BerandaParlemenNasionalis Berjiwa Santri: Adab Sonny Danaparamita di Hadapan Kiai NU dan Sinergi...

Nasionalis Berjiwa Santri: Adab Sonny Danaparamita di Hadapan Kiai NU dan Sinergi 1.000 Bibit untuk Petani

Ada pemandangan menarik saat Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, S.H., M.H., menghadiri pelantikan Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Banyuwangi di Yayasan Roudlotul Huda, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Rabu (12/8/2026).

​Setibanya di lokasi, Sonny Danaparamita dengan halus menolak tawaran panitia yang memintanya memarkir kendaraan tepat di dekat panggung acara. Ia lebih memilih turun lebih jauh dan berjalan kaki menuju majelis yang dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH. Achmad Khosim dan Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi tersebut.

- Advertisement -

​”Saya merasa kurang adab kalau mobil saya harus berhenti hanya beberapa meter dari panggung tempat para kiai duduk. Ini bentuk tawadhu’ saya. Kalau dari mobil saya tidak merangkak, tapi jalan kaki ya agar tidak kotor, karena An-Nazhafatu Minal Iman (kebersihan sebagian dari iman),” kelakar tokoh yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Alumni GMNI ini, yang disambut senyum hangat para hadirin.

​Sikap tawadhu’ (rendah hati) yang ditunjukkan politisi PDI Perjuangan ini bukanlah tanpa alasan. Meski berlatar belakang pergerakan nasionalis dan tak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren, Sonny Danaparamita menegaskan ikhtiarnya untuk terus menghidupi akhlak seorang santri.

​Ia memegang teguh definisi santri menurut KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Bagi Gus Mus, gelar santri tidak ditentukan oleh tempat seseorang belajar, melainkan dari budi pekerti dan etika Islami. Ruh seorang santri ada pada sifat tawadhu’, wasathiyah (moderat), hubbul wathon minal iman (cinta tanah air), dan thalabul ‘ilmi (pembelajar sepanjang hayat).

​Sebagai wujud nyata pembelajar sepanjang hayat, Sonny Danaparamita mengungkapkan bahwa saat ini dirinya tengah berjuang merampungkan studi S3. Baginya, ini sejalan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

​Titik Temu Marhaen dan Mustadhafin

​Dalam orasi kebangsaannya, Sonny Danaparamita juga menyoroti titik temu perjuangan antara kaum nasionalis dan Nahdliyin. Menurutnya, kedua kelompok ini disatukan oleh napas perjuangan membela rakyat kecil.

​”Kalau yang diperjuangkan di NU ini biasa disebut kaum mustadhafin (golongan yang dilemahkan), di kami mengistilahkannya kaum marhaen. Dua diksi tersebut hakikatnya memiliki makna yang sama. Menurut Bung Karno—yang oleh para ulama NU diberi gelar Waliyul Amri Ad-Dharuri bis-Syaukah—kaum marhaen pada dasarnya adalah masyarakat yang dimiskinkan oleh sistem yang menindas,” papar Sonny Danaparamita.

​Sejarah juga mencatat kedekatan erat ini. Sonny Danaparamita mengingatkan bahwa lahirnya Hari Santri Nasional tak terlepas dari inisiatif dua alumni GMNI, yakni KH. Thoriq bin Ziyad (Pengasuh Ponpes Babussalam Malang) dan Dr. Achmad Basarah (DPP PDI Perjuangan/Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI).

​Khidmah Nyata untuk Ketahanan Pangan

​Menyambung pesan Ketua Tanfidziyah PCNU H. Achmad Turmudzi yang meminta agar pengurus LPPNU—yang kini dinakhodai Muhammad Yusuf dan Syaiful Nor Hakim—rajin turba (turun ke bawah) dan mencari solusi bagi persoalan petani, Sonny Danaparamita langsung menunjukkan komitmen kerjanya.

​Melalui sinergi dengan Kementerian Kehutanan via BPDAS, Sonny Danaparamita menyalurkan 1.000 bibit tanaman produktif seperti alpukat dan durian okulasi. Sebanyak 500 bibit diserahkan dan ditanam secara simbolis siang itu, dan sisanya akan didistribusikan secara bertahap melalui LPPNU di tingkat MWC NU.

​Merespons agenda LPPNU Banyuwangi yang berencana menyalurkan bantuan tiga alat pertanian untuk MWC NU Songgon, Singojuruh, dan Kabat pada Oktober mendatang, Anggota Komisi IV ini menyatakan kesiapannya untuk terus berkolaborasi.

​”Sebagai Anggota Komisi IV DPR RI saya siap berkolaborasi penuh. Mari kita dampingi petani kita demi terwujudnya masyarakat yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, yang dalam bahasa konstitusi kita adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM