SuaraPemerintah.ID – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, menegaskan bahwa Indonesia terus menunjukkan kinerja aksi iklimnya kepada dunia internasional. Upaya pengurangan emisi Indonesia dilakukan secara terencana dalam kerangka tata kelola karbon yang ketat.
“Kita perlu menunjukkan kepada dunia bahwa kerja kita memiliki substansi, bukan hanya sekadar main-main. Ini tentang bagaimana kita mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan menerjemahkannya menjadi tindakan konkret,” kata Menteri Siti setelah membuka workshop Pelaksanaan Kontribusi Berbasis Hasil (RBC) Tahap 1 Norwegia di Jakarta, pada Kamis (22/2).
Menteri Siti menjelaskan bahwa workshop kali ini menguraikan secara rinci mengenai aksi iklim, dengan melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, LSM, dan akademisi. Workshop ini tidak hanya penting untuk implementasi yang terencana dari aksi iklim, tetapi juga sebagai demonstrasi bahwa upaya aksi iklim, khususnya dalam kerangka kerja FoLU Netsink 2030 di Indonesia, dilakukan secara terencana dan sesuai dengan prinsip tata kelola karbon.
“Tata kelola sangat penting bagi dunia internasional, begitu juga bagi Indonesia. Workshop ini diadakan untuk memastikan bahwa upaya kita terencana dengan baik, sehingga dunia tahu bahwa kita serius dalam menggunakan dana internasional,” ujar Menteri Siti.
Menteri Siti juga menekankan bahwa workshop ini menjadi bukti konkret dari kerja nyata dan sikap saling menghormati dalam kerja sama antar lembaga, sesuai dengan yang tercantum dalam MoU Kerjasama RI-Norwegia. Bagi Indonesia, langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Norwegia melalui RBC ini merupakan pengakuan terhadap prestasi Indonesia dalam penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari REDD+ dalam kerangka FoLU Netsink 2030.
Melalui Kemitraan Indonesia-Norwegia, Menteri Siti menjelaskan bahwa Indonesia telah menerima Kontribusi Berbasis Hasil (RBC) senilai USD 56 juta untuk pengurangan emisi pada tahun 2016/2017, sebesar 11,2 juta ton. Dana ini digunakan untuk implementasi FoLU Net Sink 2030 di Indonesia. Selanjutnya, RBC senilai USD 100 juta untuk pengurangan emisi sebesar 20 juta ton CO2e dari emisi 2017/2018 dan 2018/2019.
“Saat ini, proses untuk RBC IV untuk emisi dari 2019/2020 sudah dimulai. Kita berharap bahwa dengan prosedur internasional yang ada, hal ini akan diselesaikan dan hasilnya akan diperoleh pada akhir tahun 2024,” tambahnya.
Meskipun kontribusi RBC telah mencapai sekitar 100 juta ton CO2e, ini masih jauh di bawah prestasi Indonesia dalam menurunkan emisi GRK yang telah diverifikasi oleh Sekretariat UNFCCC sekitar 577 juta ton.
Artinya, upaya Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim, terutama dalam kerangka FoLu Netsink 2030, masih sangat bergantung pada dukungan finansial baik dari pemerintah maupun dari aktivitas masyarakat, terutama melalui FoLU yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia Indonesia dengan alamnya.
Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Rut Kruger Giverin, mengakui upaya luar biasa Indonesia dalam mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Dia menjelaskan bahwa Norwegia memberikan kontribusi kepada Indonesia atas hasil pengurangan emisi GRK yang diverifikasi oleh pihak ketiga, yaitu konsultan internasional yang independen. Dana tersebut dikelola melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan digunakan untuk mendukung implementasi FoLu Net Sink 2030.
“Ini menunjukkan transparansi dalam penggunaan dana dan tata kelola yang baik. Kami sangat terkesan dengan upaya pengelolaan dana lingkungan hidup dan komitmen Menteri Nurbaya serta Kementerian LHK untuk memastikan pengelolaan yang baik. Hari ini adalah kesempatan bagus untuk membahas lebih rinci hal ini dan memastikan bahwa kontribusi berikutnya juga dikelola dengan profesional,” katanya.
Workshop hari itu dihadiri oleh Direktur Utama BPDLH, Penasehat Senior Menteri LHK, pejabat tinggi dari Kementerian LHK, Kementerian Keuangan, dan BRGM, Tim FoLU Net Sink 2030 Indonesia, Dewan Pengawas BPDLH, peneliti dan pengamat perubahan iklim, pemerintah daerah, dan mitra kerja lainnya.
Cek Artikel dan Berita yang lain di Google News


.webp)










