ini sudah ada sejak lahir, dari Palembang merantau ke serang, Banten, ikut ayah dan ibunya. Setelah itu, Siti pindah lagi ke Palembang dan tetap berjualan, suka duka kerap menghampiri Siti, namun jiwa bisnisnya mengalahkan semua hambatan tersebut.

- Advertisement -

“Jatuh bangun berkali-kali, merek pempek dari pakai nama papihku, ganti menjadi nama saya pempek Cek Liyah, mengapa Cek Lia?, Sebab pada waktu itu pertama kali buka pempek lenggang model tekwan, karena pempek biasa sudah banyak saya mau bikin beda dengan lain. Maka, dibikinlah pempek dengan nama brandnya Cek Liyah. Sambil kuliah saya dagang, pagi jualan, sore kuliah,” cerita Siti.

Bukan sampai di situ saja, Siti juga memaparkan saat pindah ke Bekasi masih tetap jualan menggunakan brand nama ayahnya, namun kurang menjual. Maka dari itu, Ia merubah brad memakai nama pempek Cek Liyah dan terbukti bisa menjual brand tersebut, dagangan laris hingga sampai tahun 2015.

“Dari situ saya pindah ke Bekasi, pakai nama papah, tapi gak jalan, yaudah pakai nama Cek Liyah, lumayan bertahan sampai tahun 2015. Menginjak tahun 2016 mulai berganti nama Ceklis, singkatan dari nama saya dan suami. Pempek Ceklis kita kembangkan, jalan 2 sampai 3 tahun mulai booming (meledak) dikenal orang banyak. Terus sekarang mikir pengen kembangin usaha, dan akhirnya dibranding lagi namanya menjadi ceksiti,” tuturnya.

Lebih jauh Siti mengungkapkan, awal berdagang memang sudah tumbuh dari kecil, sebab keluarganya memang pedagang dan darah jiwa wirausaha tersebut menurun ke Siti. Tempaan mental sudah dijalankan, sehingga rasa gengsi tidak ada lagi. Sampai-sampai waktu masa pacaran dengan suami saat itu pacarannya sambil jualan pempek. Beda dengan pacaran anak muda umumnya ke Mall dan tempat wisata. Siti lebih memilih ‘bertemu pacar’ di tempat dagangan, sambil berjualan.

“Kalau jiwa dagang saya dari kecil, udah dagang sama orang tua, jadi yang namanya laku gak laku, sepi pembeli, kepanasan, udah ketempa dari kecil. Kalo sama suami sejak pacaran, dagang juga. Jadi kalau orang-orang pada pacaran jalan ke mall kita dagang. Saat kuliah, kita berdua mutusin buka usaha berdua, waktu itu sudah semester akhir,karena harus skripsi, usahanya dipending. Akhirnya setelah nikah, mulai bener-bener fokus jualan bareng suami,” Sambung Siti mengisahkan perjalanannya.

Soal status kesarjanaan, Siti berpendapat bahwa ilmu komunikasi selama dipelajari bisa membantu dalam hal cara berkomunikasi dengan pelanggan dan memasarkan produk. Jadi, tidak ada yang sia-sia apalagi tidak terpakai ilmu kesarjanaan tersebut.

“Walaupun saya kuliah jurusan komunikasi, tapi profesi dagang, bukan nggak dipakai sih, kita terapkan ilmu didapet ketika kuliah diusaha kita, seperti rebranding nama, marketingnya. Begitu juga suami sarjana psikologi, Ia memahami karakter pelanggan,kita terapkan ilmunya ke pelanggan. Jadi ya kita berdua kolaborasi ilmu untuk dapat menerapkan diusaha kita,” paparnya.

Untuk Jiwa (mental) dagang, Siti bersama suami punya ‘jurus’ tersendiri sehingga segala ujian dan cobaan bisa terlewati dengan mudah. Kuncinya tetap semangat dan berbagi dalam hal kebaikan. ‘Tuhan tidak tidur’ begitu pribahasa jika berbuat kebaikan pasti Allah bakal menolong hambanya darijalan tak terduga.

“Rahasianya kita tetep percaya sama Allah SWT, ikhtiar, pasti ada jalan. Pada saat kita buka usaha berdua, pas slsai nikah buka usaha didepan sekolahan, Nah disitu sempat khawatir karena bangunannya mau dibongkar,soalnya baru buka dagangan. Itu salah satu ujiannya,” kenang Siti.

 

Kekhawatiran tersebut terjawab, saat warung pempeknya ditutup lantaran bangunannya mau dijadikan tempat lain, Siti dan suami punya ide kreatif, yakni jemput bola pelanggan dengan cara menelpon, menawarkan dagangan via media sosial dan teknologi.

“Dari situ kita ada ide kreatif, kita mulai nelponin langganan-langganan, ‘jemput bola’ ke pelanggan tawarin untuk beli pempek.Soal gengsi, ilangin dulu gengsinya. Kita dengan cara dagangan ‘jemput bola’, jangan nungguin orang beli, kalo kita nunggu orang beli enggak bakalan laku. Akhirnya dengan cara seperti itu datanglah reseller, Mbak, saya mau jualin pempek Mbak, saya menjadi reseller, saya kerja di BNI Syariah di Jakarta, saya kerja di BCA Sudirman, boleh ga saya jualin pempek Mbak Siti” cerita Siti.

Dari situ, masih kata Siti, kita mulai perluas jaringan ke kantor-kantor pemerintahan, artis-artis. Awalnya dari kenalan dan dengan menggunakan sistem ‘jemput bola’ pempek ceksiti ini kita dipromosikannya dari mulut ke mulut.

Perihal strategi berdagang, Siti tidak khawatir bakal ditinggalkan pelanggan, sebab Ia tetap menjaga kualitas rasa dan bahan baku yang terbaik dimilikinya dan tidak dipunyai orang lain. Mulai dari rasa bumbu sampai mensuplai kebutuhan bahan olahan dijaganya dengan baik dan 100 persen halal. Selain itu Ia membuat inovasi pempek khusus ulang tahun.

“Strateginya pertama, masalah kualitas rasa dan bahan baku yang terbaik. Kemudian kita konsep dalam kemasan menarik (inovasi), kalo kirim jauh menggunakan tempat khusus sehingga tahan lawa dan tidak basi. Inovasi lainnya dengan bikin pempek khusus ulang tahun. Awalnya saya bikin pempek ulang tahun ini buat ponakan, tapi banyak pelanggan yang suka dan pesan,” ungkapnya.

Dalam usaha semua orang tentu ingin sukses dan tetap eksis di pasaran. Begitu juga harapan Siti dan sang suami agar usaha pempek Ceksiti tetap ‘berkibar’.

“Kedepan kita ingin punya tempat di mana kalo orang tanya, tempatnya di mana?. Nah kita bisa kasih tahu. Soalnya kan sekarang kita sewa tempat pindah-pindah jualannya. Selain itu, targetnya kita ingin punya kios atau ruko,” harap Siti.

Kisah sedih juga dialami Siti dan suami saat merintis usaha jualan pempek. Beberapa kali ganti nama dan banyak orang tidak bayar, bahkan pernah dikerjain ‘prank’ oleh orang yang tidak dikenal. Memesan makanan tapi alamatnya palsu, alhasil dirinya mengalami kerugian.

“Sedihnya pada saat ganti nama brand dagangan. Sebab dengan ganti nama kita memperkenalkan brand dari awal lagi, dari nol lagi. Apalagi saat ditipu orang, dari ratusan ribu, hingga jutaan rupiah, orang tidak membayar abis makan. Intinya kudu punya imu ikhlas. Dan kami yakin pakai nama baru ceksiti ini kita bakal bangkit lagi.Dukanya yang paling down itu ya pada saat ganti nama brand,” ungkapnya.

Perihal manajemen keuangan, Siti mengaku dirinya sebagai ‘manajer’ keuangan. Mengatur pengeluaran dan pemasukan, operasional serta biaya untuk beli bahan-bahan pempek. Sementara sang suami mencari bahan-bahan ke pelelangan ikan, mencari ikan segar dan bagus sehingga kulaitas rasa terjaga.

“Kalau urusan keuangan saya yang atur, masalah modal, tapi kalo masalah harga bahan baku bang sabil (suami) yang mencari,” imbuh Siti.

