BerandaPemdaKampung Klasik IV Merjosari Dibuka, Wahyu Hidayat: Jaga Budaya di Tengah Arus...

Kampung Klasik IV Merjosari Dibuka, Wahyu Hidayat: Jaga Budaya di Tengah Arus Globalisasi

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, hadir sekaligus membuka Kampung Klasik IV bertajuk ‘Merawat Tradisi, Menghidupkan Ruang Waktu’ yang diinisiasi oleh warga RW XI Merjosari di Perumahan Villa Bukit Tidar RW XI Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Rabu (26/8/2026). Menurutnya, Kampung Klasik yang memasuki penyelenggaraan keempat ini bukan sekadar hiburan atau perayaan semata, lebih dari itu menunjukkan semangat warga dalam mengisi kemerdekaan melalui kontribusi yang positif.

Selain itu, dari agenda tahunan yang dihelat selama empat hari tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, dan memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat. Semangat inilah yang perlu terus dijaga, karena kota yang maju bukan hanya dibangun dari program pemerintah, tetapi juga dari partisipasi dan kepedulian warganya.

- Advertisement -

“Ketika masyarakat bergerak, berkarya, dan saling menguatkan, maka akan lahir lingkungan yang semakin rukun, harmonis, dan nyaman untuk kita tempati bersama,” tutur orang nomor satu di jajaran Pemkot Malang itu.

Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi, Wali Kota Malang menyebutkan bahwa tantangan bukan hanya tentang bagaimana terus maju dan berinovasi, tetapi juga bagaimana tetap menjaga jati diri. “Kemajuan tidak berarti kita harus meninggalkan budaya dan nilai-nilai yang menjadi akar kehidupan masyarakat kita,” tambahnya.

Lebih lanjut, pria yang kerap disapa Pak Mbois itu menegaskan budaya lokal harus diuri-uri dan diperkenalkan kepada generasi muda dengan cara yang beragam mengikuti perkembangan zaman. Tidak harus selalu dalam bentuk yang formal, tetapi bisa melalui kegiatan yang kreatif, menarik, dan dekat dengan masyarakat.

“Salah satunya seperti Kampung Klasik yang digagas oleh warga RW XI ini, saya melihat kegiatan ini bukan sekadar menampilkan unsur-unsur budaya klasik. Lebih dari itu, ini adalah wujud gotong royong dan kreativitas warga dalam menjaga kekayaan budaya, sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkarya, berekspresi, dan memperkuat silaturahmi,” beber Wahyu.

Ia berpesan, di era digital seperti sekarang, jangan sampai teknologi hanya menjadi jalan masuknya budaya dari luar, tetapi justru harus dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.

Dengan begitu, budaya lokal tidak hanya tetap terjaga, tetapi juga bisa terus hidup, berkembang, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu, Wali Kota Malang pun berharap Kampung Klasik ini bisa terus dijaga dan dikembangkan. Bukan hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi menjadi tradisi baik yang terus melibatkan warga dan generasi muda.

“Jadi banyak generasi muda kita yang mengenal, mencintai, dan bangga terhadap budayanya sendiri. Dan yang paling penting, mari kita buktikan bahwa menjaga budaya tidak berarti menolak kemajuan. Kita bisa tetap modern, tetap kreatif, tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman, namun tetap berakar pada jati diri dan kekayaan budaya kita. inilah yang akan menjadi kekuatan kita dalam membangun Kota Malang yang semakin maju, kreatif, dan berkarakter,” pungkas Wahyu.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM