spot_img

BERITA UNGGULAN

Strategi Kemandirian Gula Nasional, Lia Istifhama Soroti Peran Petani Tebu dan Potensi Jawa Timur

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Lia Istifhama, menegaskan pentingnya optimalisasi peran petani tebu dalam mendorong kemandirian gula nasional. Ia juga menilai Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai pusat kekuatan industri gula di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Lia usai melakukan pertemuan dengan Direktur SGN, M. Fakhrur Rozi, di Surabaya, Kamis (2/4/2026). Dalam pertemuan itu, dibahas berbagai strategi penguatan sektor gula berbasis daerah sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.

- Advertisement -

“Jawa Timur ini bukan sekadar produsen, tetapi lumbung gula nasional. Maka penguatan sektor ini harus menjadi prioritas, baik dari sisi petani maupun industrinya,” ujar Lia.

Ia menjelaskan, Jawa Timur memiliki kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan gula nasional. Lebih dari 50 persen konsumsi gula rumah tangga Indonesia berasal dari provinsi tersebut, menjadikannya episentrum industri gula nasional.

- Advertisement -

Menurut Lia, keberhasilan sektor gula tidak hanya ditentukan oleh tingkat produksi, tetapi juga oleh keberlanjutan sistem pertanian serta kesejahteraan petani tebu.

“Interaksi dengan petani menjadi kunci. Kita tidak hanya bicara produksi, tetapi juga bagaimana meningkatkan kesejahteraan mereka melalui perbaikan budidaya dan dukungan kebijakan,” ungkap Lia.

Ia menekankan pentingnya pemberdayaan petani melalui peningkatan kualitas benih, akses terhadap teknologi, serta penguatan program intensifikasi pertanian guna menjaga produktivitas.

Selain sebagai komoditas pangan, Lia juga menyoroti potensi tebu sebagai sumber energi baru terbarukan melalui pengembangan bioetanol. Produk turunan seperti tetes (molasses) dinilai memiliki nilai strategis sebagai bahan baku energi ramah lingkungan.

“Orientasi ke depan bukan hanya gula, tetapi juga energi. Bioetanol menjadi peluang besar, apalagi Jawa Timur punya basis produksi tebu yang kuat,” kata Lia.

Lia menambahkan, integrasi antara sektor pangan dan energi merupakan langkah strategis yang perlu didorong melalui hilirisasi industri.

“Kita tidak boleh hanya berhenti di produksi bahan mentah. Hilirisasi menjadi penting, termasuk menjadikan tebu sebagai bagian dari solusi energi nasional,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Lia juga menyoroti peran perempuan dalam industri gula yang dinilai cukup signifikan, baik sebagai petani maupun pelaku usaha.

“Banyak perempuan yang terlibat, baik sebagai petani maupun pelaku usaha. Ini menunjukkan bahwa sektor ini juga memiliki dimensi pemberdayaan yang kuat,” tambah Lia.

Ia berharap hasil pertemuan ini dapat menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan nasional yang lebih kuat, khususnya dalam mendorong kemandirian pangan dan energi berbasis potensi lokal.

“Kalau dikelola serius, sektor gula ini bukan hanya menopang kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bisa menjadi kekuatan ekonomi nasional,” pungkas Lia.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru