SuaraPemerintah.ID – Saat ini sosial media seakan tidak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup seseorang. Tak terkecuali bagi para anggota legislatif.
Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera, paham betul bagaimana sosial media mampu membantu kinerjanya sebagai anggota dewan yang dipilih mewakili rakyat.
Ketika ditemui suarapemerintah.id di kantor DPP PKS, Mardani menuturkan saat ini eranya sekarang udah menuju ke sosial media, bahkan sekarang orang udah lebih banyak liat handphone daripada melihat tv.
“Nah saya sadar itu, akhirnya saya reorganisasi tim, yang tadinya tim itu banyak bikin rilis, sekarang jadi lebih fokus ke twitter, facebook, instagram, belakangan tiktok. Karena kita sadar setiap orang itu jurnalis di era sosial media,” kata Mardani.
Baginya sosial media itu bermanfaat, karena sebagian besar foloowersnya merasa ketemu langsung melalui sosial media. Menurutnya sosial media itu adalah perkara bagaimana caranya tetap engage sama followers dan selain itu media massa juga mengutip.
“Belakangan saya lihat wartawan gak terlalu minat sama rilis, mereka lebih suka ngutipnya dari sosial media. Kalau bikin rilis waktunya lama, bisa dua sampai tiga jam. Tapi kalau pakai sosial media, saya bisa posting sesuatu untuk melihat reaksi warganet,” ujarnya.
Meski demikian, Mardani menuturkan tetap ada kendala dalam pemanfaatan sosial media. Menurutnya kendala utama adalah perbedaan karakter di masing-masing platform sosial media.
“Contohnya facebook untuk kelas menengah bawah kita gak bisa pakai kalimat yang rumit, twiter buat pengambil kebijakan kita gak bisa detail karena di sana yang kepakai itu kalimat yang pendek dan tajam, kalau ig buat anak muda itu harus seimbang antara konten sama environment kadang-kadang cerita soal kucing, kalau tiktok itu buat anak yang lebih muda lagi,” ujarnya
“Nah menemukan formulanya itu yang jadi tantangan buat kami, kalu rilis kan satu aja tuh. Pernah ada satu kasus satu orang tanggung jawab dua akun, facebook dan twitter. Twitternya bagus tapi facebooknya kurang, karena kendala pemilihan kalimat itu tadi, akhirnya saya pisah.”
Untuk memanfaatkan momen yang sedang viral, Mardani selalu menuruti saran tim media. Asalkan konten itu tidak hoax, tidak fitnah, dan tidak menebar kebencian dia selalu mengikuti saran timnya.
Dalam menyikapi kritik atau sentimen negatif di sosial media, Mardani mengaku santai dan menerima. Karena menurutnya suka atau gak suka, itu nomor dua yang penting adalah menginformasikan yang dikerjakan.
“Kan bad news is a good news. Jadi persepsi masyarakat ke anggota dpr juga gak bagus, meskipun yang baik juga ada. Tapi kan yang baik-baiknya tertutupi. Jadi saya memaklumi, dan itu gak usah dimarahi. Kalau di bisnis itu consumer is the king, kalau di politik voters is the king,” ujar Mardani.


.webp)













