Selasa, Februari 3, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Kehumasan adalah Sebuah Ide Pemikiran Besar

SuaraPemerintah.ID – Berbahagialah Anda yang memiliki profesi di bidang kehumasan, karena ternyata kehumasan adalah sebuah ide pemikiran besar, apalagi di era komunikasi sekarang ini. Seperti dituturkan oleh Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Prof. Widodo Muktiyo kepada Suara Pemerintah TV. Berikut kutipan wawancaranya.

Seperti apa evaluasi Bapak terhadap perkembangan teknologi informasi yang di dalamnya mencakup teknologi digital dan virtual dewasa ini di Indonesia?

- Advertisement -

Kalau kita bicara teknologi ada generic purpose of technology. Jadi teknologi itu punya tujuan untuk semua bidang, tidak hanya untuk satu bidang tapi semua bidang baik dunia marketing, dunia public relations, dunia operational bahkan dunia sosial. Jadi ada generic purpose of technology, di mana di dalamnya sebetulnya ada temuan teknologi apalagi teknologi digital ini adalah menjadi supporter mendorong aktivitas manusia. Pengungkit juga, inabler. Pengungkit aktivitas manusia yang sebelumnya dulu ga pernah kita bayangkan cara ini terjadi. Termasuk juga menjadi driver, memberi arah. Kita bisa saksikan betapa perilaku kita ini sekarang diarahkan, di-drive oleh teknologi dan itu menjadi bagian dari respon stimulus kita, sehingga kemanusiaan kita itu betul-betul (dengan teknologi itu) menjadi hubungan yang tidak ada dusta karena teknologi itu pasti akan merefleksikan perilaku kita.

Oleh sebab itulah di era teknologi ini, kita semuanya, warga manusia ini adalah harus hati-hati karena itu adalah sebuah potret jujur dari teknologi. Termasuk juga menjadi transformasi, maksudnya menjadi pemindahan sebuah peradaban. Sebuah teknologi yang bahkan menjadikan yang lama itu obsulit/kuno, sudah tidak berlaku lagi (disruption).

- Advertisement -

Nah itulah sebenarnya kalau kita bicara mengenai teknologi di mana ini sebenarnya adalah hasil temuan manusia yang bebas nilai, yang tidak punya kepentingan apa-apa. Manusia lah yang kemudian bisa menggunakan, memanfaatkan teknologi yang sudah dia pegang sama di gadget kita, sebab itulah maka kearifan, nilai humanity kita itu akan membawa kepada peradaban komunikasi manusia.

Bagaimana menurut pandangan Bapak saat ini dikaitkan dengan lingkup kehumasan pemerintah?

Sebetulnya kehumasan itu adalah jantungnya institusi, jantungnya organisasi. Humas itu memompakan. Memompakan pesan, memompakan aliran darah ke seluruh organisasi apapun bentuknya. Apakah itu organisasi bisnis, organisasi nirlaba, organisasi government dan apapun organisasinya itu selalu membutuhkan aliran oksigen untuk bisa memfungsikan stakeholder-nya.

Jadi sebetulnya kalau kita bicara soal humas itu layaknya manajemen komunikasi, di mana humas menjadi center untuk menggerakkan fungsi-fungsi stakeholder itu. Oleh sebab itulah maka yang dialirkan pesan-pesan yang dibawa yang harus dibawa adalah pesan-pesan yang memang dibutuhkan untuk tujuan organisasi, sehingga selalu, kalau dalam bahasa kedudukan, humas itu selalu face of face top leader. Humas itu selalu berdampingan dengan top leader-nya, bahkan humas itu implementasi dari visi founding fathers-nya.

Nah, itu yang saya kira menjadi penting. Kalau kemudian dikaitkan dengan bagaimana khususnya pemerintah? Maka kita harus ingat kembali founding fathers kita. Bapak bangsa kita yang menggali Indonesia ini. Yang menggali nilai-nilai luhur Pancasila ini.

Itu yang harus kita menjadi acuan untuk kemudian ditularkan, diturunkan, diwariskan kepada generasi berikutnya agar supaya generasi berikutnya tadi bisa menjalankan value yang sudah digali oleh para founding fathers. Jadi tidak ada kata bahwa generasi ini terputus dengan generasi sebelumnya.

Kita ini membangun bangsa, membangun masyarakat itu harus sustainable. Kerangkanya harus berkesinambungan. Sehingga kalau kita lihat humas itu adalah mengumpulkan titik titik titik titik dalam sebuah garis untuk menuju bangsa yang maju.

Itu yang saya kira humas memberikan peran penting pada saat ini, memberikan titik pada saat yang akan datang, menyiapkan apa yang sedang kita kerjakan pada saat ini dan saat yang akan datang, itu terus menerus, sustain.

Oleh sebab itulah maka humas menjadi kekuatannya menyirami rumput-rumput hijau peradaban kita saat ini yang nanti akan tumbuh dan itu juga sekaligus akan menutup kalau ada kegiatan komunikasi yang jelek, yang tidak bagus, yang fake ya atau hoaks gitu.

Nah, itu menjadi tanggung jawab humas Indonesia sebetulnya. Masyarakat Indonesia, terkhusus adalah yang sedang mendapatkan amanah untuk mengelola bangsa ini, pemegang pemerintahan, government PR.

Jadi humas sekali lagi fungsinya sustain, fungsinya kontinu, fungsinya strategis, oleh sebab itulah maka humas itu dituntut untuk bisa berpikir strategik dan kemudian memberikan pesan yang dikemas, yang di-packaging sesuai dengan audiens-nya, jangan sampai kita berpesan tapi gak sampai karena pesannya otak otaknya kita bukan otaknya sana, maka humas itu ada kata kunci yang sangat penting yaitu empati. Jadi seorang humas profesional itu harus mampu mengempati suara hati masyarakatnya, suara publiknya.

Humas pemerintah itu tidak berada dalam ruang kosong, humas pemerintah itu berada dalam dinamika sosial ekonomi masyarakatnya dan itu membutuhkan kecakapan kompetensi dan bahkan kerjanya sekarang ini di era digital bisa dievaluasi.

Jadi memang kompetensi dan evaluasi itu akan melahirkan sebuah tantangan baru profesi humas saat ini.

Lantas, bagaimana untuk implementasinya?

Ya tentu saja humas ada yang namanya riset humas, ya. Kita kalau ingin menjalankan sebuah profesi itu harus tau fact finding, fakta yang ada di lapangan itu seperti apa, kemudian fakta yang ada itu kita olah, kita rumuskan menjadi sebuah kebijakan dan kemudian kebijakan itu kita lempar balik kepada publik sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Jadi feedback terhadap realita sosial masyarakat sesuai dengan zamannya tentu saja, itu harus menjadi data awal untuk kemudian kita memberikan, menggelontorkan, pesan-pesan yang akhirnya dibutuhkan. Jangan sampai saat ini sering terjadi kalau kita lihat dalam penelitian salah satu industri yang belum diminati dengan baik oleh masyarakat itu adalah industri komunikasi publik masyarakat.

Kenapa itu bisa terjadi? Ya barangkali saya mengerjakan sesuatu as usual dan kita mengerjakan sesuatu ternyata tidak dibutuhkan dengan packaging publik. Publik saat ini kan 60 persen lebih itu kan generasi z sama generasi milenial, tapi cara kerja kita barangkali masih generasi baby boomers, generasi masa lalu.

Jadi rasanya di era peradaban digital ini, kegiatan kehumasan harus cepat bertransformasi, beradaptasi kemudian bisa menjadi acuan atau menjadi sumber informasi yang penting bagi publik, jangan sampai publik malah mencari informasi yang lain yang tentu belum tentu sesuai dengan yang diharapkan, itulah terjadi ruang miss komunikasi antar warga masyarakat dan itu dalam waktu yang panjang dan berketerusan itu bisa melahirkan penyakit masyarakat, karena yang dimakan itu bukan makanan sehat, bukan makanan yang benar, tetapi makanan yang membikin resah membikin kacau otak kita dan itu akan menjadi distorsi untuk membangun sebuah peradaban bangsa ini.

