Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Gubernur BI Ungkap Penyebab Ekonomi 2024 Redup: Perang hingga Inflasi

SuaraPemerintah.ID – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan keadaan dunia yang masih diliputi ketidakpastian yang tinggi menyebabkan belum adanya titik terang kondisi ekonomi 2024.

Salah satu penyebab dari redupnya ekonomi 2024 ialah hadirnya beberapa perang yang terjadi di dunia. Pertama perang Rusia-Ukraina, kedua perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, dan ketiga ada perang antara Israel-Palestina.

- Advertisement -

“Dunia masih terus bergejolak, ada perang Rusia-Ukraina, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, dan kini konflik Israel-Palestina yang menimbulkan fragmentasi geopolitik dan akibatnya prospek ekonomi global meredup 2024 sebelum bersinar lagi di 2025,” tutur Perry.

“Ini menyebabkan fragmentasi geopolitik ekonomi dan akibatnya prospek ekonomi global meredup 2024, sebelum bersinar lagi 2025. Ketidakpastian masih tinggi dengan lima karakteristik,” tutur Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, Rabu (29/11/2023).

- Advertisement -

Ada lima alasan yang menyebabkan ekonomi 2024 redup. Pertama adalah turunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2024 yang hanya 2,8%. Kondisi ini akan meningkat menjadi 3% di 2025.

Kedua, penurunan laju inflasi di sejumlah negara maju sangat lambat, meskipun bank sentralnya sudah melakukan kebijakan moneter yang ketat dan agresif.

Inflasi negara maju baru turun di 2024, namun itu pun masih di atas target inflasi. “Ini karena tingginya harga energi dan pangan global, dan keketatan pasar tenaga kerja,” ungkap Perry.

Lalu ketiga adalah suku bunga acuan AS yang masih tinggi dalam waktu yang cukup lama. “Yield US Treasury terus meningkat karena bengkaknya utang AS,” ujar Perry.

Keempat adalah faktor dolar AS yang masih sangat kuat menyebabkan kejatuhan nilai tukar mata uang di seluruh dunia, termasuk rupiah.

Faktor kelima adalah cash is the king. Artinya, ujar Perry, ada pelarian modal asing dalam jumlah besar, dari negara berkembang ke negara maju. “Sebagian besar lari ke AS karena tingginya suku bunga dan kuatnya dolar,” jelas Perry.

“Lima gejolak global tersebut berdampak negatif ke berbagai negara tidak terkecuali. Perlu kita waspadai dan antisipasi dengan respons kebijakan yang tepat untuk ketahanan dan kebangkitan ekonomi nasional yang sudah susah payah kita bangun,” papar Perry, dilansir dari CNBC Indonesia

Cek Artikel dan Berita yang lain di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru