
Menulis untuk mengabdi
Oleh David Perdana Kusuma.
Buku, merupakan pintu menuju dan jendela melihat dunia Hibah buku untuk pengabdian. Menulis yang menyelamatkan Pengabdian melalui tulisan. Slogan –slogan penyemangat diri sendiri untuk menulis di tema ini. Menjadi ASN merupakan kesempatan yang luar biasa. Tidak menyangka perjuangan menjadi ASN mengantarkan seorang persona seperti kami menggapai beberapa hal yang tidak pernah kami sangka-sangka. Sesuai tema kali ini aku, buku dan tbm yang menceritakan tentang lika-liku perjuangan, kisah inspiratif atau tips membangun akitivitas literasi dan giat membaca di daerah masing-masing. Rasanya baru kemarin kami memutuskan untuk mencoba menulis dan jujur rasanya pengalaman dan buku yang berhasil kami terbitkan entah kenapa masih kurang. Rasanya baru sratch the surface. Kami sering berandai-andai dan bertanya-tanya, kenapa tidak dari dulu ya mencoba menulis?. Kami punya kebiasaan membaca yang sepetrinya oleh kolega dan peers kami, kebiasaan yang tidak asik dibawa ke tongkrongan dan seringkali salah kaprahi dan dianggap sok pintar. Membaca.
People , we are not that smart. that’s is way I read books. Jeez.
Sejak covid melanda, stress akibat pandemic juga ikut melanda kehidupan. Rasanya bisa gila kalau melihat pemberitaan yang ada. Bagaimana caranya me manage stress. Istri tercinta dan keluarga menjadi sasaran curhat. Siapa lagi kalau bukan orang terdekat. “ Cintaku bagaimana ya, kita hampir tiga bula ini tidak ketemu, kalau papi nekat pulang papi bakal di sanksi dan sanksinya juga lumayan berat. Padahal baru jadi ASN. Sedangkan keutuhan rumah tangga bisa terganggu kalau begini caranya ”. Akhirnya istri tercinta tiba-tiba nyeletuk dan memberikan saran yang menurut saya betul-betul mengubah hidup kami. “Coba nulis aja yang”. Kata istri. Karena dunia dipaksa work from home dan semuanya dilakukan secara online. Melalui platform zoom kita bisa kenal dengan orang-orang luar biasa yang pada saat sebelum covid belum tentu bisa dan ada kesempatan bertemu. Ketika parah-parahnya covid, saya memusatkan perhatian ke menulis selain tetap bekerja tentunya. Ternyata menulis bukan cuma sarana melepas stress. Melalui tulisan kita bisa juga produktif dan melakukan pengadian kepada msayrakat. Sesuai dengan tugas hakiki kita sebagai ASN berahlak, melakukan pelayanan dan pengabdian.
Banyak orang-orang luar biasa yang tidak bisa kami sebutkan namanya menjadi inspirasi dan membimbing kami dalam menulis. Tidak disangka-sangka karya kami kalau digabung sudah dua ratusan. Termasuk buku solo dan buku antologi. Bisa bergabung menulis dengan orang-orang luar biasa ini rasanya seperti mimpi saja. Ternyata yang kami sadari, banyak juga orang-orang yang mulai kebiasaan menulis ketika pandemic melanda. Semuanya punya bermacam tujuan namun pada akhirnya mengerucut menjadi satu. Menulis itu menyelamatkan. Dengan menulis kami mampu carve our path step by step. Mengajak teman kolega guru, pns, dan keluarga untuk menulis dengan berbagai macam tema dan jenis tulisan.
Kami bisa bertemu secara online dan offline bersama orang luar biasa yang biasanya cuma bisa kita lihat virtual. Kami bisa mengajak para penulis lokal untuk berkontribusi dalam menulis serta memperkenalkan kabupaten kami kepada dunia. Tema tulisan yang beragam dan mengutamakan adat istiadat serta kearifan lokal sering kami tonjolkan melalui berbagai artikel dan antologi.