Dikaitkan dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat belakangan ini, bagaimana GPR bisa mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital?

Ya ini memang tantangan serius menurut saya, makanya kalau kita mau melihat, saya kebetulan tahun 2019 sampai dengan 2021 menjadi orkes konduktor di desain IKP kominfo itu merasakan betul, kita jangan pendekatannya mekanistik ya, jangan pendekatannya hanya berdasarkan pesan yang kemudian dikasihkan EO, dan kemudian biar EO berjalan gitu.

Tapi kita ini pasukan humas. Kita ini adalah bekerja dengan jabatan fungsional pranata humas sehingga kita ini punya di situ juga ada pangkatnya, dari tanpa bintang sampai punya bintang kalau dalam bahasa militer. Tapi poinnya adalah GPR officer itu betul-betul dituntut memainkan peran pegang senjata. Senjatanya apa? Senjatanya itu komunikasi. Jadi jangan ada apa-apa ada anggaran dikasihkan orang lain.

Nah, itu yang saya kira menjadi solusi jangka panjang yang harus dibangun oleh government saat ini, supaya government saat ini betul-betul menanamkan pondasi, bukan main peran pemadam kebakaran. Kenapa itu bisa dilakukan karena itu persoalan peradaban.

Artinya, humas saat ini tantangannya adalah bukan sekadar membangun komunikasi untuk menghilangkan hoaks semata, tetapi membangun peradaban komunikasi yang sehat yang preventif supaya masyarakatnya mengerti, oh ternyata pemerintah itu sudah menjalankan sesuatu yang sangat luar biasa dan benar dan sekarang disampaikan, siapa itu GPR-nya.

GPR-nya punya senjata, jangan kemudian karena punya anggaran diberikan kepada sebuah institusi untuk bisa main dan itu short time, hanya program, project. Padahal ini perlunya kan adalah strategi makanya kegiatan komunikasi kehumasan itu komunikasi strategis yang berdimensi tidak kekinian project tetapi sustainable, kumpulan titik titik membangun peradaban tadi.

Jadi itu yang saya kira harus kita tanamkan dan usahanya memang membongkar mindset yang rutin, yang birokratis menjadi mindset GPR profesional milineal itu pekerjaan yang tidak menarik memang ya, tidak populer, tetapi itu harus dilakukan oleh siapapun yang punya idealisme untuk mengembangkan kehumasan pemerintah yang ini akan menjadi legacy kehumasan yang akan datang. Akan dicatat pasti.

Fenomena yang terjadi sekarang ini, kita sebagai pranata di bidang humas telah berupaya seoptimal mungkin dalam menyampaikan program-program instansi pemerintahan tetapi dalam hal media massa, kebanyakan mungkin rekan-rekan wartawan lebih menyukai statement langsung dari pejabat tertinggi, misalnya menteri. Saat ini fenomenanya, ada beberapa menteri yang diksinya menciptakan polemik. Bagaimana pranata humas harus menyikapinya?

Sebenarnya kalau lihat kedudukannya kalau humas itu face of face dengan top leader, maka humas itu sebetulnya tidak sekadar menjalankan apa yang top leader kita sampaikan, tapi juga menyiapkan top leader itu mau bicara apa.

Dalam sebuah contoh institusi, PR pro itu mesti menyampaikan pada top leader, bapak sebaiknya ga usah bicara yang bicara pak dirjennya saja atau pak deputy nya saja, bapak sebaiknya ini bicara yang hanya ini saja, bahkan dalam konteks yang lebih konkret, humas itu harus bisa mampu membuat question and answer dan itu menjadi pegangan bagi top leader atau sumber informasi siapapun yang akan ngomong mewakili institusinya.

Jadi, kalon nanti ditanya ini jawabnya begini dan humas harus betul-betul menguasai juga kalau kemudian sambil jalan, wartawan nyegat itu kan biasanya, betul-betul itu dievaluasi kalau sudah selesai, supaya top leader-nya itu sadar, bahwa, oh bapak sudah betul. On the right track itu statement-nya. Oh, bapak ini kayaknya jangan sampai harus kebawa pada pertanyaan.

Makanya, doktrinnya wartawan itu bad news is a good news kan? Sementara doktrinya PR apa? Important news is a good news.  Hal yang penting, hal yang menarik itu harus menjadi berita, bukan hal yang jelek. Hal yang tidak menguntungkan institusi. Jadi dua doktrin yang berbeda ini adu pintar.

Nah, di situlah sebenarnya, kegiatan kehumasan pemerintah itu untuk perlu disusun dengan komperehensif. Dan itu menyangkut kepada mindset.

Kalau mindset-nya, pokoknya humas hanya bagi-bagi press rilis, pokoknya saya hanya menyapa wartawan untuk datang, sekarang tidak begitu lagi.

Sejauh mana kita ini proaktif, artinya, setiap hari kita yang mencipta isu, bukan ditanya wartawan. Jadi kan, creating issue itu dari siapa? Dari humasnya bukan dari wartawannya. Nah, sementara yang terjadi, sering kali kita sebagai sumber informasi itu nunggu ada pertanyaan apa dari wartawan. Ini kan kebalik, kayak bertanding kan kita ngikuti permainan mereka.

Nah, itu hal-hal yang kayaknya tidak nampak, makanya kalau di dalam humas itu untouchable but misureable. Bisa diukur nanti dampak dari sebuah idenya siapa, dan prosesnya bagaimana kita siap atau enggak dan kalau kita itu menunggu pertanyaan, kita itu kesiapannya di bawah yang bertanya.

Nah, itu yang saya kira strategi komunikasi yang harus ditumbuhkan dan tidak bisa dimainkan sekadar event tertentu untuk project. Itu betul-betul ruhnya, ruhnya itu ya.. itu harus dimiliki oleh top leader dan didampingi oleh humas pemerintah.

Nah itulah sebetulnya gerak menarik antara top leader dengan humasnya akan menentukan orkestrasi, alunan lagu yang akan dimainkan. Bukan kita lagu permintaan wartawan tetapi lagu yang kita cipta, sesuai dengan keinginan kita, sesuai dengan founding fathers. Kalau orang humas itu kan selalu arahnya ingin membangun peradaban. Nah itu yang saya kira menjadi PR penting untuk kita olah terus menerus tanpa henti, tanpa merasa puas diri.

Saat ini Indonesia bisa dikatakan hampir meninggalkan era industri 4.0 dan hampir memasuki gerbang industri 5.0, di mana dalam industri 4.0 itu, pranata humas seakan dihadapkan dengan waktu, berkejar-kejaran dengan waktu dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Akan dibawa kemana GPR di Indonesia dalam menghadapi era industri 5.0 ke depan?

Sebetulnya ini kan paralel antara teknologi dan manusia. Dulu manusia itu juga dari masyarakat nomaden, agraris, industri, information, dan sekarang ini nanti katakan masyarakat 5.0.

Teknologi juga begitu, katakan dulu dari revolusi industri tingkat 2 hanya tulisan, kemudian gambar, kemudian sekarang ini 4.0 itu kan audio visual, 3 sama 4 itu hampir sama, dan kelima itu percepatan.

Nah, sekarang ini, teknologi sosial reality itu tidak hanya ditunjukkan dengan dua dimensi. Audio visual tidak hanya dengan dua dimensi. Tapi kemudian audio visual karena teknologinya memungkinkan, percepatannya bisa dilakukan, menjadi tiga dimensi. Artinya apa, kita melihat sesuatu seolah-olah kita terlibat di dalamnya. Meskipun itu artificial.

