Rabu, Maret 25, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

BRIN Dorong Riset Berdampak Nyata Bukan Hanya Publikasi Ilmiah

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem riset yang berdampak langsung bagi masyarakat melalui dukungan pendanaan dan infrastruktur yang berorientasi pada keberlanjutan. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, dalam diskusi panel bertema “From Labs to Lives: How Research Drives Sustainability in Society” yang menjadi bagian dari rangkaian acara the WINNER Week (Week of Indonesia–Netherlands Education and Research) 2025, di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Selasa (7/10).
Menurut Agus, BRIN berupaya mendorong pendanaan riset yang berdampak sosial. Oleh karena itu pihaknya memastikan setiap program riset tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga manfaat nyata bagi komunitas dan masyarakat luas. “Kami harus memastikan bahwa pendanaan tidak hanya untuk penelitian, tetapi juga untuk komunitas, industri, dan pihak-pihak lain yang membutuhkan kegiatan penelitian,” ujarnya.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, lanjut Agus, BRIN berharap riset dan inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjadi solusi yang menghadirkan dampak nyata bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat Indonesia.
Agus menjelaskan bahwa BRIN berperan penting sebagai lembaga pendanaan riset dan inovasi di Indonesia. “Tugas utama BRIN adalah menjadi lembaga pendanaan dan mendistribusikan dana yang penelitian. Sebagian besar dana kami disalurkan ke universitas, lembaga pemerintah, perusahaan swasta, dan semua jenis penelitian serta inovasi,” ungkapnya.
Menurut Agus, BRIN tengah mengkaji mekanisme alokasi dana yang lebih seimbang bagi berbagai bidang ilmu, termasuk sains dasar, sains terapan, sains teknik, dan sains sosial. “Anggaran kami di BRIN cukup besar dan kami mengalokasikannya untuk menghasilkan luaran profesor berkualitas tinggi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus menekankan bahwa arah kebijakan pendanaan BRIN selaras dengan prioritas nasional yang telah ditetapkan pemerintah. “Prioritas utama di Indonesia adalah keberlanjutan pangan dan energi. Sebagian besar pendanaan kami dialokasikan untuk tiga topik ini, yaitu kesehatan, energi, dan pangan,” jelasnya.
Selain riset konvensional, BRIN juga memberikan perhatian besar pada pengembangan perusahaan rintisan (startup) berbasis riset. “Kami telah mendanai 90 proyek startup. Startup jenis ini sangat sukses di Indonesia, tidak hanya digerakkan oleh generasi muda, tetapi juga oleh perempuan,” tutur Agus.
Ia menambahkan bahwa BRIN menyediakan berbagai skema pendanaan untuk mempercepat proses komersialisasi hasil riset, baik di bidang kesehatan, pertanian, maupun energi. “Kami membutuhkan klien kami untuk menerima produk komersial di bidang kesehatan dan pertanian. Pendanaan kami diharapkan dapat mempercepat komersialisasi berbagai produk tersebut,” lanjutnya.
Agus juga memaparkan berbagai platform kolaborasi yang telah dikembangkan BRIN untuk memperkuat sinergi antara peneliti, mahasiswa, dan masyarakat. “Kami memiliki platform kolaborasi di berbagai daerah, misalnya di Kawasan Observatorium di Timau dan Ekskavasi Arkeologi di Bumi ayu dan bongal, yang mendorong keterlibatan komunitas lokal dan mahasiswa dalam proyek riset. Kolaborasi seperti ini menjadi kunci agar riset benar-benar hidup di tengah masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iman Hidayat menyebutkan salah satu contoh nyata bagaimana hasil penelitian dapat berdampak langsung pada peningkatan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim. Ia menjelaskan bahwa BRIN melalui fasilitas riset di bidang sains dan teknologi telah mengembangkan berbagai instrumen untuk mendukung komunitas lokal.
Salah satu inovasi yang ia soroti adalah teknologi penyediaan air bersih berbasis pemanenan air laut, yang telah diterapkan di kawasan pesisir dan pulau kecil Indonesia. “Sebagai penyedia fasilitas infrastruktur, kami memiliki tema-tema riset yang sangat spesifik, dan salah satunya adalah membangun sistem yang berkelanjutan untuk masyarakat di pulau kecil,” ujar Iman.
Melalui proyek yang kami sebut Arsinum (Air Siap Minum), kami menciptakan instrumen teknologi sederhana yang mampu membantu masyarakat mendapatkan air bersih dengan biaya yang jauh lebih murah. Ia menjelaskan, sebelum teknologi tersebut diterapkan, masyarakat di pulau kecil harus menyeberang ke daratan untuk membeli air bersih dengan harga mencapai Rp13.000 per galon. Kini, berkat alat hasil riset BRIN, biaya pengolahan air turun drastis menjadi hanya sekitar Rp600 per liter, dan bahkan dapat dijual kembali dengan harga sekitar Rp1.000 per galon.
“Yang paling penting bukan hanya teknologinya, tapi bagaimana masyarakat dan pemerintah daerah berkolaborasi mengelola instrumen tersebut,” tegas Iman. Ia menambahkan, komunitas setempat kini mampu memelihara dan memperbaiki alat tersebut secara mandiri melalui dana hasil penjualan air.
Selain meningkatkan akses air bersih, penerapan teknologi ini juga berdampak pada penurunan risiko penyakit akibat air tercemar dan peningkatan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim. “Dengan adanya instrumen ini, masyarakat tidak hanya lebih sehat, tapi juga lebih tangguh menghadapi perubahan lingkungan,” kata Iman.
Ia menambahkan, keberhasilan proyek ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara peneliti, industri, dan pemerintah. “Kami terus bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan teknologi, untuk memperluas penerapan alat ini ke lebih banyak pulau kecil,” ungkapnya.

Menurut Iman, inisiatif seperti ini menjadi contoh nyata bagaimana penelitian dan inovasi dapat bergerak dari laboratorium menuju kehidupan nyata—memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. “Inilah esensi dari riset yang hidup, riset yang benar-benar memberi dampak bagi manusia dan lingkungannya,” tutupnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru