Minggu, Agustus 14, 2022
spot_img

BERITA UNGGULAN

Kehumasan adalah Sebuah Ide Pemikiran Besar

SuaraPemerintah.ID – Berbahagialah Anda yang memiliki profesi di bidang kehumasan, karena ternyata kehumasan adalah sebuah ide pemikiran besar, apalagi di era komunikasi sekarang ini. Seperti dituturkan oleh Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Prof. Widodo Muktiyo kepada Suara Pemerintah TV. Berikut kutipan wawancaranya.

Seperti apa evaluasi Bapak terhadap perkembangan teknologi informasi yang di dalamnya mencakup teknologi digital dan virtual dewasa ini di Indonesia?

Kalau kita bicara teknologi ada generic purpose of technology. Jadi teknologi itu punya tujuan untuk semua bidang, tidak hanya untuk satu bidang tapi semua bidang baik dunia marketing, dunia public relations, dunia operational bahkan dunia sosial. Jadi ada generic purpose of technology, di mana di dalamnya sebetulnya ada temuan teknologi apalagi teknologi digital ini adalah menjadi supporter mendorong aktivitas manusia. Pengungkit juga, inabler. Pengungkit aktivitas manusia yang sebelumnya dulu ga pernah kita bayangkan cara ini terjadi. Termasuk juga menjadi driver, memberi arah. Kita bisa saksikan betapa perilaku kita ini sekarang diarahkan, di-drive oleh teknologi dan itu menjadi bagian dari respon stimulus kita, sehingga kemanusiaan kita itu betul-betul (dengan teknologi itu) menjadi hubungan yang tidak ada dusta karena teknologi itu pasti akan merefleksikan perilaku kita.

Oleh sebab itulah di era teknologi ini, kita semuanya, warga manusia ini adalah harus hati-hati karena itu adalah sebuah potret jujur dari teknologi. Termasuk juga menjadi transformasi, maksudnya menjadi pemindahan sebuah peradaban. Sebuah teknologi yang bahkan menjadikan yang lama itu obsulit/kuno, sudah tidak berlaku lagi (disruption).

Nah itulah sebenarnya kalau kita bicara mengenai teknologi di mana ini sebenarnya adalah hasil temuan manusia yang bebas nilai, yang tidak punya kepentingan apa-apa. Manusia lah yang kemudian bisa menggunakan, memanfaatkan teknologi yang sudah dia pegang sama di gadget kita, sebab itulah maka kearifan, nilai humanity kita itu akan membawa kepada peradaban komunikasi manusia.

Bagaimana menurut pandangan Bapak saat ini dikaitkan dengan lingkup kehumasan pemerintah?

Sebetulnya kehumasan itu adalah jantungnya institusi, jantungnya organisasi. Humas itu memompakan. Memompakan pesan, memompakan aliran darah ke seluruh organisasi apapun bentuknya. Apakah itu organisasi bisnis, organisasi nirlaba, organisasi government dan apapun organisasinya itu selalu membutuhkan aliran oksigen untuk bisa memfungsikan stakeholder-nya.

Jadi sebetulnya kalau kita bicara soal humas itu layaknya manajemen komunikasi, di mana humas menjadi center untuk menggerakkan fungsi-fungsi stakeholder itu. Oleh sebab itulah maka yang dialirkan pesan-pesan yang dibawa yang harus dibawa adalah pesan-pesan yang memang dibutuhkan untuk tujuan organisasi, sehingga selalu, kalau dalam bahasa kedudukan, humas itu selalu face of face top leader. Humas itu selalu berdampingan dengan top leader-nya, bahkan humas itu implementasi dari visi founding fathers-nya.

Nah, itu yang saya kira menjadi penting. Kalau kemudian dikaitkan dengan bagaimana khususnya pemerintah? Maka kita harus ingat kembali founding fathers kita. Bapak bangsa kita yang menggali Indonesia ini. Yang menggali nilai-nilai luhur Pancasila ini.

Itu yang harus kita menjadi acuan untuk kemudian ditularkan, diturunkan, diwariskan kepada generasi berikutnya agar supaya generasi berikutnya tadi bisa menjalankan value yang sudah digali oleh para founding fathers. Jadi tidak ada kata bahwa generasi ini terputus dengan generasi sebelumnya.

Kita ini membangun bangsa, membangun masyarakat itu harus sustainable. Kerangkanya harus berkesinambungan. Sehingga kalau kita lihat humas itu adalah mengumpulkan titik titik titik titik dalam sebuah garis untuk menuju bangsa yang maju.

Itu yang saya kira humas memberikan peran penting pada saat ini, memberikan titik pada saat yang akan datang, menyiapkan apa yang sedang kita kerjakan pada saat ini dan saat yang akan datang, itu terus menerus, sustain.

Oleh sebab itulah maka humas menjadi kekuatannya menyirami rumput-rumput hijau peradaban kita saat ini yang nanti akan tumbuh dan itu juga sekaligus akan menutup kalau ada kegiatan komunikasi yang jelek, yang tidak bagus, yang fake ya atau hoaks gitu.

Nah, itu menjadi tanggung jawab humas Indonesia sebetulnya. Masyarakat Indonesia, terkhusus adalah yang sedang mendapatkan amanah untuk mengelola bangsa ini, pemegang pemerintahan, government PR.

Jadi humas sekali lagi fungsinya sustain, fungsinya kontinu, fungsinya strategis, oleh sebab itulah maka humas itu dituntut untuk bisa berpikir strategik dan kemudian memberikan pesan yang dikemas, yang di-packaging sesuai dengan audiens-nya, jangan sampai kita berpesan tapi gak sampai karena pesannya otak otaknya kita bukan otaknya sana, maka humas itu ada kata kunci yang sangat penting yaitu empati. Jadi seorang humas profesional itu harus mampu mengempati suara hati masyarakatnya, suara publiknya.

Humas pemerintah itu tidak berada dalam ruang kosong, humas pemerintah itu berada dalam dinamika sosial ekonomi masyarakatnya dan itu membutuhkan kecakapan kompetensi dan bahkan kerjanya sekarang ini di era digital bisa dievaluasi.

Jadi memang kompetensi dan evaluasi itu akan melahirkan sebuah tantangan baru profesi humas saat ini.

Lantas, bagaimana untuk implementasinya?

Ya tentu saja humas ada yang namanya riset humas, ya. Kita kalau ingin menjalankan sebuah profesi itu harus tau fact finding, fakta yang ada di lapangan itu seperti apa, kemudian fakta yang ada itu kita olah, kita rumuskan menjadi sebuah kebijakan dan kemudian kebijakan itu kita lempar balik kepada publik sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Jadi feedback terhadap realita sosial masyarakat sesuai dengan zamannya tentu saja, itu harus menjadi data awal untuk kemudian kita memberikan, menggelontorkan, pesan-pesan yang akhirnya dibutuhkan. Jangan sampai saat ini sering terjadi kalau kita lihat dalam penelitian salah satu industri yang belum diminati dengan baik oleh masyarakat itu adalah industri komunikasi publik masyarakat.

Kenapa itu bisa terjadi? Ya barangkali saya mengerjakan sesuatu as usual dan kita mengerjakan sesuatu ternyata tidak dibutuhkan dengan packaging publik. Publik saat ini kan 60 persen lebih itu kan generasi z sama generasi milenial, tapi cara kerja kita barangkali masih generasi baby boomers, generasi masa lalu.

Jadi rasanya di era peradaban digital ini, kegiatan kehumasan harus cepat bertransformasi, beradaptasi kemudian bisa menjadi acuan atau menjadi sumber informasi yang penting bagi publik, jangan sampai publik malah mencari informasi yang lain yang tentu belum tentu sesuai dengan yang diharapkan, itulah terjadi ruang miss komunikasi antar warga masyarakat dan itu dalam waktu yang panjang dan berketerusan itu bisa melahirkan penyakit masyarakat, karena yang dimakan itu bukan makanan sehat, bukan makanan yang benar, tetapi makanan yang membikin resah membikin kacau otak kita dan itu akan menjadi distorsi untuk membangun sebuah peradaban bangsa ini.

Dikaitkan dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat belakangan ini, bagaimana GPR bisa mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital?

Ya ini memang tantangan serius menurut saya, makanya kalau kita mau melihat, saya kebetulan tahun 2019 sampai dengan 2021 menjadi orkes konduktor di desain IKP kominfo itu merasakan betul, kita jangan pendekatannya mekanistik ya, jangan pendekatannya hanya berdasarkan pesan yang kemudian dikasihkan EO, dan kemudian biar EO berjalan gitu.

Tapi kita ini pasukan humas. Kita ini adalah bekerja dengan jabatan fungsional pranata humas sehingga kita ini punya di situ juga ada pangkatnya, dari tanpa bintang sampai punya bintang kalau dalam bahasa militer. Tapi poinnya adalah GPR officer itu betul-betul dituntut memainkan peran pegang senjata. Senjatanya apa? Senjatanya itu komunikasi. Jadi jangan ada apa-apa ada anggaran dikasihkan orang lain.

Nah, itu yang saya kira menjadi solusi jangka panjang yang harus dibangun oleh government saat ini, supaya government saat ini betul-betul menanamkan pondasi, bukan main peran pemadam kebakaran. Kenapa itu bisa dilakukan karena itu persoalan peradaban.

Artinya, humas saat ini tantangannya adalah bukan sekadar membangun komunikasi untuk menghilangkan hoaks semata, tetapi membangun peradaban komunikasi yang sehat yang preventif supaya masyarakatnya mengerti, oh ternyata pemerintah itu sudah menjalankan sesuatu yang sangat luar biasa dan benar dan sekarang disampaikan, siapa itu GPR-nya.

GPR-nya punya senjata, jangan kemudian karena punya anggaran diberikan kepada sebuah institusi untuk bisa main dan itu short time, hanya program, project. Padahal ini perlunya kan adalah strategi makanya kegiatan komunikasi kehumasan itu komunikasi strategis yang berdimensi tidak kekinian project tetapi sustainable, kumpulan titik titik membangun peradaban tadi.

Jadi itu yang saya kira harus kita tanamkan dan usahanya memang membongkar mindset yang rutin, yang birokratis menjadi mindset GPR profesional milineal itu pekerjaan yang tidak menarik memang ya, tidak populer, tetapi itu harus dilakukan oleh siapapun yang punya idealisme untuk mengembangkan kehumasan pemerintah yang ini akan menjadi legacy kehumasan yang akan datang. Akan dicatat pasti.

Fenomena yang terjadi sekarang ini, kita sebagai pranata di bidang humas telah berupaya seoptimal mungkin dalam menyampaikan program-program instansi pemerintahan tetapi dalam hal media massa, kebanyakan mungkin rekan-rekan wartawan lebih menyukai statement langsung dari pejabat tertinggi, misalnya menteri. Saat ini fenomenanya, ada beberapa menteri yang diksinya menciptakan polemik. Bagaimana pranata humas harus menyikapinya?

Sebenarnya kalau lihat kedudukannya kalau humas itu face of face dengan top leader, maka humas itu sebetulnya tidak sekadar menjalankan apa yang top leader kita sampaikan, tapi juga menyiapkan top leader itu mau bicara apa.

Dalam sebuah contoh institusi, PR pro itu mesti menyampaikan pada top leader, bapak sebaiknya ga usah bicara yang bicara pak dirjennya saja atau pak deputy nya saja, bapak sebaiknya ini bicara yang hanya ini saja, bahkan dalam konteks yang lebih konkret, humas itu harus bisa mampu membuat question and answer dan itu menjadi pegangan bagi top leader atau sumber informasi siapapun yang akan ngomong mewakili institusinya.

Jadi, kalon nanti ditanya ini jawabnya begini dan humas harus betul-betul menguasai juga kalau kemudian sambil jalan, wartawan nyegat itu kan biasanya, betul-betul itu dievaluasi kalau sudah selesai, supaya top leader-nya itu sadar, bahwa, oh bapak sudah betul. On the right track itu statement-nya. Oh, bapak ini kayaknya jangan sampai harus kebawa pada pertanyaan.

Makanya, doktrinnya wartawan itu bad news is a good news kan? Sementara doktrinya PR apa? Important news is a good news.  Hal yang penting, hal yang menarik itu harus menjadi berita, bukan hal yang jelek. Hal yang tidak menguntungkan institusi. Jadi dua doktrin yang berbeda ini adu pintar.

Nah, di situlah sebenarnya, kegiatan kehumasan pemerintah itu untuk perlu disusun dengan komperehensif. Dan itu menyangkut kepada mindset.

Kalau mindset-nya, pokoknya humas hanya bagi-bagi press rilis, pokoknya saya hanya menyapa wartawan untuk datang, sekarang tidak begitu lagi.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

[gs-fb-comments]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

HOT NEWS

10,502FansSuka
419PengikutMengikuti
22PengikutMengikuti
2,060PelangganBerlangganan

TERPOPULER

Terpopuler PRAHUM

Special Interview

GPR Milenial