SuaraPemerintah.IDÂ – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Imran Pambudi mengatakan, bakteri antraks ini mampu bertahan hingga 40 tahun lebih di tanah.
Hal tersebut disebabkan, bakteri ini akan membentuk spora bila berkontak langsung dengan udara. Spora ini berfungsi sebagai pelindung, sehingga bakteri di dalam spora sulit mati.
Dalam kasus infeksi antraks, spora ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka tubuh atau makan dan minum kudapan seperti daging sapi yang telah terkontaminasi antraks.
“Jadi bakteri ini berubah menjadi spora pada saat dia di tanah dan dapat bertahan lebih dari 40 tahun. Spora ini bisa masuk ke manusia, kemudian masuk lewat luka pada tubuh, makan dan minum dengan kandungan spora tadi,” kata Imran dalam konferensi pers secara daring, Kamis (6/7/2023).
Imam mengungkapkan, bakteri antraks terdiri dari empat jenis dengan tingkat fatalitas kasus (case fatality rate) bervariasi.
Kasus-kasus antraks di Indonesia didominasi oleh antraks yang menyerang kulit atau antraks kulit. Bakteri tersebut menempel ke kulit hingga melepuh.
Tingkat fatalitas kasus (case fatality rate) dari antraks jenis ini berkisar 25 persen. Ada pula antraks di saluran pencernaan. Bakteri ini masuk ke dalam saluran pencernaan saat penderita memakan daging dari hewan tertular dan tidak memasak daging dengan sempurna.
Akibatnya, usus penderita menjadi melepuh sehingga terjadi pendarahan dan meninggal. Adapun antraks dengan tingkat fatalitas tertinggi adalah antraks yang menyerang paru-paru, dengan tingkat fatality rate mencapai 80 persen. Spora bakteri itu terhisap melalui partikel pernapasan dan mencapai dinding alveoli.
“(Jenis) keempat antraks injeksi ditemukan pada pengguna narkotika. Kalau case fatality rate untuk antraks pencernaan cukup tinggi dan bervariasi mulai 25-70 persen,” ucap dia.
Karena bakterinya tidak mudah mati, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian Republik Indonesia Syamsul Ma’arif mengatakan, daging hewan yang terkontaminasi antraks tetap tidak aman dikonsumsi meski direbus lama.
Sebab, bakteri antraks menyebar sangat cepat, termasuk ketika daging hewan yang mati mendadak karena antraks disembelih. Ketika daging dibuka, bakteri pun akan menyebar.
“Kalau ditanya kalau direbus aman enggak? Tidak aman. Jangankan direbus, dibuka saja enggak boleh. Bisa enggak dagingnya direbus dan aman dikonsumsi? Tidak boleh dilakukan itu. Membuka daja tidak boleh,” kata Syamsul di kesempatan yang sama.
Sebelumnya diberitakan, kasus antraks dilaporkan menjangkiti puluhan warga Kelurahan Candirejo, Kapanewon Semono, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat antraks. Sementara itu, Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah warga yang meninggal sebanyak tiga orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty menuturkan, kasus ini bermula ketika warga menyembelih dan mengonsumsi sapi yang sudah mati.
“Dia (warga yang meninggal) ikut menyembelih dan mengkonsumsi. Sapinya kondisinya sudah mati lalu disembelih,” kata Dewi, dikutip dari pemberitaan Kompas.com (4/7/2023).
Warga yang meninggal itu dibawa ke RSUP Sardjito pada Sabtu (1/4/2023). Pihak Dinkes Gunungkidul baru menerima laporan adanya warga meninggal di RSUP Sardjito pada Senin (4/7/2023).
Menerima laporan itu, Dinkes Gunungkidul bersama Satgas One Health dari Kapanewon Semanu langsung bergerak untuk melakukan penelusuran.
Dari hasil penelusuran, sebanyak 125 orang diketahui melakukan kontak langsung dengan hewan ternak yang mati karena antraks. Setelah dilakukan pemeriksaan, Dewi menyebutkan, sekitar 85 orang dinyatakan positif antraks.
“18 orang yang bergejala mulai dari luka, ada yang diare hingga pusing,” kata Dewi.
Cek Artikel dan Berita yang lain di Google News


.webp)













