spot_img

BERITA UNGGULAN

PJJ Jenjang Pendidikan Menengah Bawa Harapan Baru Tekan Angka ATS

Peluncuran Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah membawa harapan baru untuk menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di berbagai wilayah Indonesia. Pada momen peluncuran program ini, sejumlah kepala sekolah induk dan sekolah mitra menyampaikan kesiapan serta harapan pelaksanaan PJJ.

Salah satunya diungkapkan oleh Kepala Tata Usaha Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Malaysia, Sukma Sabdani. Ia mengatakan bahwa program PJJ terbukti memberikan solusi nyata bagi ratusan murid Indonesia di wilayah Sabah, Malaysia, yang memiliki kendala untuk melanjutkan pendidikan. Selama ini, pelaksanaan PJJ di sekolahnya berjalan dengan baik dan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan akses pendidikan.

- Advertisement -

“Dari sekitar 1.700 lulusan tingkat SMP setiap tahun, program PJJ mampu menampung lebih dari separuh murid yang sebelumnya tidak terakomodasi dalam program pendidikan formal. PJJ menjadi solusi efektif bagi mereka yang tinggal di wilayah terpencil, termasuk anak-anak Indonesia yang berada di kawasan perkebunan dengan jarak hingga ratusan kilometer dari pusat kota maupun SIKK,” ujar Sukma.

Pelaksanaan PJJ juga disambut baik dengan antusiasme tinggi para murid. Sukma menuturkan bahwa selain memberikan akses pendidikan, PJJ memungkinkan murid untuk tetap belajar di tengah aktivitas sehari-hari, termasuk membantu orang tua bekerja di perkebunan maupun di tempat lain.

- Advertisement -

“Ke depan, SIKK berencana untuk terus mengembangkan cakupan program PJJ agar dapat menjangkau lebih banyak murid, termasuk mereka yang telah bekerja, tetapi belum menyelesaikan pendidikan. Semoga program ini dapat terus berlanjut dan mendapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah,” terang Sukma.

Selanjutnya, sebagai sekolah induk yang akan melaksanakan PJJ, Sabaria Umahuk, Kepala SMAN 1 Ternate, Provinsi Maluku Utara, menyampaikan bahwa pihak sekolah telah melakukan berbagai persiapan untuk mendukung implementasi program PJJ. Dalam implementasinya, SMAN 1 Ternate dipercaya sebagai sekolah induk yang akan berkolaborasi dengan tiga sekolah mitra, yakni SMAN 1 Halmahera Utara, SMAN 1 Pulau Morotai, dan SMAN 2 Halmahera Timur.

Kolaborasi ini, menurutnya, bertujuan untuk memberikan layanan pendidikan yang lebih luas dan merata, khususnya bagi anak-anak yang tidak dapat mengakses pendidikan formal. “Program ini menjadi peluang besar untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum mendapatkan akses pendidikan, khususnya di daerah kami, Maluku Utara. Melalui kolaborasi yang kuat dan dukungan pemerintah daerah, kami optimis dapat memberikan layanan pendidikan yang maksimal guna menekan ATS dan mewujudkan pendidikan yang bermutu,” tutur Sabaria.

Senada dengan Sukma dan Sabaria, Kicky Eceu Wardani, Kepala SMAN 2 Padalarang, Jawa Barat, menyatakan kesiapan dan dukungan penuh terhadap implementasi PJJ sebagai upaya memperluas akses pendidikan, khususnya kepada murid yang tidak dapat mengikuti pembelajaran tatap muka secara langsung. Ia menuturkan bahwa sekolahnya telah memiliki pengalaman serupa dengan menyelenggarakan program SMA Terbuka. Baginya, pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mengelola pembelajaran bagi murid seperti PJJ.

Terkait dengan dukungan dari pemerintah daerah, sekolahnya juga telah melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan dan berbagai sekolah di wilayah Jawa Barat untuk memperkuat kesiapan implementasi PJJ. “Program ini sangat membantu karena memfasilitasi murid yang tidak dapat hadir langsung di sekolah. Fokus PJJ saat ini juga diarahkan kepada anak-anak yang sempat berhenti sekolah agar dapat kembali melanjutkan pendidikan. Semoga implementasi PJJ ini berjalan baik dan membawa harapan baru untuk para ATS di wilayah Jawa Barat,” terang Kicky.

Merespons tiga pernyataan di atas, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa tantangan lainnya saat ini adalah bagaimana mengintegrasikan PJJ dengan Pembelajaran Mendalam. Implementasi PJJ tentunya beririsan dengan Pembelajaran Mendalam yang tidak hanya berfokus pada proses transfer dan transformasi pengetahuan semata, tetapi juga ada keterlibatan proses mental, kognitif, serta aspek pembelajaran lainnya yang terintegrasi secara utuh.

“Sekolah induk dan sekolah mitra terpilih memiliki peran penting bukan hanya sekadar menekan angka ATS, melainkan juga bagaimana membentuk karakter mereka dan mengembangkan kompetensi yang kuat. Semoga program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan berkualitas,” pungkas Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, di Kabupaten Tangerang, Kamis (23/4).

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru