Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus memperkuat strategi pemerataan kunjungan wisatawan dengan menggelar pameran Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) di ICON Sanur, Bali.
Pameran ini secara khusus menonjolkan destinasi unggulan kawasan Buleleng, Jembrana, dan Banyuwangi (3B) sebagai bagian dari upaya mendistribusikan wisatawan agar tidak hanya terpusat di Bali bagian selatan.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menjelaskan bahwa penyelenggaraan pameran ini merupakan bagian dari strategi promosi lintas daerah yang bertujuan mendukung pemerataan ekonomi pariwisata nasional.
“Kami berharap pameran BBWI di Sanur dapat meningkatkan awareness terhadap daya tarik wisata di tiga kabupaten tersebut, sekaligus membuka peluang bagi para pelaku industri untuk memperkenalkan dan menawarkan paket-paket wisata kepada masyarakat, serta memperluas networking dan business dealing,” Kata Made.
Pameran BBWI 2025 menjadi bentuk kolaborasi antara Kemenpar dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.
Acara ini melibatkan 23 pelaku industri pariwisata dari berbagai sektor, mulai dari akomodasi, desa wisata, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga travel agent/tour operator (TA/TO).
Dua Online Travel Agent (OTA) mitra Co-Branding Wonderful Indonesia, yaitu Atourin dan Aero Globe Indonesia, juga ikut berpartisipasi memperluas jangkauan promosi digital.
Made menjelaskan, pameran ini menjadi ruang interaktif antara pelaku usaha, wisatawan, dan pemerintah untuk memperkuat rantai nilai pariwisata di tingkat daerah.
Daya tarik utama dalam pameran BBWI di Sanur adalah desain paket wisata berbasis desa wisata. Beberapa destinasi unggulan yang diperkenalkan antara lain Desa Wisata Manistutu dan Desa Wisata Medewi di Jembrana, Desa Wisata Sambangan dan Desa Wisata Sudaji di Buleleng, Desa Wisata Kemiren, Gombengsari, dan Tamansari di Banyuwangi.
Made menilai bahwa desa wisata memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Pemilihan Sanur sebagai lokasi penyelenggaraan pameran bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal sebagai destinasi yang mampu menyatukan wisatawan lokal dan internasional dengan infrastruktur pariwisata yang lengkap.
“Sanur menjadi titik temu pariwisata di Bali karena perannya sebagai destinasi internasional yang memiliki infrastruktur lengkap. Karena itu, kami mempromosikan destinasi 3B di lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara,” kata Made.
Kemenpar menargetkan 1,08 miliar pergerakan wisatawan nusantara dan 14–15 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2025.
Pameran BBWI diharapkan mampu mendorong peningkatan pengeluaran (spending) wisatawan sekaligus memperpanjang lama tinggal (length of stay) mereka di destinasi.
“Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan spending wisatawan serta memperpanjang masa tinggal mereka di destinasi,” Ucap Made.
Selain pameran B2C, Kemenpar juga menghadirkan pertunjukan seni budaya sebagai daya tarik tambahan, di antaranya Rinting Pitu dari Jembrana, Tari Trunajaya dari Buleleng, serta Tari Gandrung, Aji Jaran Goyang, dan Jaranan Buto dari Banyuwangi.
Kehadiran seni pertunjukan ini menambah nuansa atraktif sekaligus memperkuat identitas budaya di setiap destinasi wisata.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)












