Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyematkan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (13/10). Pada kesmepatan itu, Gubernur Khofifah mengajak untuk tetap menjaga integritas demi kemajuan Jawa Timur.
Satyalancana Karya Satya merupakan tanda kehormatan dari Presiden Republik Indonesia yang diberikan kepada ASN yang telah melaksanakan tugas secara terus menerus selama 10, 20, atau 30 tahun, dengan menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kerajinan, dan kedisiplinan.
Diketahui dari situs Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jatim, bahwa penyematan tanda kehormatan biasanya dilakukan setiap tanggal 17 Agustus, Hari Besar Nasional dan Hari Ulang Tahun Instansi. Namun demikian penyematan kali ini merupakan pertama kalinya dilakukan pada momen Hari Jadi Provinsi Jatim.
Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan loyalitas para ASN, serta mengajak seluruh aparatur untuk menjaga integritas dan memperkuat sinergi demi kemajuan Jawa Timur.
Penyematan dilangsungkan dalam tiga sesi, yakni Sesi I dengan penerima 240 ASN, Sesi II dengan penerima 230 ASN, dan Sesi III dengan penerima 211 ASN. Selain penerima tanda kehormatan, agenda ini turut dihadiri beberapa kepala perangkat daerah di Pemprov Jatim termasuk Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin.
Pada Sesi III, delapan ASN dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jawa Timur turut menerima tanda kehormatan. Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah kepala perangkat daerah, termasuk Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga memperkenalkan filosofi kerja baru yang diusung dalam peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur, yaitu “JATIM BISA”.
Kata ‘Bisa’ pada filosofi kerja tersebut, diterangkan Khofifah merupakan singkatan dari Berdaya, Inklusif, Sinergis, dan Adaptif.
“Berdaya, karena Jawa Timur memiliki sumber daya manusia, infrastruktur, dan konektivitas yang luar biasa. Inklusif, karena pembangunan harus melibatkan semua pihak dan berprinsip no one left behind. Sinergis, karena kolaborasi lintas sektor menjadi kunci memperkuat hasil kerja. Dan Adaptif, karena perubahan zaman menuntut aparatur untuk cepat menyesuaikan diri dengan dinamika baru,” terang Khofifah.
Gubernur pun mengajak ASN untuk menerapkan filosofi tersebut dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, karena menghadapi berbagai macam kelompok masyarakat.
“Mari kita terus berdaya, inklusif, sinergis, dan adaptif dalam menghadapi tantangan zaman. Jagalah komunikasi yang bijak, bangun kebersamaan, dan kuatkan integritas agar Jawa Timur terus tangguh dan bertumbuh,” pesan Khofifah.
Gubernur Khofifah juga menyoroti pentingnya komunikasi berbasis data dalam pelayanan publik. Ia mencontohkan perlunya koordinasi antar lembaga untuk menghindari kesalahpahaman, termasuk dalam isu status jalan di sejumlah daerah.
Menurutnya, kritik dan masukan dari masyarakat merupakan bagian dari proses perbaikan kinerja, dan pemerintah perlu bersikap terbuka dalam merespons dinamika yang terjadi.
Dengan tanda kehormatan yang disematkan ini, Gubernur Khofifah juga berpesan agar seluruh ASN Jawa Timur dapat memperkuat silaturahmi, kebersamaan, dan integritas, karena hal itulah yang menjadi kunci maupun fondasi dasar dalam menjaga kepercayaan publik dan mempercepat kemajuan daerah.
“Kita punya banyak kekuatan dan kemampuan di Jawa Timur ini. Yang harus kita jaga adalah kebersamaan dan integritas. Karena itulah yang akan menjadi pondasi bagi pelayanan terbaik untuk masyarakat,” pungkasnya.
Menutup sambutannya, Khofifah pun mengajak seluruh aparatur untuk menjadikan pengabdian sebagai amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi masyarakat dan bangsa.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)















