Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Saadiah Uluputty di Tanah Bencana Sumbar: Serukan Status Nasional dan Desak Negara Hadir Sepenuhnya

Di tengah hujan lebat yang mengguyur sejak pagi, Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, S.T., tiba di Bandara Minangkabau untuk memulai kunjungan reses ke wilayah yang tengah dilanda bencana besar (10/12). Pesawat yang ditumpanginya mendarat dengan aman meski landasan pacu licin dan tergenang air, sebuah keberuntungan mengingat beberapa pesawat lain terpaksa dialihkan ke Bengkulu akibat cuaca ekstrem.

Kedatangannya disambut Bupati Padang Pariaman dan Wali Kota Padang. Suasana menjadi haru ketika Bupati John Kennedy Azis menahan tangis saat menggambarkan kerusakan besar di daerahnya. “Padang Pariaman seperti mundur 20 tahun. Banyak infrastruktur rusak, masyarakat terisolasi, jembatan putus,” ujarnya.

- Advertisement -

Skala bencana memang sangat besar. Longsor, banjir bandang, dan kerusakan akses vital membuat pelayanan publik lumpuh dan menelan banyak korban jiwa. Beberapa jenazah bahkan harus dievakuasi dengan helikopter karena lokasi yang terisolasi. Gubernur Mahyeldi dalam rapat bersama Komisi V melaporkan adanya 914 titik kerusakan infrastruktur, menjadikan Sumbar provinsi dengan kerusakan terluas di Sumatera. “Bencana ini membawa duka besar dan menghancurkan banyak rumah serta akses publik. Kami membutuhkan percepatan penanganan,” tegasnya.

Merespons situasi tersebut, Saadiah menilai kapasitas pemerintah daerah telah mencapai batas maksimal. “Bencana ini memenuhi seluruh kriteria penetapan Status Bencana Alam Nasional, sesuai UU 24/2007 dan PP 21/2021,” jelasnya. Ia menekankan bahwa status nasional akan membuka keterlibatan penuh pemerintah pusat—mulai dari BNPB, TNI, Polri, Basarnas, hingga Kementerian PU dan Kemenhub—untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi.

- Advertisement -

Setelah rapat, rombongan meninjau kawasan Lembah Anai di Tanah Datar. Di sepanjang perjalanan, Saadiah menyaksikan jalan yang putus, sungai yang melebar akibat debit air dari hulu, serta puluhan titik longsor yang menutup akses. Jalur lintas Sumatera tampak hampir tanpa lalu lintas karena lumpuh total. Wakil Menteri PU memberikan arahan untuk memasang jembatan Bailey di titik strategis, menambah alat berat, mempercepat penanganan 203 titik longsor, serta menstabilkan tebing di kawasan rawan.

Saadiah menegaskan bahwa kunjungan Komisi V bukan agenda formal semata, melainkan wujud tanggung jawab moral negara. “Seluruh elemen negara harus hadir penuh. Sumatera Barat harus bangkit dengan lebih kuat dan lebih siap menghadapi bencana ke depan,” ucapnya.

Dalam perjalanan pulang, Saadiah menuliskan catatan harian yang bernada empati. Ia mengenang momen ketika menyerahkan bantuan dari uang perjalanan kepada pengurus bidang perempuan di Posko Bencana DPW PKS Sumbar. “Ada haru dalam hati, teringat ketika Maluku diguncang gempa, saudara-saudara PKS dari seluruh Indonesia membantu kami. Kini mereka berduka—maka duka mereka adalah duka bersama. Duka Sumatera adalah duka Indonesia,” tulisnya.

Catatan tersebut menutup hari panjang penuh lumpur, air mata, dan harapan. Saadiah kembali ke Jakarta membawa satu pesan kuat: Sumatera Barat tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Negara harus hadir—segera, kuat, dan sepenuhnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru