SuaraPemerintah.ID – Jagat politik nasional kembali gaduh oleh rumor penjegalan pencapresan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang memang telah mengumumkan siap maju ke Pilpres 2024 ke media asing, Reuters, di Singapura, pekan lalu.
Berbasis data yang dihimpun Drone Emprit, rumor penjegalan Anies, yang utamanya datang dari para politisi utama Partai Demokrat, kian menyeruak dalam percakapan di media sosial dan pemberitaan media online. Andi Arief dan Benny K Harman menjadi motor amplifikasi rumor tersebut, yang pada gilirannya juga diamini oleh politisi PKS Mardani Ali Sera.
“Benny menyebut gangguan terhadap Anies bisa datang dalam berbagai bentuk, termasuk lewat kasus hukum. Namun, dia menyebut invisible hand ini akan menghalangi Anies maju di 2024,” ujar salah satu akun yang identik sebagai pendukung loyal Anies.
Polemik penghadangan Anies terdeteksi tambah hangat menyusul pidato Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Rapimnas partai tersebut. Partai politik yang diketuai putra sulung SBY itu memang terbaca getol mendorong Anies Baswedan-Agus Harimurthi Yudhoyono sebagai pasangan duet di Pilpres 2024 mendatang.
Pilpres 2024, kata SBY, bisa curang dan tidak jujur. Presiden ke-6 tersebut mensinyalir adanya indikasi capres–cawapres akan dimonopoli entitas tertentu, sehingga kandidat Partai Demokrat berpotensi tersingkir. Narasi yang dihembuskan ini oleh sebagian pihak kemudian dikait-kaitkan bakal terhadangnya duet Anies-AHY.
“Kebingungan yang paling nyata dari sang Mantan menjelang Pilpres 2024. Dagangan andalannya yaitu AHY ternyata belum cukup mutu. Tidak ada yang minat, belum ada yang mau menawar. Prihatin,” demikian satu di antara reaksi haters SBY/AHY dalam cuitannya.
Pada kolom-kolom berita media siber yang dipantau Drone Emprit, sejumlah petinggi partai politik telah merespons hembusan isu penjegalan dan sinyalemen Pilpres curang itu. Petinggi PKS menyebut, narasi SBY ini mesti dibaca sebagai peringatan untuk diwaspadai.
Poros Nasdem-Demokrat-PKS sudah jamak diketahui publik punya gestur kecenderungan ke Anies. Namun, rupa-rupanya, dalam hal isu penjegalan yang semilir ditiupkan Demokrat itu, hanya PKS yang mengamini, tidak oleh Nasdem. Petinggi Nasdem justru memperingatkan SBY agar tak bikin gaduh saat ‘turun gunung’.
PKB juga bereaksi negatif tentang rumor penjegalan. Dan, tentu, PDIP yang bersuara paling keras dan ofensif. Lewat konferensi pers, Sekjen PDIP Hasto Kristyanto mengatakan, pernyataan SBY itu tidak kurang dari kekhawatiran anaknya, AHY, tak kebagian kursi untuk berlaga di Pilpres 2024.
“Bisa tidaknya Demokrat mencalonkan AHY dalam pilpres jangan dijadikan indikator sebagaimana tuduhan adanya skenario pemerintahan Pak Jokowi untuk berbuat jahat dalam pemilu,” ujar Hasto.
Jual-beli narasi penjegalan Anies, AHY atau Anies-AHY tersebut tak pelak mendatangkan traffic percakapan yang tinggi terhadap kedua figur. Sebagian besar akun yang bertendensi negatif terhadap Anies, juga bersuara negatif ke AHY. Mereka berada dalam satu klaster haters kedua figur.

Sebaliknya, para pendukung Anies dan simpatisan AHY terbaca berada dalam satu frekuensi: cenderung saling dukung dalam hasrat menduetkan Anies-AHY. Memang, partisan AHY yang terdeteksi lebih agresif dalam mendorong duet dua figur. Tapi belum terpantau penolakan oleh kubu pendukung Anies terhadap AHY.
Hal demikian tentu tidak mengherankan, karena toh, Anies dan AHY sama-sama dipersepsikan sebagai antitesa/opisisi terhadap pemerintah petahana saat ini.


.webp)


