Nah oleh karena itulah, misalkan saya ambil contoh, GPR sekarang ini berada pada persaingan bagaimana kalau sekarang ini komunikasi kita itu kayaknya metaverse ya, bahwa kita itu masuk di situ hanya dengan alat yang disebut kaca mata, kita seolah-olah ada pada saya ketemu pak Rudi ini ada pada satu ruangan tertentu, sehingga gestur kita, suasana kebatinan kita menjadi lebih dekat.

Ada teknologi yang merubah mata kemudian menjadi rasanya itu menjadi lebih dekat lagi. Humanity nya menjadi lebih dekat lagi meskipun belum real, sehingga ini yang kemudian melahirkan situasi menjadi terjadi. Di tingkat teknologi 5.0 hal itu lebih memungkinkan lebih mudah lebih bisa terjangkau.

Di Indonesia sekarang ini sudah ada beberapa daerah yang sudah menggunakan teknologi 5.0, bahkan ini di area-area industri, area-area kota-kota strategis yang membutuhkan kecepatan itu menjadi kata kunci dan akhirnya menjadikan waktu ruang itu tidak sekadar menyatu tetapi emosi, rasa seolah-olah menjadi personalize ini menjadi satu juga. Nah, ini yang saya kira menarik, bahkan kalau engga hati-hati ini bisa membawa implikasi perilaku asosial. Kita bisa saking senangnya menikah itu ga harus ketemu. Nah ini kan susah gitu ya.

Jadi hal-hal seperti itu yang buat orang PR ini manfaat yang luar biasa. Nanti bila sudah saatnya tools kita dengan 5.0, perilaku kita juga harus dengan society 5.0 hyper smart society, humasnya yang mengalirkan oksigen kepada seluruh stakeholder tadi juga humas yang bukan biasa-biasa saja. Humas yang mampu membangun, men-create seolah-olah 5.0 dan itu terjadi, itu menjadi tantangan.

Makanya sekarang ini humas tidak sekadar cantik, tidak sekadar tampan, tapi bagaimana hospitality itu muncul. Pintar saja tidak cukup, tampan saja ga cukup, tapi hospitality kemanusiaannya itu menjadi kelihatan. Atensinya berkomunikasi itu harus dinampakkan dan itu bukan gampang loh, itu sesuatu yang luar dalamnya sama kalau kita sedang stres, sedang geraknya apa-apa birokratis munculnya, ya perilaku kita birokratis. Kalau bisa diperlambat kenapa dipercepat. Kalau bisa dibelok-belokkan kenapa harus diluruskan.

Di tengah tantangan budaya kita itu sudah super smart artinya tidak sekadar smart tetapi super bahwasanya kita itu betul-betul ingin memanfaatkan adanya terobosan teknologi untuk menjadikan komunikasi kita itu lebih efektif dan lebih nyaman.

Sebagai salah seorang pendiri dari GPR Institute yang dalam waktu dekat akan mengadakan GPR Conference serta Top GPR Award 2022. Bagaimana harapan terhadap penyelenggaraan event tersebut nanti?

Sebetulnya ini adalah obsesi kehidupan, termasuk kehidupan saya pribadi. Saya belajar dari S1, S2, S3 bahkan guru besar ini adalah komunikasi spesialisasi kehumasan. Saya ingin mendarmabaktikan kehidupan saya ini untuk membangun humas, khususnya humas pemerintah karena saya di dalam government itu, menjadi humas itu yang bukan ecek-ecek istilahnya dalam bahasa Jawa. Ecek-ecek yang dimaksud adalah, humas yang kalah dengan swasta, humas yang selalu tidak bisa tegak berdiri karena kompetensinya hanya bisa minta tolong diurusi yang lain. Tidak itu.

Tetapi kita ini harus menjadi humas sebagai sebuah tim yang kuat, yang solid yang berpikir komperehensif sehingga perilaku produk humas itu adalah perilaku yang kemudian bisa menjadi acuan publik.