Bagaimana kegembiraanya udh punya usaha pempek yang sudah dirintis hingga saat ini

Dengan perjalanan panjang berjuanaln pempek, Siti merasa bersyukur. Sebab dirinya dan suami masih bisa berjualan sampai saat ini, apalagi saat pandemi di mana orang-orang kesulitan pendapatan, bahkan kehilangan pekerjaan. Di situ Ia bersama suami merasa beruntung masih dikasih rezeki oleh Allah SWT sehingga bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga dan kedua buah hatinya.

“Lebih banyak bersyukur, mau dapet (uang) dikit, atau banyak kalo disyukuri pasti bahagia,” ucapnya.

Pada kesempatan sama, suami Siti yakni Bang Sabil mengatakan bahwa ada saja orang yang menganggap sebelah mata alias nyinyir lantaran lulusan sarjana malah jualan pempek bukan kerja di kantoran atau di perusahaan. Baginya menjadi Bos di tempat usaha sendiri lebih bangga daripada bekerja dengan orang lain.

“Kalau saya sih senyumin ajah, orang bilang apa, terserah, saya enggak pikirin. Kalo difikirin pasti otomatis masuk ke hati, otak, kita stres. Kalo kita stres kita cape, kalau kita cape, ada gajalan (hambatan)usaha kita. Jadi kalau ada masaalah kita merenung, salat, ikhtiar, berdoa. Intinya yakin ada Allah, yakin di depan ada jalan keluar, yakin kalau kita masih bisa terus bergerak usaha(jualan),” tandas Bang Sabil.

Pada saat pandemi saat ini, Bang sambil mengaku tetap terapkan strategi ‘jemput bola’ kep elanggan meski lokasinya jauh dan kepanasan, kadang kehujanan, macat dijalan. Sebab pelayanan ke pelanggan lebih diutamakan, tidak mau mengecewakan pelanggan.

“Siasatnya dengan cara jemput bola lagi, jadi kita pernah nganter dari Bekasi hingga ke Banten. Itu kita lagi sepi orderan, kita balik ke strategi awal tawarkan pelanggan melalui telpon dan jemput bola,” kata Dia.

“Kalo konsumen artis mungkin lebih ke isteri (Siti). Sebab dulu Ia sempet magang di sebuah stasiun televisi swasta, magang sambil dagang, jadi kalo di sana ada bazar, Isteri tuh jualan pempek, biasanya kalo ada bazar gitu ada artis dateng. Artis yang pernah mencicipi pempek ceksiti di antaranya, Uya Kuya, Ruben Onsu, Alm. Sapri, Harry Deferetes, dan masih banyak lainnya,” tutur Bang Sabil.

Bang Sabil mengaku, usaha pempek ceksiti ini sudah 5 tahun berjalan dikelola berdua beresama Isteri (Siti). Ia menilai bahwa usaha saat ini harus lebih ‘melek digital’, karena tanpa menguasai teknologi, terutama medosos, usaha kemungkinan menjadi sulit berkembang, apalagi saat pandemi sekarang ini.

“Dengan sosial media penjualan bakal meningkat,” kata bang Sabil.

Dengan adanya program pemerintah memajukan Usaha Mikro Kecil dan menegah (UMKM), Bang Sabil bersama isteri menyambut baik, apalagi pemerintah meluncurkan untuk pengurusan sertifikat halal, sehingga meudahkan pedagang kecil, termasuk soal izin usaha dan peraturan terkait lainnya.

Pesan Bang Sabil untuk para milenial atau mereka yang ingin memulai usaha yakin, buang rasa malas dan gengsi, manfaatkan gatget untuk promosi dagangan, niat harus kuat (tekad) dan lakukan untuk memulai usaha tersebut.

Lebih jauh, bang sabil memberikan jurus jitu menghilangkan gensi berjualan, yakni ubah pola pikir. Bahwa menjadi seorang wirausaha adalah menjadi bos di tempat kerjanya sendiri. dan terpenting, saling berbagi ke sesama alias sedekah.

“Ubah mindsetnya, meskipun kita usaha kecil-kecilan jadi pedagang, tapi kita itu udah jadi pengusaha. Bos di dagangan kita. Beda dengan pegawai kantoran, meski dia kerja di kantoran tapi tetap menjadi pegawai. Yang utama lagi, jangan lupa sedekah. Kunci semangat yang diterapkan dalam mengahadpi rintangan dalam usaha saling berbag,” tutup Bang Sabil.

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru