Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tanggapan terhadap berbagai isu terkini dalam acara dialog bersama Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi Makro (Forkem) di Jakarta pada Jumat (6/3). Salah satunya, ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang aman dan stabil meskipun menghadapi tantangan berupa peningkatan tensi geopolitik.
Menkeu memaparkan bahwa indikator makroekonomi Indonesia, seperti rasio utang terhadap PDB dan defisit anggaran, masih dalam batas aman. Pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang mencapai 5,11 persen bahkan menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20.
“Kalau kita lihat dari rasio utang PDB, kita aman. Kita lihat dari defisit ke PDB, kita aman. Pertumbuhan, kita aman. Bahkan kita tertinggi kan di G20. tumbuhnya 5,11 persen tahun lalu,” ujar Menkeu. Ia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tahun ini dapat mencapai angka 5,5 hingga 6 persen.
Menanggapi kekhawatiran mengenai dampak konflik Iran terhadap harga minyak dunia, Menkeu menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan empat skenario simulasi. Skenario terburuk memprediksi harga minyak bisa mencapai 92 dolar AS per barel. Meski demikian, pemerintah belum berencana mengubah asumsi APBN 2026 karena fluktuasi harga akibat perang biasanya bersifat sementara.
Menkeu juga memberikan pemutakhiran data mengenai pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR). Hingga 6 Maret 2026, pemerintah telah menyalurkan THR sebesar Rp3 triliun untuk ASN pusat, Rp11,4 triliun untuk pensiunan, dan Rp127,6 miliar untuk ASN daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah masing-masing.
Dalam acara tersebut, Menkeu pun menanggapi keluhan masyarakat mengenai kerumitan bahasa teknis dalam sistem Coretax, Menkeu berjanji akan melakukan perbaikan dan memberdayakan pegawai pajak di seluruh Indonesia untuk membantu wajib pajak. Menkeu mengonfirmasi bahwa realisasi pengumpulan pajak pada dua bulan pertama tahun ini menunjukkan tren positif, dengan kenaikan pertumbuhan dari 7 persen di bulan Januari menjadi 19 persen pada Februari.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menambahkan keterangan bahwa kepercayaan investor terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia tetap kuat. Hal ini tercermin dari angka spread bunga Indonesia yang berada di sekitar 240 basis poin, lebih rendah dibandingkan rata-rata negara mitra yang berada di atas 250 basis poin.
“Makin kita konsisten, makin yield-nya itu bisa kita jaga dengan baik. Itulah refleksi dari confidence kepada pengelolaan makroekonomi dan APBN Indonesia,” tutup Suahasil.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)