Trust ini menjadi kata kunci, kalau produk kita, perilaku kita, cara kerja kita itu menghasilkan trust, maka efektivitas komunikasi publik itu akan dengan mudahnya tercapai. Jadi, antara kata dengan perbuatan itu betul-betul harus dimunculkan ke dalam sebuah profesionalitas. Kalau saya merasakan sekali banyak miskomunikasi publik itu terjadi karena apa? Karena packaging-nya saja.

Di dalam dunia ini kan engga bisa persis kayak di surga besok ya. Tapi packaging-nya menjadi penting. Dan bahkan ada teori, jangan hanya melihat substansinya saja tapi sensasinya harus dibangun. Tugas manusia itu, yang namanya biasa itu harus dirubah menjadi luar biasa. Yang namanya belum ditata itu harus dirubah menjadi ditata, semuanya kehidupan kita, sehingga orang pintar itu orang yang bisa memintarkan dirinya.

Orang hebat itu adalah orang yang bisa menghebatkan dirinya. Bukan jadi orang hebat itu sendiri gitu, tidak. Kalau bahasa intan itu digosok, kita itu menggosok itu supaya betul-betul humas pemerintah itu humas yang digosok. Jangan sampai kalah dengan gosokan swasta atau gosokan humas perusahaan asing. Malulah kita sebagai bangsa gitu ya. Apalagi kita sudah punya cita-cita satu abad Indonesia merdeka itu, besok empat besar negara dunia. Malulah. Dan tidak hanya sekadar bisa bahasa Inggris, bukan.

Totally. Nilai-nilai kemanusiaan humas yang profesional ala pemerintah itu jangan lagi seperti dulu, bajunya baju kaku. Safari itu, tidak. Humas pemerintah ke depan itu, humas yang betul-betul seperti yang dicontohkan oleh Pak Presiden kita Pak Joko Widodo, humas yang agile, humas yang betul-betul lincah terhadap peradaban, termasuk juga humas yang tidak apa-apa punya follower, jangan, humas ah malu ah saya punya follower, gimana? Nanti saya gengsi dikira saya sombong.

Wah gimana? Jadi, otaknya itu harus dicuci dulu supaya betul-betul memahami top leader kita. Siapa top leader kita? Visi misi bangsa itu adalah presiden. Nah, itu yang saya kira menjadi tantangan kita dan itu membutuhkan, saya paham pak Rudi, ini adalah kerja yang besar sekali. Ini orkestrasinya, konduktornya itu betul-betul harus punya kekuatan yang luar biasa dan membutuhkan waktu, sehingga sekali lagi memang, kalau saya selalu sampaikan, saya pun mendarmabaktikan hidup saya sampai akhir zaman besok kembali ke haribaan Allah, itu untuk humas, supaya apa?

Setiap orang itu kan punya legacy kan ya? Setiap orang itu punya sesuatu yang harus .. dan bahkan saya sekarang pun menulis buku ya, supaya nanti ditularkan. Saat jadi dirjen saya sudah jadi satu buku, bagaimana ide gagasan komunikasi publik. Setelah ini, saya di staf ahli juga sedang nulis satu buku, bagaimana model kementerian komunikasi yang berbasis pada komunikasinya bukan pada teknologi semata, karena kalau komunikasinya itu beyond-nya di atas itu adalah apa? Humas.

Bagaimana humas itu kemudian memberikan angin sejuk, udara nyaman, ekosistem yang baik terhadap komunikasi yang sesuai dengan value bangsa kita kemudian ditopang informatikanya, teknologinya, connectivity-nya. Itu harus bersama-sama. Tidak hanya konektivitas saja, kalau konektivitas terjadi, maka yang terjadi, bisa jadi hal virtual ini bisa tabrakan, karena netizen ini tidak dididik, baik etikanya, moralnya, skill-nya, bahkan security-nya. Nah itu yang saya kira menjadi tantangan humas ke depan.

