Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Cegah Tetelo, Kementan Perkuat Vaksinasi untuk Lindungi Peternak Unggas

Penyakit Tetelo atau Newcastle Disease (ND) masih menjadi tantangan nyata bagi peternak unggas di Indonesia. Meski tidak selalu menyebabkan kematian, penyakit ini kerap menurunkan produksi telur dan pertumbuhan ayam secara signifikan. Dampaknya langsung dirasakan peternak karena menekan hasil panen dan pendapatan usaha.

Untuk melindungi peternak dari kerugian tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penguatan vaksinasi dan penerapan biosekuriti secara konsisten melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan peternak. Langkah ini dinilai penting agar produktivitas unggas tetap terjaga dan usaha peternakan rakyat berkelanjutan.

- Advertisement -

Direktur Kesehatan Hewan Kementan Hendra Wibawa mengatakan ND masih bersifat endemik dan berpotensi mengganggu produksi unggas nasional jika tidak dikendalikan secara serius. “Newcastle Disease tidak hanya berdampak pada kesehatan unggas, tetapi juga menurunkan produktivitas. Jika tidak dikendalikan dengan baik, ini akan berpengaruh pada ketersediaan pangan asal unggas,” ujar Hendra dalam webinar bertema Satu Abad Newcastle Disease di Indonesia: Refleksi Sejarah, Tantangan Masa Kini, dan Strategi Masa Depan, Senin (26/1/2026).

Bagi peternak, pengendalian ND berarti menjaga ayam tetap produktif dan mencegah penurunan produksi yang sering kali tidak disadari. Ayam yang tampak sehat bisa saja mengalami penurunan performa akibat infeksi ND subklinis, sehingga hasil usaha tidak optimal.

- Advertisement -

Hendra menegaskan pengendalian ND tidak bisa dibebankan kepada peternak semata. Pemerintah hadir melalui pendekatan kolaboratif yang disebut sebagai segitiga emas, yakni pemerintah sebagai regulator, sektor swasta sebagai penyedia teknologi vaksin dan obat hewan, serta peternak sebagai pelaksana di lapangan. “Vaksinasi, biosekuriti, dan pelaporan penyakit harus berjalan seiring agar pengendalian ND lebih efektif,” tegasnya.

Kepala Balai Veteriner Lampung Suryantana menjelaskan bahwa tantangan ND saat ini justru terletak pada dampak ekonominya yang sering luput dari perhatian. “Saat ini banyak kasus ND yang tidak mematikan ayam, tetapi produktivitasnya turun drastis. Ayam terlihat sehat, namun produksi telur atau pertumbuhan tidak optimal,” kata Suryantana. Kondisi ini membuat peternak mengalami kerugian tanpa disadari penyebabnya.

Ketua Komite Kesehatan Unggas Nasional Prof. I Wayan Teguh Wibawan menekankan bahwa vaksinasi tetap menjadi benteng utama bagi peternak dalam menjaga produksi. “Biosekuriti penting, tetapi tidak cukup. Untuk penyakit yang menular lewat udara seperti ND, vaksinasi adalah benteng utama agar ayam tidak sakit dan produksi tetap terjaga,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kecocokan vaksin dengan virus yang beredar di lapangan. “Jika virus masih menyebar secara diam-diam, produksi akan tetap terganggu meski ayam tidak menunjukkan gejala berat,” ujarnya.

Kementan menilai peningkatan pemahaman peternak terhadap ND, termasuk bentuk subklinisnya, menjadi kunci keberhasilan pengendalian penyakit. Melalui vaksinasi yang tepat, biosekuriti yang disiplin, dan kerja sama semua pihak, pemerintah menegaskan kehadiran negara dalam melindungi peternak dari risiko kerugian, menjaga produktivitas unggas nasional, serta memastikan pangan asal unggas tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru