SuaraPemerintah.ID – Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka berkomitmen untuk memperkuat pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) sebagai upaya mengurangi impor energi dan menghemat devisa negara. Salah satu program unggulannya adalah pengembangan biodiesel dan bioetanol yang ramah lingkungan.
Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN), Burhanuddin Abdullah, mengungkapkan bahwa program ini dapat menghasilkan penghematan devisa hingga US$ 20 miliar atau sekitar Rp303,4 triliun (dengan asumsi kurs Rp 15.173 per dolar AS).
“Selain itu di usaha-usaha untuk ubah molase jadi etanol sebagai campuran dari Pertamax atau Pertamax Plus ini sedang kita jajaki, pelajari lakukan supaya bisa dilakukan dan itu kalau bisa dengan biodiesel kita at least US$ 20 billion kita bisa save untuk tidak impor,” beber Burhanuddin dalam acara UOB Indonesia Economic Outlook 2025, dikutip Jumat (27/9/2024).
Baca juga :Â Prabowo Bakal Pisahkan DJP dan Bea Cukai dari Kementerian Keuangan
Saat ini, Indonesia telah menerapkan kebijakan biodiesel dengan campuran 35% (B35). Di bawah kepemimpinan Prabowo, kebijakan ini ditargetkan meningkat menjadi B50. Pemerintah juga menargetkan penerapan mandatori biodiesel 40% (B40) mulai 1 Januari 2025.
“Dan itu sudah sampai di B35 yang konon kabarnya sudah sangat bagus. Pemerintah mendatang itu agak insist untuk bisa di B50. Saya nggak tahu apakah nanti kecukupan dari CPO-nya itu sendiri,” jelasnya.
Selain biodiesel, pemerintahan Prabowo juga akan mengembangkan bioetanol berbasis molase tebu sebagai pengganti bensin berbasis minyak fosil. Sejauh ini, bioetanol baru digunakan oleh PT Pertamina (Persero) melalui produk Pertamax Green 95 yang mengandung 5% bioetanol (E5).
Seperti diketahui, Pertamina resmi meluncurkan produk Pertamax Green 95, yang merupakan campuran BBM Pertamax (RON 92) dengan bioetanol berbasis molase tebu, sejak 24 Juli 2023 lalu. Campuran bioetanol pada bensin sebesar 5% (E5) di sejumlah SPBU di Jakarta dan Surabaya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan periode pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden RI Terpilih 2024-2029 Prabowo Subianto nantinya akan meningkatkan penggunaan campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel pada Bahan Bakar Minyak (BBM).
Baca juga :Â Sumber Anggaran untuk Bentuk Kementerian Baru Prabowo Terungkap
Saat ini Indonesia sudah menerapkan mandatori penggunaan biodiesel dengan campuran Fatty Acid Methyl Esters (FAME) sebesar 35% atau B35 pada BBM Solar. Bahlil menyebut, ke depannya Prabowo akan mendorong penggunaan biodiesel hingga B40, dan bahkan hingga B50.
“Saya juga menyampaikan bahwa kita sudah harus meningkatkan peningkatan pemakaian kita pada energi baru terbarukan. Sekarang kita sudah mengenal B35, B40, ke depan kita dorong menjadi B50. Ini salah satu program daripada Pak Prabowo,” jelas Bahlil dalam acara Detikcom Leaders Forum, di Menara Bank Mega, Jakarta, Rabu (11/9/2024).
Asal tahu saja, Kementerian ESDM sendiri saat ini tengah melakukan persiapan pelaksanaan mandatori biodiesel 40% (B40), yang ditargetkan akan dilaksanakan mulai 1 Januari 2025. Hal tersebut menyusul permintaan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat memberikan arahan pada rapat pimpinan (Rapim) di lingkungan Kementerian ESDM, Selasa (20/8/2024).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi membeberkan, selain meminta percepatan penyelesaian Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EB-ET), Bahlil juga meminta agar pengembangan bioenergi dapat menjadi prioritas.
Eniya mengatakan program mandatori biodiesel yang saat ini baru 35% (B35) ditargetkan dapat digenjot tidak hanya sebatas pada B50, tapi bahkan hingga B60.
“Bioenergi akan menjadi prioritas juga, kita lagi mempersiapkan B40 untuk mandatori ya. Mandatori nanti saya keluarkan Insya Allah ini sudah settle di 1 Januari 2025,” kata Eniya usai Rapim di Gedung Kementerian ESDM, beberapa waktu lalu.
Menurut Eniya, untuk menuju ke B40 setidaknya terdapat beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh industri. Mulai dari mempersiapkan pelabuhannya, pengirimannya, dan logistik.
“Industri harus mempersiapkan ini, investasi akan butuh modal juga. Nah ini kita kasih waktu untuk persiapan sampai dengan Desember,” katanya.
Seperti diketahui, setelah sukses menjalankan program B30 yakni campuran antara 30% fatty acid methyl esters (FAME) dan 70% BBM jenis Solar, pemerintah juga telah merilis program B35 sejak 1 Februari 2023 dengan alokasi mencapai 13,15 juta kilo liter (kl) per tahun.
Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News


.webp)












