Mengurangi sisa pangan tidak cukup dilakukan di tempat pengolahan sampah, tetapi harus dimulai dari rumah tangga. Berangkat dari semangat tersebut, Kampanye Warga Jakarta Bijak Pangan diluncurkan di Jakarta, Rabu (22/7/2026), untuk mendorong masyarakat membangun kebiasaan mengelola pangan secara lebih bijak, mulai dari merencanakan belanja, mengolah bahan pangan secukupnya, hingga menghabiskan makanan sesuai kebutuhan.
Kampanye yang akan berlangsung hingga Oktober 2026 tersebut merupakan bagian dari inisiatif GRASP 2030 yang diselenggarakan melalui kolaborasi Badan Pangan Nasional (Bapanas), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), dan organisasi internasional WRAP (The Waste and Resources Action Programme). Program ini disusun berdasarkan hasil studi formatif mengenai perilaku masyarakat dalam mengelola pangan.
Melalui pendekatan pentahelix, kampanye ini melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media untuk membangun kesadaran bahwa pengurangan sisa pangan merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan menjaga kelestarian lingkungan.
Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Nita Yulianis, mengatakan kampanye tersebut sejalan dengan prioritas pemerintah dalam memperkuat upaya pencegahan dan pengurangan sisa pangan sebagai bagian dari penyelamatan pangan nasional.
“Dengan kita menghargai pangan, tentunya kita juga menjaga lingkungan. Upaya menghargai pangan melibatkan peran serta tidak hanya pemerintah ataupun pemerintah daerah, tetapi juga komunitas, masyarakat, dan seluruh pihak,” kata Nita.
Menurut Nita, perubahan perilaku dapat dimulai dari langkah sederhana di setiap keluarga. Karena itu, masyarakat diajak menerapkan lima kebiasaan bijak pangan, yakni bijak merencanakan dan berbelanja pangan, menyimpan pangan dengan benar, mengolah pangan secara bijak, mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan hingga habis, serta mendukung ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sisa pangan agar tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Ia menambahkan, gerakan ini juga mendukung komitmen nasional dalam pencegahan Susut dan Sisa Pangan (SSP) serta pengembangan ekonomi sirkular untuk mewujudkan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat upaya tersebut melalui penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Sistem Pangan yang salah satunya mengatur pencegahan dan pengurangan sisa pangan.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menggagas penyusunan Raperda Penyelenggaraan Sistem Pangan yang di antaranya memuat pasal mengenai pencegahan dan pengurangan sisa pangan,” ujar Hasudungan.
Ia menjelaskan, Raperda tersebut mengatur pemanfaatan sisa pangan yang masih layak dikonsumsi sekaligus pemberian insentif bagi pelaku usaha, termasuk hotel, restoran, dan katering, yang menerapkan pengelolaan sisa pangan secara bertanggung jawab agar pangan yang masih layak tidak terbuang percuma.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengatakan kampanye ini melengkapi berbagai langkah yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya. Saat ini Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari dan hampir separuhnya merupakan sampah organik, termasuk sisa makanan.
Menurut Dudi, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi timbulan sampah tersebut. Upaya itu diperkuat melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan pemilahan sampah menjadi empat kategori, yakni organik, anorganik, B3, dan residu sejak 10 Mei 2026. Kebijakan tersebut juga didukung gerakan Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah serta pembangunan berbagai fasilitas pengolahan sampah untuk memperkuat pengelolaan dari hulu hingga hilir.
Executive Director Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Indah Budiani, mengatakan pengurangan sisa pangan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi dunia usaha melalui penghematan biaya pembelian, penyimpanan, pengolahan, hingga pengelolaan limbah. “Karena itu, mengurangi sisa pangan juga menjadi bagian dari pengelolaan usaha yang lebih efisien dan bertanggung jawab,” ujar Indah.
Ia menambahkan, bersama pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media, IBCSD telah menyiapkan rangkaian kampanye yang mendampingi masyarakat membangun kebiasaan baru, mulai dari merencanakan kebutuhan pangan, berbelanja secukupnya, menyimpan makanan dengan benar, memanfaatkan kembali bahan pangan yang masih layak, hingga menyelamatkan makanan yang masih aman dikonsumsi untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Peluncuran Kampanye Warga Jakarta Bijak Pangan juga dirangkai dengan Demo Masak Bapak-Bapak Bijak Pangan yang menghadirkan musisi Kaka Slank bersama para pemangku kepentingan sebagai simbol bahwa pengelolaan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat. Melalui kolaborasi pentahelix yang terus diperkuat, kampanye ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya bijak pangan, mengurangi timbulan sisa pangan, serta mendukung terwujudnya Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