Kenapa ada GPR institute yang salah satu kegiatannya memberikan awarding, memberikan apresiasi. Itu supaya kita itu bangga terhadap kinerja kita. Kita bangga kalau ada yang mengapresiasi kan? Dan saya juga diskusi dengan para eselon satu di tempat saya, ya, apresiasi betul. Ini saya bersama dengan teman-teman dari sisi sosial, society, masyarakat ingin mengapresiasi institusi pemerintah. Oh, bagus pak, bagus prof. gitu. Sehingga apa? Kita akan membangun trust juga ini awarding.

GPR Institute itu harus punya trusting yang tinggi. Bahwa kita punya satu metode untuk menilai kinerja kehumasan di era saat ini. Kita punya pertanggungjawaban yang jelas, bukan sekadar oh, sana di kasih, oh sana ga usah dikasih karena hal yang tidak scientific. Jadi kita harus bergerak.

GPR Institute dalam awarding ini berbasic scientific dan kemudian akan melahirkan kebanggaan pengendali humas di institusi tersebut, dan itu kayak kita bertanding itu loh, kalo kemudian dilihat, oh kita sekarang mendapatkan, oh besok enggak dapat ya, itu kan sama juga dengan tata kelola. Oh sekarang WTP, besok WTP atau enggak, begitu. Jadi mari kita jadikan institusi GPR institute ini menjadi parameter kinerja kehumasan pemerintah baik pusat maupun daerah, baik BUMN maupun BUMD atau bahkan yang lainnya yang kemudian kita jadikan menjadi mitra kerja GPR ini.

Jadi memang ini pemikiran tidak setahun dua tahun selesai. Ini pemikiran besar, sehingga membutuhkan sistematika kerja yang juga besar. Tetapi paling tidak, visi misi kita jelas, bahwa kita ingin membangunkan kekuatan humas Indonesia untuk bisa bangga terhadap Indonesia, karena sekarang ini kekuatan yang paling dahsyat itu adalah kekuatan komunikasi.

Siapapun hebatnya kalau komunikasinya tidak ditata dengan bagus, roboh dengan cepatnya. Tetpai kita mungkin biasa saja, tetapi kekuatan komunikasinya luar biasa, Saya yakin publik akan punya kepercayaan kepada kita dan publik akan menjadi kekuatan kita untuk membangun bangsa.

Saran atau pesan yang ingin disampaikan?

Mari kita, terutama kepada teman-teman yang mendapatkan amanah, tugas di kehumasan pemerintah, buang jauh-jauh istilah bahwa jadi humas itu profesi dulu dipojokkan, dipinggirkan, tidak dihargai.

Itu zaman dulu. Mungkin bisa dimengerti. Zaman sekarang ini, pemimpin yang mengerti strategi bisnis, strategi politik, strategi membangun peradaban pasti akan melihat humas adalah partner yang sangat penting untuk menjadi dirinya sukses memimpin atau enggak. Dirinya berhasil memimpin atau enggak.

Oleh sebab itulah teman-teman humas harus unjuk gigi, bagaimana Anda tersenyum dengan senyuman yang betul-betul bisa membanggakan pemimpin. Ubah jauh, bahwa kita kerja baik itu biasa, kerja jelek atau sedikit itu tidak biasa. Ubah jauh.

Mari kita berpikir, kerja selalu baik dan akhirnya kita dipercaya dan akhirnya kita menjadi profesi yang selalu dicari, termasuk kita yang di humas pemerintah nanti kalau mau pensiun, itu pasti yang nangkap perusahaan swasta banyak, karena sukses membangun peradaban kehumasan pemerintah yang stakeholder-nya kompleks.

Ini kan pengalaman kerja, jadi saya selalu menyampaikan, orang yang bergiat di humas pemerintah, setelah pensiun jangan takut, pasti dapat pekerjaan yang menantang, yang menjanjikan, yang menyambut Anda dengan karpet merah. Sukses buat humas pemerintah Indonesia.

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru