Raihan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menorehkan tinta emas pada sektor pangan. Swasembada beras sudah digapai dengan mengandalkan sepenuhnya pada produksi beras dari petani dalam negeri. Impor pun telah dihentikan.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan) menuturkan capaian swasembada Indonesia akan berkelanjutan. Ia bahkan mendukung visi Presiden Prabowo agar Indonesia dapat menjadi lumbung beras bagi dunia.
“Di akhir 2025 Indonesia mencapai swasembada beras dan pangan sempurna, yaitu tidak ada impor dan stok tertinggi selama Republik ini berdiri. Ini tidak pernah terjadi selama Republik ini berdiri. Jadi (sejak) kami lahir sampai tahun 2025, ini tertinggi,” kata Amran dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) Tahun 2026 dikutip Senin (29/6/2026).
Adapun stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang merupakan pencetak rekor dalam sejarah Indonesia sampai hari ini total stok beras yang dikelola Perum Bulog masih ada lebih dari 5 juta ton dan tersebar di seluruh Indonesia. Ini diperuntukkan bagi masyarakat melalui berbagai program.
“Hari ini (stok beras) berada pada posisi 5,1 juta ton, sedangkan kapasitas gudang kita hanya 3 juta ton. Jadi kita sewa gudang 2 juta ton dan beras-beras kita berada di seluruh pulau-pulau di Indonesia. Itu capaian pangan kita, insya Allah ini berkelanjutan. Jadi inilah saatnya nanti Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, khususnya beras,” papar Amran.
Dalam catatan Bapanas, total stok beras berada di 5,17 juta ton yang bersumber dari pasokan dalam negeri dengan total 3,28 juta ton. Langkah pemerintah ini cukup beralasan karena terdapat surplus produksi terhadap konsumsi beras sampai Juni ini di kisaran 3,72 juta ton. Surplus tersebut penting untuk memperkuat CBP, terutama menjelang musim kemarau.
Surplus tersebut berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas menunjukkan total produksi beras selama Januari-Juni tahun ini dapat mencapai 19,2 juta ton. Angka produksi tersebut masih melebihi total kebutuhan konsumsi beras nasional Januari-Juni yang diperkirakan berada di angka 15,48 juta ton.
Sementara program penyaluran yang menjadi andalan pemerintah masih terus dijalankan. Program bantuan pangan periode Februari-Maret yang diperpanjang sampai Juni telah mencapai realisasi 97,97 persen atau 32,57 juta keluarga penerima manfaat. Secara kuantitas, beras yang telah tersalurkan sebanyak 651,4 ribu ton.
Sebagai kontinuitas, pemerintah juga telah memutuskan program bantuan pangan beras dilaksanakan kembali mulai Juli sebanyak 3 bulan alokasi. Total beras yang akan disalurkan mencapai 997,3 ribu ton, sehingga pemerintah sampai akhir 2026 setidaknya menggelontorkan CBP ke masyarakat hingga 1,6 juta ton.
Untuk realisasi penjualan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tahun 2026 yang periodenya dimulai Maret sampai 29 Juni telah menyentuh 393,4 ribu ton. Adapun program beras SPHP ini merupakan strategi pemerintah dalam intervensi harga beras di pasaran dengan menyediakan beras kualitas medium dengan harga lebih rendah dibandingkan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Gelontoran stok CBP selama ini dapat dilakukan karena Indonesia fiks telah mencapai swasembada beras. Namun demikian, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman tetap mengajak kolaborasi dengan berbagai pihak. Ini penting demi Indonesia dapat menjadi negara super power di masa mendatang.
“Kita ini banyak kekurangan tapi kita kolaborasi. Kita kerja sama, karena percaya negara lain tidak ingin Republik Indonesia menjadi super power. Jadi kita kolaborasi, Insya Allah Indonesia (bisa menjadi) super power,” kata Amran.
“(Indonesia) swasembada itu siapa yang tidak bahagia? Negara eksportir beras. Kenapa? (Karena) kita (dulu) pengimpor (beras) terbesar dunia. Tiba-tiba kita hentikan (impor) dengan kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo. Kita hentikan sekarang,” tambah Amran.
Azimut kebijakan yang lebih mengutamakan kemampuan bangsa sendiri memang merupakan arahan Presiden Prabianto Subianto. Kepala Negara bahkan membagikan visi Indonesia dapat membantu negara-negara lain dengan menjadi lumbung pangan dunia.
“Saya kira, tidak lama lagi kita bisa jadi lumbung padi dunia. Kita bisa bantu banyak negara.Tapi intinya sekarang kita bersyukur, kita jaga. Ini tidak boleh fenomena satu tahun, dua tahun, harus sistem yang berkelanjutan,” ucap Presiden Prabowo di Gorontalo (24/6/2026).
“Kita mau tiap desa bisa swasembada, tiap kecamatan swasembada, tiap kabupaten swasembada, tiap provinsi swasembada, (itu) minimal. Kalau bisa, provinsi produksi untuk ekspor, produksi untuk ke tempat lain. Ini kita punya strategi ke depan,” tambah RI-1.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






