BerandaPemerintahHarga Gabah Menguat, Kesejahteraan Petani Capai Rekor Tertinggi dalam Delapan Tahun

Harga Gabah Menguat, Kesejahteraan Petani Capai Rekor Tertinggi dalam Delapan Tahun

Upaya pemerintah menjaga keseimbangan kepentingan petani dan konsumen kembali menunjukkan hasil positif. Di satu sisi, kesejahteraan petani padi terus meningkat dengan indeks harga yang diterima petani mencapai level tertinggi dalam 8 tahun terakhir. Di sisi lain, inflasi beras tetap terkendali berkat penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan berbagai program stabilisasi yang dijalankan secara berkelanjutan.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, indeks harga yang diterima petani pada Juli 2026 mencapai 151,10, menjadi level tertinggi. Pencapaian tersebut mencerminkan harga gabah yang semakin menguntungkan bagi petani.

- Advertisement -

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berpandangan bahwa komoditas beras bagi rakyat Indonesia harus terus dijaga secara serius. Untuk itu, keberlanjutan harga di tingkat petani padi menjadi fokus pemerintah.

“Beras itu adalah pangan strategis yang kita jaga betul. Alhamdulillah sekarang (cadangan) beras kita 5,2 juta ton. Ada orang tertentu bilang mahal, dia tidak melihat negara lain,” kata Kepala Bapanas Amran dikutip di Jakarta pada Selasa (4/8/2026).

“Kenapa? Karena misal ini kita turunkan, petani tiba-tiba berhenti tanam karena demotivasi, karena rugi. (Kalau) petani berhenti tanam, kita (malah harus) impor seperti tahun 2023 dan 2024 (sampai) 7 juta ton. Tapi 2025 tidak ada impor medium, kita surplus,” sambung Amran.

BPS juga merilis data Nilai Tukar Petani (NTP) secara umum yang juga menorehkan 127,84 dan juga menjadi rekor tertinggi dalam 8 terakhir sejak BPS menghitung berdasarkan tahun dasar 2018. Pada Juli 2026, NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) pun meningkat paling tinggi dari 114,65 menjadi 116,16.

Kenaikan indeks NTPP sebesar 1,32 persen tersebut berasal dari naiknya indeks kelompok penyusun dari kelompok padi sebesar 0,97 Persen. Ini pun andil dari upaya pemerintah menopang harga petani melalui Perum Bulog yang telah menyerap panen petani hingga total 3,57 juta ton melalui instrumen Harga Pembelian Pemerintah (HPP) minimal di Rp 6.500 per kilogram (kg).

Lantas bagaimana kondisi harga beras di hilir? Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menerangkan bahwa pemerintah tidak henti-hentinya berupaya menjaga keseimbangan dan kewajaran harga. Ini dilaksanakan melalui berbagai program intervensi dengan menggelontorkan stok CBP.

“Gabah saat ini memang relatif sangat bagus bagi petani, tapi berdampak pada harga beras. Beras memang ada beberapa yang agak naik sedikit tapi cukup stabil. Tentu dukungan dari pemerintah tidak henti-hentinya. Jadi harga naik sedikit, tapi intervensi pemerintah terus-menerus. Ini seimbang sebenarnya,” kata Deputi Ketut.

Adapun penggelontoran CBP Januari-Juli totalnya telah mencapai 1,45 juta ton. Capaian tersebut terdiri dari realisasi penjualan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada Januari-Februari yang 221,05 ribu ton. Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai Juli tahun ini yang telah mencapai 570,79 ribu ton dan juga ditambah realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,88 ribu ton.

Ini belum termasuk rencana salur bantuan pangan beras tahap kedua sebanyak 997,2 ribu ton kepada 33,24 juta keluarga masing-masing 10 kg dengan alokasi 3 bulan. Dengan begitu, pemerintah bersama Perum Bulog nantinya dapat menyalurkan CBP hingga lebih dari 2 juta ton dari total stok saat ini yang masih ada di angka 5,25 juta ton

Hasilnya adalah tingkat inflasi beras sampai Juli 2026 masih terjaga tanpa ada gejolak berarti. Inflasi beras secara tahunan dilaporkan BPS mengalami penstabilan dari 3,98 persen ke 3,10 persen. Sementara inflasi beras secara bulanan masih cukup rendah di level 0,49 persen.

“Kondisi inflasi secara year on year, ada beberapa catatan kami komoditas yang mengalami penurunan tekanan inflasi. Beras di Juni itu inflasi 3,98 persen turun menjadi 3,10 persen. Ada beberapa komoditas yang month to month menyumbang inflasi, beras mengalami inflasi 0,49 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen,” urai Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono.

Oleh karena itu, kondisi inflasi beras tersebut senada dengan pantauan harga beras dari Bapanas. Sepanjang bulan Juli 2026, rerata harga beras premium secara nasional berada di Rp 15.972 per kg. Namun level harga ini hanya menguat 0,68 persen dibandingkan sebulan sebelumnya dan 0,54 persen dibandingkan setahun yang lalu.

Sementara, rerata harga beras medium secara nasional berada di Rp 13.564 per kg dengan rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium dari Rp 13.500 sampai 15.500 per kg. Level harga beras medium tersebut pun telah menurun 4,18 persen dibandingkan setahun lalu dan menguat tipis 0,39 persen dibandingkan sebulan sebelumnya.

Kestabilan kondisi pangan nasional juga dapat terlihat pada perkembangan inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan. Inflasi pangan secara tahunan sampai Juli 2026 menurun dari 5,58 persen menjadi 2,52 persen. Ini pun menjadi titik inflasi pangan secara tahunan yang paling rendah usai masa Ramadan dan Idulfitri tahun ini.

Untuk inflasi pangan secara bulanan justru mencatatkan minus 1,68 persen. Kondisi deflasi pangan secara bulanan ini terakhir kali terjadi di bulan April 2026 dengan 0,88 persen. Pemerintah akan terus mendorong ekosistem masing-masing komoditas agar dapat lebih mewajarkan harga mulai dari hulu, sehingga tingkat inflasi pangan dapat kembali positif.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM