SuaraPemerintah.ID – Presiden Jokowi memang tak menyebut nama. Namun, telunjuk Jokowi yang mengarah ke capres berambut putih di depan relawannya blak-blakan mengarah ke Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Itulah kode keras untuk suksesor 2024 yang dinilai paling kompatibel dengan kepentingan Jokowi usai lengser sebagai Presiden. Meme sosok beruban viral dimana-mana.
Memang, bukan pertama kali Jokowi melontarkan kode capres pilihannya. Kode-kode yang mengarah ke sejumlah figur, termasuk ke Menhan Prabowo Subianto pada momen sebelumnya. begitu seru dibahas publik. Penuh kontroversi.
Di media sosial, sebagaimana laporan yang dilansir Drone Emprit, limpahan dukungan ke sosok berambut putih ini terbaca menjadi pembakar semangat simpatisan Ganjar. Jika para praktisi politik menilai figur beruban bisa multi makna dan karena merupakan polisemi—suatu ujaran yang punya makna lebih dari satu, maka di media sosial, frasa itu dimaknai sebagai restu Jokowi untuk Ganjar.
Tak pelak, sorak bergemuruh. Pendukung Ganjar seperti diterpa angin semilir. Polisemi Jokowi tersebut ditafsirkan beragam secara afirmatif. Pertama, oleh pendukung Ganjar, ucapan Jokowi tersebut mesti menjadi pelecut untuk simpatisan presiden menetapkan hati ke Ganjar.
Kedua, dukungan Jokowi ini dimaknai sebagai keberlanjutan pembangunan masif saat ini. Ganjar adalah garansi kontinuitas narasi besar petahana tentang mega infrastruktur, dialah sosok yang identik sebagai The Next Jokowi.
Ketiga, kode keras Jokowi itu dikaitkan dengan sejumlah nama yang digadang-gadang juga pas mendampingi Ganjar. Misalnya, Menteri BUMN Erick Thohir maupun Prabowo Subianto. Erick dianggap sama-sama ‘orangnya jokowi’ sehingga disebut cocok berpasangan dengan Ganjar. Begitu pula Prabowo.
Betapa pun sukacita pendukung Ganjar begitu menggelora, ujaran pedas pembenci Jokowi maupun Ganjar berlangsung cukup sengit. Rupa-rupa cibiran diedarkan dalam beragam perspektif. Satu, haters menghardik Jokowi, dengan mengontraskan luber dukungan ke Ganjar dengan absennya kode sokongan ke Ketua DPR yang juga anak Ketum PDIP, Puan Maharani.
Dua, Jokowi dirundung karena main kasar. Disebut begitu karena terlalu vulgar rekomendasikan Ganjar di depan relawan. Di depan umum. Ada narasi tentang ketikpatutan, ada pula mengenai ketidaknetralan sebagai kepala negara.
Tiga, telunjuk Jokowi ke arah Ganjar juga dimaknai sebagai alternatif pilihan setelah pro pemerintah gagal mengusung narasi tiga periode. Ganjar dianggap bisa jadi boneka menyusul kegagalan memuluskan kepentingan tetap berkuasa selama tiga periode.
Apapun, polemik yang menyertainya, kode uban putih ini begitu hangat dipercakapkan. Lebih-lebih, pasca akun pribadi Ganjar Pranowo mengunggah foto dirinya yang berambut hitam. Reaksi jenaka dan spekulatif membludak, khususnya dari simpatisannya.
Viralitas itu pula yang, menurut data Drone Emprit, membuat mentions tentang Ganjar melonjak luar biasa sesaat setelah Jokowi melontarkan endorsement soal sosok pemimpin masa depan dengan wajah berkerut dan berambut putih itu.

Penyebutan tentang Ganjar di media sosial Twitter mencapai puncaknya pada 26 November, yakni sebesar 14,3 ribu mentions. Sehari setelahnya, mencapai puncak pemberitaan di media berita online dengan 1,8 ribu mentions.
Dari segi tendensi, sentimen positif masih mendominasi. Di Twitter, mencapai persentase 69%, berbanding sentimen negatif 19% dan 12% sisanya adalah sentimen netral. Dominasi sentimen positif menunjukkan narasi ini dikuasai oleh pro Ganjar. Sebaliknya, pembenci Ganjar, kendati masuk dalam isu ‘rambut putih’, namun tak berlangsung secara sistematis dan masif.


.webp)


