Kemarin saya melihat ada salah satu teman ASN yang juga penulis menyumbangkan enam dus besar buku untuk dinas perpustakaan di provinsi kami. Senang sekali rasanya, namun terbersit rasa gundah gulana juga, aku kok rasanya belum nyumbang sebanyak itu ya. Tiba-tiba istri nyeletuk dan mengingatkan saya. “Buku yang kamu sumbangkan sudah berdus-dus, lebih dari yang itu. coba aja kamu lihat di berita acara serah terima bukunya.” Kata istri. Ternyata setelah saya cek, tumpukan Berita acara serah terima buku dan daftar judul buku yang dulu pernah saya buat. Jumlahnya lumayan dan kalau berdus pun kayanya lebih dari enam dus. Soalnya buku yang kami sumbangkan bukan cuma buku yang kami tulis namun juga dari beberapa hibah buku yang dulu pernah kami dapatkan dari keluarga ataupun teman yang berbaik hati menghibahkan buku, terima kasih orang baik.
Mengajak seseorang menulis itu bukan hal yang gampang. Sampai sekarang kami masih belajar. Sampai sekarang kami masih berkarya dan terus menerus, menggerakkan dan memupuk semangat, bukan hanya diri kami sendiri, namun juga para penggiat literasi di kabupaten kami. Kalau prestasi, kalau memang bisa dibilang prestasi ya, selain buku yang kami hibahkan, kami juga berhasil membuat project dengan dinas perpustakaan dan arsip dan balai bahasa kalteng. Perpustakaan memiliki program inklusi yang menurut kami membuka kesempatan agar perpustakaan mampu berevolusi menjadi tempat yang hype, menyenangkan dan berkembang sesuai zaman. Dengan balai bahasa kami membuat berbagai buku anak dengan tema STEAM.
Perubahan secara pribadi dalam hidup setelah kami menulis begitu terasa. Kadang rasanya sombong amat ketika melabeli diri sebagai penulis. Tapi ya emang kerjaan yang dilakukan, karya nyata dan pengabdiannya ya seperti itu, ya gimana lagi. Semangat menulis itu perlu dipupuk, semangat melakukan perubahan,semangat untuk berkarya merupakan hal yang sangat perlu dilakukan. Menjadi pioneer dan penggerak itu merupakan keharusan. Di DPAD kabupaten kami, kami membuat kelas khusus bahasa prancis gratis untuk siswa yang ingin belajar bahasa prancis. Kemudian kami juga berhasil mengajak siswa sekolah kami dalam mensukseskan program kegiatan DPAD melalui survey dan kuota pengunjung perpustakaan. Bukan hal yang terlalu significant memang, tapi kami merasa bahwa hal-hal kecil seperti ini akan membawa perubahan dan ripple yang pasti akan membuat ombak yang cukup besar. Kami juga berhasil membawa masyarakat dari berbagai profesi di kabupaten kami untuk ikut menulis dan berkarya. Rasanya benar-benar luar biasa.
Sebenarnya ada perasaan takut ketika kita memulai sesuatu yang baru. Bagi kami menulis itu hal yang aneh dan luar biasa. Tidak menyangka bisa membuat ratusan tulisan. Major life changes itu hal yang begitu kuat, namun tergantung juga cara kita menghadapinya. Our attitude towards it sangat berpengaruh. Jangan bilang I can, tapi yakinkan diri dan bilang I do. Bisa kenal dengan orang-orang luar biasa yang selama kurang lebih tiga tahun ini kami temui merupakan pengalaman begitu berharga. Menulis untuk penerbit, menulis ikut lomba, menulis artikel, satu grup whatsapp dengan penulis –penulis dari jawa dan sekitarnya, benar-benar seperti mimpi yang terwujud. Rasanya sepuluh halaman pun belum cukup, untuk menulis tentang lika-liku besarnya manfaat buku. Menulis, dan berkarya. Untuk negeri.
Kalau berbicara tentang tantangan banyak banget kayanya. Bukan hanya dari eksternal namun juga internal. Faktor eksternal biasanya, ketika kita mengajak menulis. Biasanya yang dari seratus orang yang memang mau menulis tidak sampai sepuluh. Kemudian karya kita biasanya tidak ada yang membaca.di situ kadang saya merasa sedih.(eaaaa). Zaman yang menuju 5.0 ini, kemudia era VUCA benar-benar menjadi tantangan. Banyak pembaca dan penulis yang beralih ke ebook. Dengan alasan kemudahan. Kami pribadi tidak terlalu suka membaca di handphone. Menulis di platform online pun agak males. Lebih menantang rasanya self publishing. Tapi ya to each his/her own semua orang punya cara dan kualitas serta self gratifying dan hak sendiri dalam menentukan bagaimana mereka ingin menulis. Kemudian rendahnya minat baca. Penulis kayanya banyak, tapi yang memang niat membaca buku itu sedikit. Kenapa ya?. Apakah karena habis waktu melihat kotak persegi yang kita namai handphone?. Bagaimana dengan tantangan penulis ke depannya? Apakah masih bisa eksis dengan adanya CHAT GPT?, sebuah AI yang bisa menulis dengan cepat?. Ada aplikasi AI yang kami coba kemarin, mampu membuat sebuah cerita dan langsung memberikan ilustrasi gambar tentang cerita dan paragraph yang kita masukkan ke programnya dengan sangat detail bahkan sampai ceritanya tamat. Benar-benar mengagumkan dan menakutkan,.great, yet teribble things,. I dare say,. Banyak teman kami yang bertanya, buat apa membeli buku hardcopy, kan sudah ada softcopy?.
