SuaraPemerintah.ID –Â Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati ikuti secara langsung workshop Koordinasi dan Sinkronisasi Mahasiswa Membangun 1.000 Desa yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Brawijaya (UB).
Pelaksanaan workshop yang diselenggarakan secara daring tersebut, diikuti oleh Bupati Mojokerto Ikfina di Ruang Rapat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Mojokerto pada Rabu (4/1) pagi.
Pada kegiatan tersebut turut juga dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa (DPMD) Kabupaten Mojokerto Yudha Akbar Prabowo, Kepala BAPPEDA Kabupaten Mojokerto Bambang Eko Wahyudi.
Dilaksanakannya workshop tersebut, bertujuan untuk menyelaraskan tujuan dari program Universitas Brawijaya dengan mengajak mahasiswa dan dosen-dosen untuk turun ke desa dalam program membangun 1.000 desa.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo menyampaikan bahwa program membangun 1.000 desa itu, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensi mahasiswa untuk memahami problematika di masyarakat dan menjalankan fungsi perguruan tinggi sebagai pengembang serta menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Meningkatkan kapasitas mahasiswa ini sangat penting karena, sebagai institusi kita memiliki kewajiban untuk mendidik generasi bangsa,” ujarnya.
Widodo juga menjelaskan, bahwa Universitas Brawijaya juga memiliki data center yang sangat kuat dan cloud computing untuk pengembangan IPTEK yang dapat dianalisis dari problem yang ada di masyarakat dengan menggunakan perangkat-perangkat dan teori-teori yang ada.
“Sehingga, data-data ini bisa kita generalisasikan dan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak. Misalnya dari pihak pemerintah bisa digunakan untuk pembuatan peraturan-peraturan,” ujarnya.
Sementara itu, dalam membangun dan mengembangkan desa, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengungkapkan, dalam melaksanakan pembangunan tersebut bersifat top down dan sentralistik, sehingga dapat simpulkan bahwa desa adalah bukan subjek dari pembangunan.
“Bahwa motor pertumbuhan adalah kota bukan desa, dan pandangan ini diperkuat dengan landasan teori yang mengatakan bahwa kota lebih efisien untuk menciptakan aglomerasi,” jelasnya.
Terkait aglomerasi, Emil juga menjelaskan, akan menciptakan suatu efisiensi dan ekonomi soft skill, kendati demikian juga berdampak negatif dari hal tersebut seperti adanya kemacetan, polusi, harga properti semakin tinggi, dan menyebabkan biaya hidup yang tinggi.
“Nah, inilah kemudian di distrubsi besar-besaran dengan adanya teknologi digital, yang memungkinkan hal-hal yang kita cari dari aglomerasi ini bisa diwujudkan tanpa harus melakukan aglomerasi itu sendiri,” ujarnya.
Selain itu, dengan dilaksanakannya program membangun 1.000 desa, Emil menilai, dapat membuat desa punya kesempatan untuk maju. dengan melaksanakan kegiatan ekonomi yang dulunya hanya bisa dilakukan di kota seperti penyedia jasa dan perdagangan.
“Nah ini kemudian peluang yang terbuka harus dijawab dengan sumber yang sesuai, nah sumber daya ini lah yang tentunya masih sangat terbatas di pedasaan yaitu knowledge,” ujarnya.
Untuk mengatasi permalasahan knowledge di desa, Emil mengharapkan, dengan dilaksanakan program membangun 1.000 desa dapat menyuntikkan knowledge ke desa-desa tersebut, sehingga desa dapat lebih adaptif dan cepat dalam menangkap peluang kegiatan ekonomi yang muncul.
“Bagaimana kemudian tanpa harus pindah ke kota tetapi kita bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh orang kota,” bebernya.
Selain itu, orang nomor dua di Provinsi Jawa Timur juga mengatakan, bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur sangat mendukung dan siap untuk bersinergi dalam melaksanakan program membangun 1.000 desa.
“DPMD adalah dinas yang mengurusi ini, kita tahu kemiskinan desa turun di tahun 2022. Jadi penurunan desa tertinggal untuk 5 tahun bahkan 10 tahun terakhir sudah kita capai, dan jarak antara desa dan kota semakin mengecil,” jelasnya.
Emil juga mengimbau, agar melaksanakan rapat khusus dengan DPMD Provinsi Jawa Timur setelah melaksanakan pemetaan terkait potensi yang ada di desa, sehingga kedepannya dapat disinergikan dengan program yang ada di DPMD Provinsi Jawa Timur.
“Kita punya program BUMDes misalnya. Insya Allah program membangun 1.000 desa akan membawa dampak yang luar biasa,” pungkasnya.
Cek Artikel dan Berita yang lain di Google News


.webp)


















