SuaraPemerintah.ID-Berbagai varietas durian ada di Banyuwangi. Bulan ini pohon durian memasuki masa panen. Di antaranya, sentra durian Kecamatan Songgon.
Di kebun durian milik Pak Boneng sapaan akrab Slamet Haryadi, kini mulai banyak didatangi penikmat durian. Seminggu terakhir, kebun durian buka 24 jam ini diserbu para pencinta durian.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani juga ikut mencoba durian di Songgon. “Alhamdulillah sudah panen. Durian Banyuwangi, paling ditunggu-tunggu. Dagingnya tebal-tebal dan banyak jenisnya,” kesan Ipuk.
Di Songgon terdapat 465 hektare lahan ditanami durian. “Ini merupakan kreasi masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi kampungnya. Ini menarik, suasananya sejuk, cocok untuk liburan keluarga,” ujar Ipuk.
Diketahui, Kecamatan Songgon telah dikenal sebagai Kampung Durian. Tidak hanya kebun milik Boneng, namun banyak warga memiliki kebun durian. Banyak pohon durian Songgon telah berusia puluhan tahun.
“Sudah seminggu terakhir ini mulai ramai. Bahkan malam dan subuh sudah ramai pengunjung,” tutur Pak Boneng, sapaan akrab Slamet.
Berbagai varietas durian ada di kebun Slamet. Ada duren boneng, mentega, merah, orange, pink, bajul, kasur, dan sebagainya.
Jenis durian paling banyak diburu dan populer adalah durian si boneng. Durian si boneng dikembangkan Slamet Hariyadi. Nama durian tersebut terinspirasi dari nama julukan Slamet sejak kecil, yakni boneng.
“Durian si boneng sedang populer. Bahkan, penggemarnya sudah sampai mancanegara, seperti Tiongkok dan Malaysia,” imbuhnya.
Durian si boneng ini beratnya bisa mencapai 4 kg. Daging durian jenis ini sangat tebal, lebih tebal dari montong. Rasanya manis legit dan ada sedikit rasa pahit. “Selain tebal terkadang tidak berbiji sama sekali,” jelasnya.
Sebenarnya durian si boneng sudah ada lama di Songgon. Pohonnya sangat besar dan sudah berusia puluhan tahun. Namun, durian si boneng mulai booming sekitar tiga tahun terakhir.
Masih kata Pak Boneng, petani durian di Banyuwangi pada tahun lalu sempat mengalami gagal panen. Dan ini, kata dia, sangat memukul mereka di tengah kondisi pandemi tidak menentu tersebut.
“Tahun lalu gagal panen. Kendalanya hujan, sehingga banyak yang rontok. Sebenarnya berbunga lebat, tapi karena hujan jadi rontok,” keluhnya.
Namun tahun ini, sambung Boneng, durian sudah mulai banyak bisa dipanen. Di bulan ini, sudah mulai panen meski belum memasuki panen raya.
“Tahun ini alhamdulillah sudah mulai pulih, banyak yang jadi buah. Meski sudah panen namun masih 50 persen. Panen besar nanti sekitar November,” katanya dilansir dari merdeka.com.
Boneng mengaku, dirinya mendapat pasokan durian dari petani di sekitarnya. Ada sekitar lahan kebun durian 10 hektar di kawasan sekitar.
Slamet sendiri merupakan keturunan ketiga yang mengelola kebun durian seluas 10 hektare tersebut.