Aplikasi AI yang kami sebutkan memang rata-rata berbayar, dan jujur, kami tidak mampu bayar. tapi on the other hand, rasanya it is a small price compare to waktu yang kita perlukan untuk biasanya menulis dengan cara konvensional. Hanya dengan bebrapa puluh dolar, kita bisa membuat beberapa karya sekaligus dengan bantuan AI. Jadi bertanya-tanya, apakah menjadi penulis dengan cara seperti itu masih bisa disebut menulis juga? Atau manusia bakal tergantikan oleh AI?. Bingung saya.
Kalau faktor internal, biasanya lebih ke niat. Belum lagi kalau misalnya banyak kesibukan lain. Kita pasti tahu yang namanya menulis itu perlu berbagai persiapan. Bukan hanya niat. Terganggu sedikit saja pasti langsung malas melanjutkan. Keterbatasan kita sebagai manusia, sering menjadi alasan kenapa kita tidak melanjutkan, bahkan enggan, atau bahkan berhenti menulis. Rasanya susah sekali menggerakkan badan, otak, tubuh, jari-jari ini untuk mengetik setiap tuts di keyboard. Belum lagi internal struggle seperti impostor syndrome, overthinking, dan affirmation and validation of others yang sepertinya merupakan syarat untuk diakui. Haduh ribet, ruwet menjengkelkan.
Mengenai taman bacaan seperti tema yang diangkat tadi, kayanya apakah masih bisa relevan di dunia sekarang ini?,. Kami sering melihat program perpustakaan keliling, sikomos(program buku Kodim TNI) dan taman bacaan lain di kabupaten saya yang baru mulai dan bisa dihitung jumlahnya. Rata-rata minat anak yang membaca di lokasi, sepertinya bisa dihitung dengan jari. Tantangan ini menurut saya harus ditindaklanjuti dengan kerjasama antar stakeholder. Bukan cuma penulis dan penggiat literasi saja. Jangan sampai anak-anak kita sampai tidak pernah memegang dan membaca buku konvensional. Perpaduan antara teknologi melalui pocadi (pojok baca digital) dan perpus corner seperti di DPAD kota yang pernah kami coba, memang inovasi yang cerdas, namun harus terintegrasi dan diawasi juga. Buku –buku yang diakses kalau bisa dibatasi, dan hanya buku yang mengedepankan kearifan lokal atau penulis-penulis lokal saja. Jadi siapapun yang mengakses kalau mereka ingin mencari buku yang lain mereka tetap harus ke perpus. Bisa juga, buku digital yang diakses, hanya separuhnya saja, sisanya pengguna tetap harus ke perpus dan membaca di sana.
Biasanya yang kami lakukan untuk memperkenalkan dan menggiatkan kebiasaan membaca adalah dengan mengikuti car free day yang dilaksanakan setiap hari minggu. Kami membawa buku-buku koleksi kami dari yang berbahsa inggris, prancis, dan buku karya kami sendiri. Atau biasanya kami juga mengikuti program –program pemerintah daerah yang melibatkan penulisan. Kalau mendirikan tbm(taman bacaan masyarakat) kayanya perlu tempat yang cukup luas dan memadai, aman, mudah dijangkau dan ramah anak. Tidak ada dananya guys. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan sedikit gambaran tentang perjuangan dan tantangan yang akan kita hadapi ke depannya. Semoga berkenan. Tabe salamat lingu nalatai, salam sahujud karendem malempang,. Adil katalino, bacuramin kasaruga, basengat kajubata. Arus. Arus.
Tuhan memberkati kita sekalian. Lamandau, 24 Mei 2023.





